Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Wonogiri

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Wonogiri – Wonogiri memiliki banyak sekali tempat wisata. Salah satu wisata yang banyak sekali diminati adalah wisata religi atau wisata spiritual. Kabupaten Wonogiri memang memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius, mencari asal usul garis keturunan dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang ada berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kabupaten Wonogiri dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.

petilasan masjid tiban wonokerso di wonogiri

petilasan masjid tiban wonokerso di wonogiri

Berikut ini daftar lengkap Makam tempat ziarah di Wonogiri :

  1. Masjid Tiban Wonokerso

Alamat : Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri

Masjid Tiban, menjadi bangunan masjid tertua di Kabupaten Wonogiri. Letaknya sekitar 40 kilometer arah selatan ibukota Kabupaten Wonogiri. Masjid yang didirikan para wali ini, keberadaannya diyakini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak. Sebab, lebih  dulu ada sebelum masjid legendaris karya para wali di Demak dibangun.

Konon, Masjid Tiban Wonokerso, dijadikan maket sebelum menentukan bentuk, wujud, dan prototipe bangunan Majid Agung Demak. Dalam buku Sekitar Wali Sanga, karya Solichin Salam (penerbit Menara Kudus), ada beberapa versi tentang tanggal dan tahun pendirian Masjid Demak. Ada yang menyakini dibangun Kamis Kliwon malam Jumat Legi tanggal 1 Dulqoidah tahun Jawa 1428.

Versi lain menyebutkan, dibangun tahun Saka 1388 sesuai dengan candrasengkala ‘Naga Salira Wani’, serta sesuai gambar petir di pintu tengahnya. Pendapat lain menyebutkan, itu didirikan pada tahun Saka 1410, berdasarkan gambar bulus di dalam masjid.

Jauh waktu sebelum pendirian Masjid Demak, Masjid Tiban Wonokerso telah lebih dulu ada. Menurut legenda, masjid itu ditemukan pertama kali oleh Ki Ageng Tugu (Tuhu) Wono, tatkala membuka rimba di wilayah Sembuyan (Wonogiri selatan), untuk dijadikan tanah perdikan.

Waktu itu, Kiai Ageng Tuhu Wono, dibantu Kia Ageng Serang dan Kiai Gozali, beserta para pengikutnya. Betapa takjub, ketika membuka rimba Sembuyan, ditemukan masjid model rumah panggung terbuat dari kayu jati. Penemuan yang tiba-tiba ini, menjadikan masjid itu kemudian dinamakan Masjid Tiban (tiba-tiba ada).

Pembangun Masjid Tiban Wonokerso

Siapa yang membangun? Menurut legenda dan mitos yang di masyarakat masjid itu dibangun oleh para wali, tatkala mengembara dalam rangka melaksanakan tugas Raja Demak Bintoro, untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru (tiang induk) Masjid Agung Demak. Konon, para wali singgah di rimba Sembuyan dan sempat membuat masjid itu.

Namun ketika di rimba Sembuyan tak ditemukan kayu jati pilihan, para wali meneruskan perjalanannya menuju ke wilayah Keduwang dan menemukan hutan jati Donoloyo atau Alas Donoloyo, yang pohonnya dinilai layak dipakai untuk membangun masjid Demak. Sejak ditinggalkan, lambat laun masjid tiban ditelan rimba Sembuyan, dan baru ditemukan lagi oleh Ki Ageng Tuhu Wono.

Dalam perkembangannya, Keraton Surakarta ikut memperhatikan keberadaan Masjid Tiban. Raja Paku Buwono, menugasi ulama Imam Muhamad untuk mengurus Masjid Tiban dan sekaligus menjadi imam. Dulu, keraton peduli memberikan bantuan dana pembelian minyak tanah untuk lampu penerangan masjid, dan membebaskan warga ‘mutihan’ (Islam) setempat dari pungutan pajak. Mencermati keberadaannya, Masjid Tiban diyakini sebagai pusat  penyebaran Islam pertama di Wonogiri.

Berbicara masjid, masjid yang pertama kali dibangun di dunia adalah Masjidil Haram. Dibangun oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar, pada sekitar 4.515 tahun yang lampau. Masjid kedua, adalah Masjidil Aqsa (Palestina), dibangun oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Masjid ketiga, Masjid Quba’ dibangun Rasulullah Muhamad SAW, bersama para pengikutnya saat hijrah ke Yatsrib (Madinah). Setelah itu, menyusul dibangun Masjid Nabawiy. Pendirian masjid, kemudian banyak bermunculan di berbagai tempat, menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia.

  1. Rumah Tiban Persinggahan Raden Mas Sahid / Pangeran Samber Nyowo

Alamat : Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri

Berikut ini adalah penggalan tulisan dalam bahasa jawa yang ada di rumah tiban bekas raden mas sahid di Girimarto

“Sak bibaripun payudan ing simo ing dinten seloso kliwon 28 dulkaidah wawu tahun 1681 , ingkang ing payudan punika wadya bala mangkunegaran kinarubut dineng kumpeni wadya kasultanan ngayogyakarta tuwin kasunan surakarta , pangeran adipati lajeng angoncati paperangan sak sampunipun campuh sak watawis wekdal, hamargi pancen karoban ing mengsah paperangan lajeng wangsul dados perang wewelut an ( gerilya ) maleh, ubeng ubengan wonten ing tlatah surakarta, perang wewelutan mekaten punika ngatos 2 wulan laminipun saking wulan besar 1681 dumugi sura 1682 , pn adi pati sawadyabala lajeng lerem wonten ing bubakan, pihak kumpeni lajeng ndatengaken bala bantuan malih, saking jawi wetan , saha lajeng mbagun pa bitingan ung pundi pundi…”

Sejarah singkat tentang rumah tiban pangeran sambernyowo di girimarto

Rumah tiban adalah bekas rumah atau bekas tempat pesinggahan raden samber nyowo atau yang lebih dikenal RADEN MAS SAHID,rumah tersebut adalah rumah yang di keramatkan oleh penduduk bubakan, atapnya di lapisi rumput sejenis alang-alang yang sudah kering. Rumah tiban ini sendiri berada tepat di Desa Bubakan RT 1, RW 1 kecamatan girimarto kabupaten Wonogiri Jawa tengah. Di depan rumah tiban itu berdiri 2 pohon beringin tua yang sangat besar yang konon apabila ditebang pohon itu akan menimbulkan sebuah mala petaka bagi desa bubakan.

Pada jaman penjajahan belanda raden mas sahid adalah salah satu buronan pasukan beanda. Suatu ketika beliau lari dari daerah Surakarta ke arah utara. Dan tibalah raden mas sahid di sebuah hutan yang di sebut hutan bubakan yang sekarang telah menjadi desa bubakan. Sebelumnya ketika malam belum ada sebuah rumah, tetapi ketika pagi hari di tempat raden mas sahid singgah telah berdiri sebuah bangaunan. Dan bangunan itulah yang dinamakan rumah tiban (rumah yang muncul secara tiba-tiba).

Mbah Guman bersama istrinya mbok Tarni atau yang juga di panggil mbok Guman menjadi generasi juru kunci yang ke tiga. Setelah generasi yang ke dua Sono Rejo (Ayahnya) yang telah meninggal di usia 85 tahun. Mbah Guman kini meneruskan perjuangan ayahnya sebagai juru kunci gubuk tiban. Mbah Guman memiliki tiga orang anak, yakni: Triyadi, Budi dan Suranto. Triyadi saat ini juga menjadi tukang kebun di gubuk tiban. Pada Jaman dulu gubuk tiban masih berupa gedek sesek pring dengan atap daun alang- alang. Kini gubuk tiban sudah dibangun layaknya rumah, tapi juga masih beratap daun alang-alang dan yang bagian bawah sudah di ganti genteng.

Gubuk tiban adalah rumah yang dikeramatkan di Daerah Bubakan. Di dalam gubuk tiban terdapat 4 tiang rumah yang sama sekali belum pernah diganti, berupa kayu ukiran berwarna kehitaman. Menurut cerita mbah Guman dan mbok Tarni bahwa gubuk tiban ini adalah petilasan atau tempat pesanggrahan (tempat singgah) dari Raden Mas Said (Pangeran Samber Nyowo) saat memerangi penjajahan Belanda. Gubuk tiban yang berada di Desa Bubakan Kecamatan Girimarto ini masih kerap di kunjungi peziarah dari luar kota meskipun tidak seramai dulu.Keberadaan gubuk tiban ini masih terawat dan masih di lestarikan.

  1. Petilasan Sunan Giri di Gunung Giri

Alamat : Kompleks Alas Kethu, Dusun Seneng, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri

Tak banyak orang mengetahui, Wonogiri sebenarnya menjadi rute penyebaran Agama Islam di pulau Jawa. Saat itu penyebaran agama dilakukan oleh wali songo. Jejak rute wali songo dalam menyebarkan agama juga melintas di Wonogiri, yakni Sunan Giri atau dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Giri yang makamnya diketahui berada di Gresik, Jawa Timur.

Jejak perjuangan Sunan Gunung Giri itu bisa dilihat dari keberadaan petilasan yang berada di Lingkungan Seneng, Kelurahan Giriwono, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri. Lokasi petilasan masuk dalam kompleks permakaman keluarga besar Raja Mangkunegara, Solo. Petilasan Sunan Gunung Giri yang berupa batu besar itu disendirikan dan dibuat rumah dengan pintu masuk yang dikunci. Karenanya, petilasan itu ada juru kunci yang sudah turun-temurun.

Mulai dari juru kunci Mbah Kartosentono mewariskan kepada Mbah Sutotaruna dan sekarang juru kunci petilasan itu dipegang oleh generasi ketiganya, Suwar, 72. Di sekitar bangunan petilasan terdapat makam orang lain. Ada juga makam pejuang kemerdekaan karena di atas nisan terdapat bambu runcing dan bendera merah putih. Di sekeliling permakaman tumbuh pohon jati dengan diameter lebih dari satu meter.

“Cerita dari juru kunci lama, petilasan Gunung Giri ini merupakan petilasan sunan yang dimakamkan di Gresik,” ujar juru kunci petilasan, Suwar. Karena letaknya yang berada di bukit, lokasi itu diberi nama Gunung Giri sesuai dengan keberadaan sunan yang datang ke lokasi tersebut. Petilasan Sunan Gunung Giri berupa batu yang diyakini tempat salat sunan saat itu. Suwar menjelaskan, petilasan yang ada di ruangan adalah sebuah batu yang konon dipercaya sebagai tempat salat Sunan Gunung Giri karena terdapat telapak kaki.

Suwar menyatakan, keberadaan petilasan Gunung Giri tak terlepas dari perilaku tirakat Sunang Giri ketika diutus mencari tiang penyangga pembangunan masjid Demak. “Waktu Sunan Giri menggembara sampai hutan Donoloyo, Slogohimo bertemu dengan pemilik hutan kala itu yakni Kiai Donosari dan singgah di Gunung Giri untuk beribadah.” Informasi lain yang berkembang, Sunan Gunung Giri singgah di bukit itu karena sembari menunggu kayu jati yang dialirkan dari Sungai Keduwang.

  1. Makam Bupati Pertama Wonogiri

Alamat : Dusun Dringo, Kelurahan Wonoharjo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri

Wilayah Wonogiri merupakan daerah Kawedanan (onderregent) dibawah Praja Mangkunegaran, yang dipimpin oleh seseorang dengan jabatan sebagai Wedono Gunung. Organisasi pemerintahan pada saat itu masih sangat sederhana, dengan titik berat bidang pemerintahan hanya dua urusan yaitu urusan dalam (reh jero) dan urusan luar (reh njobo).

Wedono Gunung Wonogiri

Jabatan Wedono Gunung Wonogiri pertama dijabat oleh Raden Ngabei Joyosudarso, sejak tahun 1847. Makam Wedono Gunung pertama ini terdapat di Dusun Ambarwangi, Desa Wonoharjo, Kecamatan Nguntoronadi. Pada tahun 1875, atas permohonan R. Ng. Joyosudarso, Kawedanan Gunung  Wonogiri dipecah menjadi dua yaitu Kawedanan Gunung Wonogiri dan Kawedanan Gunung Baturetno. Kawedanan Gunung Wonogiri meliputi wilayah Keduang, Honggobayan, dan Nglaroh, dengan jabatan Wedono Gunung yang dipegang oleh Raden Ngabei Djoyosaronto (putra tertua R. Ngabei Joyosudarso). Kawedanan Gunung Baturetno meliputi wilayah Wiroko, Sembuyan, dan Ngawen dengan jabatan Wedono Gunung yang dipegang oleh Raden Ngabei Djoyohandojo (Putra kedua R. Ng. Joyosudarso).

Pada tahun 1892, terjadi penghapusan wilayah Kawedanan Gunung Baturetno dan digabungkan kembali dengan Kawedanan Gunung Wonogiri. Pejabat Wedono Gunung dipegang oleh Raden Mas Ngabei Tjitrodipuro hingga tahun 1900. Hingga pada tahun 1903, terjadi penghapusan jabatan Panekaring Wedono Gunung. RM. Ng. Tjitrodipuro sendiri kemudian diangkat sebagai Bupati Patih di Praja Mangkunegaran dan berganti nama Raden Mas Ngabei Brotodipuro. Jabatan yang ditinggalkannya diganti oleh  Raden Mas Ngabei Haryokusumo (Eyang dari Ibu Tien Soeharto) sampai tahun 1916. Kemudian jabatan Wedono Gunung Wonogiri dipegang oleh Raden Mas Tumenggung Warso Adiningrat.

Pada tahun 1917, ada peristiwa penting yaitu Tetedakan KGPAA Mangkunegara VII yang diumumkan pada tanggal 19 Nopember 1917, yaitu berubahnya status wilayah Wonogiri yang semula Kawedanan Gunung menjadi Kabupaten yang dikepalai oleh seseorang oleh seorang Bupati yang menyandang gelar Tumenggung. KGPAA Mangkunegara VII kemudian mengangkat Raden Mas Tumenggung Warso Adiningrat sebagai Bupati Wonogiri. Sehingga beliau merupakan Bupati Wonogiri pertama dengan gelar Tumenggung. Akibat perubahan status ini, wilayah Wonogiri pun dibagi menjadi 5 Kawedanan yaitu Kawedanan Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, Jatisrono dan Purwantoro.

 

Bupati Wonogiri :

Sebelum masa kemerdekaan :

  1. Kanjeng Raden Mas Tumenggung Warso Adiningrat;
  2. Mas Tumenggung Warsodingrat;
  3. Raden Ngabei Joyowirono;
  4. Kanjeng Raden Tumenggung Harjowiratmo;

 

Setelah masa kemerdekaan :

Seiring dengan peristiwa kemerdekaan, Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sampai tahun 1946 di wilayah Mangkunegaran terjadi dualisme pemerintahan, yaitu Kabupaten Wonogiri masih dalam wilayah monarki Praja Mangkunegaran dan di lain pihak menginginkan Kabupaten Wonogiri masuk dalam sistem demokrasi Republik Indonesia. Timbulah gerakan Anti Swapraja yang menginginkan Wonogiri keluar dari sistem kerajaan Mangkunegaran. Akhirnya disepakati bahwa Kabupaten Wonogiri tidak menghendaki kembalinya Swapraja Mangkunegaran. Sejak saat itu Kabupaten Wonogiri mempunyai status seperti sekarang, dan masuk sebagai Kabupaten yang berada diwilayah Provinsi Jawa Tengah.

  1. Bumi Kahyangan Petilasan Panembahan Senopati

Alamat : Desa Dlepih, Kelurahan Wiroko, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri

Wonogiri kaya akan wisata ritual, karena menurut sejarahnya wonogiri didirikan oleh RM. Said (Pangeran Sambernyowo/Mangkunegoro I). Salah satu petilasan RM.Said adalah Dlepih / Khayangan yang terletak di Kecamatan Tirtomoyo kurang lebih 25 Km arak ke selatan Kota Wonogiri, sebagai wisata ritual banyak dikunjungi orang untuk meditasi dan ngalab berkah pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon.[1] Kahyangan Dlepih berada di wilayah Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Kawasan ini memang memiliki pemandangan yang indah, dengan sungainya yang berada di tengah-tengah dua sudut pegunungan, dengan air yang mengalir tampak begitu jernih, belum lagi dengan hawa yang sejuk karena merupakan hutan alam. Tidaklah berlebihan apabila di musim kemarau, suara gemericik airnya karena adanya batuan-batuan di sepanjang sungai ditambah lagi dengan kicauan burung.

Dengan suasana yang sedemikian ini, tidaklah mustahil apabila Khayangan Dlepih menyimpan cerita mistis, namun justru hingga saat ini masih banyak juga yang memanfaatkan untuk napak tilas atau untuk mendapatkan “wangsit”. Wilayah Kahyangan dimulai dari Gapura Masuk Kahyangan. Di dalam kawasan ini pengunjung dilarang memakai pakaian berwarna Hijau Pupus.

 

Bagian-Bagian di Kahyangan Dlepih

Adapun tempat- tempat yang mempunyai nilai sejarah atau cerita di kawasan kahyangan Dlepih, mulai dari utara hingga selatan, yaitu sebagai berikut:

  1. Sela Betek
  2. Sela Gapit/ Penangkep
  3. Sela Payung
  4. Sela Gilang/ Pesalatan
  5. Sela Gowok
  6. Pemandian Kahyangan (Kedung= pertemuan 2 arus sungai)

Tempat- tempat tersebut memang mempunyai cerita tersendiri, karena konon setiap para pendahulu yang memanfaatkannya untuk bermeditasi untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya menjadi pemimpin, mendapatkan pekerjaan, dan lain- lain.

Sejarah Kahyangan

Pada waktu panembahan Senopati berada di Mataram, dan kedudukanya digantikan oleh ayahnya, KI Ageng Pemanahan atas kekuaasan Sultan Pajang, kejadian inilah yang menjadikanrasa gemetar Panembahan Senopati untuk menguasai Raja Mataram. Karena niat yang begitu kukuh, maka Panembahan Senopati pergi ke Kahyangan Dlepih untuk bertapa supaya keinginannya tercapai.

Setelah sekian lama, Panembahan Senopati bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul (makhluk halus ratu selatan) yang dimitoskan kerajaanya berada di laut selatan. Peretemuan ini berlangsung berkali- kali. Seperti layaknya pertemuan dua insan lain jenis yang sedang bercinta, dan akhirnya Kanjeng Ratu Kidul diperistri oleh Panembahan Senopati. Selain Kanjeng Ratu Kidul menaruh sayang kepada Panembahan Senopati, ia juga telah banyak memberikan dorongan positif atas maksud-maksud Panembahan Senopati untuk dapat mewujudkan cita-citanya menduduki Kraton Mataram Yogyakarta. Keinginan tersebut terkabul seteah bertapa di Kahyangan.

Karana kesungguhanya dalam bertapa. Maka tidak pernah lupa menjalankan kwajibanya sebagai orang muslim untuk menjalankan shalat lima waktu, disamping bermiditasi setiap hari. Apabila pada suatu saat Panembahan Senopati melakukan dzikir atau bermiditasi di Selo Payung, ia merasakan seperti berada disebuah “Sanggar Pamelangan”.

Panembahan Senopati bukan hanya bertapa di Selo Payung saja. Tetapi sedang berdzikir ia kadang kala juga di Selo Gowok, dan ditempat khusus untuk melakukan sembahyang 5 waktu, mengambil di tempat di Sela Gilang yang lokasinya berada arah atas pesiraman/ pemandian.Di tempat pemandian inilah Kanjeng Ratu Kidul beserta kerabatnya mandi. Suasana semacam ini yang menjadikan Kanjeng Ratu Kidul menarruh hati pada Panembahan Senopati.

loading...

Lama- kelamaan Panembahan. Senopati merasa semakin mantap dalam mealkukan petapan di Kahyangan ini yang disuatu tempat pula ia juga membangun kasih dengan Kanjeng Ratu Kidul, walaupun keduanya beda dunia. Dikawasan Kahyangan Dlepih, pada saat yang bersamaan hiduplah sepasang suami istri. Dan wanita tersebut bernama Nyai Puju atau yang sering disebut Huju. Setiap hari Nyai Puju ini pekerjaanya pergi ke hutan Kahyangan guna mencari daun Puju, dll, disamping untuk keperluan sendiri daun tersebut untuk dijual sebagai penghasilan keluarga. Karena setiap hari pekerjaanya Nyai Puju ini keluar masuk hutan Kahyangan, lama- kelamaan sampai ia melihat Panembahan. Senopati. Karena setiap saat Pn. Senopati melepas lelah di pemandian Kahyangan maupun di Sela Gilang. Panembahan. Senopati memiliki wajah yang tampan, maka kelamaan Nyai Puju menaruh hati kepada Panembahan. Senopati. Hal ini ditandai oleh Nyai Puju yang setiap ke hutan tentu berkeliaran di dekat Panembahan. Senopati. Karenanya Nyai Puju Berangkat di Pagi buta dan pulang sudah larut malam.

Dengan niat yang sungguh-sungguh, lama-kelamaan Nyai Puju akhirnya dapat menjumpai Panembahan. Senopati, dan sudah barang tentu senang bagi Nayi Puju, apalagi Panembahan. Senopati namapak begitu gembira setelah berkenalan dengan Nyai Puju, meski orang desa tapi wajahnya cukup lumayan. Karena keduanya berkali- kali bahkan hampir tiap hari bertemu.

Kejadian yang berlanjut- lanjut ini membuat suaminya curiga. Dimana Kyai Puju (suami Nyai Puju) mulai kurang percaya lagi terhadap istrinya. Pada suatu hari, Kj Ratu Kidul datang di Kahyangan untuk menjumpai Panembahan. Senopati, dan saat yang bersamaan Nyai puju ingin menjumpai Panembahan. Senopati juga. Dan apa mau dikata waktu itu Panembahan. Senopati sedang berjumpaan dengan Kj. Ratu Kidul dengan mengelus-elus tasbih yang terurai di leher Panembahan Senopati, melihat kejadian tersebut Nyai Puju melihat kejadian tersebut, kejadian tersebut membuat cemburu Nyai Puju, dan seketika Nyai Puju langsung kembali kerumahnya menyusuri semak belukar. Kebetulan juga Kyai Puju bermaksud mencari istrinya karena sudah larut malam. Dari celah- celah semak ia melihat pertemuan antara Panembahan. Senopati dengan Kj. Ratu Kidul, tanpa disengaja Kj Ratu Kidul melihat Kyai Puju.

Sangking terkejutnya, Kj Ratu Kidul spontan berkata kepada Panembahan. Senopati bahwa ada yang melihat pertemuan tersebut. Dan Kyai Puju ketakutan dan langsug bergegas pulang. Kj Ratu Kidul menarik tasbih Panembahan. Senopati yang ada di lehernya, dan tasbih tersebut putus dan manik-maniknya berjatuhan di sungai yang berada di sebelah bawah Sela Gilang. Lalu Kanjeng Ratu Kidul mengajak Panembahan Senopati kembali ke Mataram.

Batu manik- manik yang berjatuhan tersebut konon membawa berkah yaitu berwujud batu akik yang berlubang ditengahnya. Sesaat sebelum berangkat, Ratu Kidul memanggil pembantunya bernama Nyai Widaynangga (Makhluk halus) untuk tinggal disini untuk menjaga kawasan Kahyangan, yang berarti ia menjadi pemimpin segenap makhluk halus di kawasan tersebut. Batu- batu akik yang berjatuhan di Kedung Pesiraman tadi harus ia jaga. Dan Kanjeng Ratu Kidul Juga bersabda bahawa barang siapa yang menemukan atau mengambil, membawa batu akik tersebut akan mendapatkan keselamatan, keteguhan, kebahagiaan dsb.

Sebenarnya sebelum kedatanga Ratu kidul, Panembahan Senopati telah menerima ilham dari Yang Kuasa, bahwa ia telah diijinkan permohonannya setelah bertapa di Kahyangan, yaitu menjadi Raja Mataram. Disamping itu seperti pernah diutarakan, bahwa apabila Sinuhun Sultan Pajang telah tiada, maka untuk menundukan Kraton Pajang tidak perlu lagi degan pertumpahan darah. Pada suatu hari Panembahan. Senopati mengutus seorang kurirnya untuk ke Kahyangan untukmencari Nyai Puju beserta Kyai Puju, agar segera datang ke Mataram. Hal ini dikarenakan stelah Panembahan Senopati menjadi Sultan Mataram, selalu ingan dengan Nyai Puju. Namun ditengah perjalanan sebelum sampai Mataram Kyai Puju agar dibunuh, karena ia mempunyai kesalahan ketika ia mencemburui ketika melihat istrinya berselingkuh dengan Panembahan. Senopati. Kyai Puju dibunuh setibanya di daerah Jatibedug, segeralah mayatnya dikubur dipinggir jalan dengan undukan bebatuan ditepi jalan besar, sedangkan Nyai Puju terus saja dibawa ke Mataram.

Setibanya di Kraton Mataram, Nayai Puju menerima hadiah yang bermacam- macam dari Panembahan. Senopati. Disamping itu Panembahan. Senopati juga berpesan kepada Nyai Puju Agar menjaga kawasan Kahyangan Dlepih. Dengan gembira setelah menerima hadiah dari Panembahan. Senopati, maka disuatu malam Nyai Puju kembali ke Kahyangan untuk melaksanakan semua dawuh Panembahan. Senopati, mengingat Kahyangan merupakan daerah yang dikuasai Mataram.

Nyai Puju semakin tua dan meninggal dunia. Sebagai sesepuh di desa Dlepih, maka mayatnya disebuah makam desa Dlepih selatan Khayangan. Adapaun Sukmanya menempati Sela Bethek seperti yang diminta Panembahan. Senopati.

Misteri yang ada di Kahyangan

  1. Batu-batu akik dari tasbihnya Panembahan. Senopati ketika tercecer masuk ke Pemandian.
  2. Batu- batu akik yang tak teerhitung jumlahnya di sepanjang sungai. Kebanyakan batu akik tersebut agak bundar, dan adabatu yang dipakai Panembahan. Senopati untuk menggosok tubuh Panembahan. Senopati ketika mandi.
  3. Sela Betehek
  4. Sendang Siwani Petilasan Pangeran Sambernyowo

Alamat : Dusun Matah, Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri

Banyak sendang keramat yang semuanya memiliki cerita tersendiri. Satu di antaranya Sendang Siwani di Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Dahulu kala sendang itu diyakini sebagai sumber kekuatan bagi Raden Mas Said beserta para prajuritnya saat berperang gerilnya melawan penjajah Belanda.Menurut penuturan Bapak Demang Supardi Juru Kunci Sendang Siwani, bahwa suatu saat Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa mengalami kekalahan ketika perang melawan VOC. Dia bersama pasukannya bersembunyi di suatu tempat di dekat sebuah sumber air. Ketika dia sedang samadi, pada saat yang sama ada dua ekor kerbau jantan sedang berkelahi, seekor kerbau muda melawan seekor kerbau besar dan kekar.

Kerbau yang muda kalah berkelahi sampai tanduknya sengkleh (rusak) satu dan kemudian berlari menuju ke sumber air yang ada di dekat Raden Mas Said dan meminumnya. Setelah minum air sumber tadi sang kerbau muda yang kalah menjadi berani dan berkelahi lagi dengan kerbau jantan yang lebih besar tadi. Akhirnya kerbau muda tadi menang dan mengejar kerbau yang lebih besar tadi melarikan diri sampai terbirit-birit. Mengamati hal tersebut, Raden Mas Sahid merenung dan mendapatkan cara untuk membangkitkan kembali semangat anak buahnya.

Peristiwa yang disaksikan tadi diceritakan kepada anak buahnya, dan dikatakan bahwa kalau meminum air tersebut akan timbul keberanian lagi dan bisa menang melawan kompeni (VOC). Kemudian Raden Mas Said dan seluruh anak buahnya meminum air dari sumber air tersebut, semangat dan keberanian tumbuh lagi untuk berperang melawan kompeni. Raden Mas Sahid dan anak buahnya menyusun strategi untuk mengalahkan Kompeni. Kemudian terjadilah perang antara pasukan Raden Mas Sahid dengan tentara VOC. VOC kalah dan melarikan diri dikejar oleh pasukan Raden Mas Sahid. Sejak itulah sumber air tersebut diberi nama SENDANG SIWANI.

  1. Sendang Sinangka Petilasan Pangeran Sambernyowo

Alamat : Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri

Sendang Sinangka yang berlokasi di timur laut Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Merupakan pelindung bagi kawula alit (Rakyat kecil) yang hidupnya tertindas. Untuk itu jika peziarah membasuh muka dengan air sendang, dipercaya akan awet muda dan hidupnya kembali bergairah dalam menatap masa depan. Hal ini diutarakan, Mulyanto Skar, ketua Paguyuban Sendang Sinongko kepada MR belum lama ini. Sendang tersebut berjarak 2 kilometer dari pasar Krisak, arah ke selatan. Kalau menempuh perjalanan dengan memakai sepeda motor atau mobil, kurang lebih memakan waktu 5 menit. Diyakini, begitu orang sampai disana akan dirasakan suasana begitu damai, tentram dan teduh ,karena memang tempat tersebut penuh pepohonan, pohon beringin pohon duwet dan juga pohon bulu yang begitu rindang mengayomi tempat itu.

Sendang Sinagka merupakan nama yang di berikan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa pendiri dinasti mangkunegaran yang bergelar KGPAA Mangkunegara I. Dikisahkan, konon pada sekitar abad 16 RM Said yang tidak bisa menerima perlakuan semena-mena dari penguasa kerajaan Kartasura, yang tidak lain pamanya sendiri Pakoe Boeno II.  Dimana Dia bersama adiknya RM Ambiya dan RM Sabar diberlakukan tidak adil dan teraniaya haknya sebagai seorang pangeran (cucu seorang raja). Bukan itu saja, pemerintahan Kartasura dianggap sudah menyimpang dari prinsip hangayomi, hangayemi dan hanguripi kawaula alit atau tidak bisa mengayomi rakyatnya.

Setelah PB I bekerja sama dengan kolonialis Belanda, maka Raden Mas Said terdorong gejolak hati nurani yang kuat, untuk membela rakyat kecil. Dengan demikian ia bersama pengikut setianya Raden Ngabei Kundonowarso dan Ronggo Penambang serta pendereknya yang berjumlah 40 orang yang dinamai punggawa baku 40 jaya, melarikan diri dari kerajaan. Dengan tujuan menghimpun kekuatan di wilayah Nglaroh, Wonogiri. ditempat itulah yang digunakan untuk menghimpun kekuatan maupun laku spiritual. Antara lain di Sendang Sitretes Keloran , Sendang Sinagka Keloran, Sendang Silanang Sendang Siwani dan Sendang Pancuaran(buku babad penambangan. Dibalik nama Sendang Sinagka ada kisah yang melatar belakangi nama tersebut.

Konon saat menginjakan kaki di tempat itu, RM Said beserta pengikutnya yang baru turun dari goa Sitretes, merasakan lapar dan dahaga yang luar biasa. Tanpa di sangka ditepi sebuah sendang(danau kecil) ada buah nagka yang tergeletak dengan aroma harum menyengat. Setelah dipegang, ternyata buah tersebut sudah masak RM Said alias Pangeran Samber Nyawa beserta pengikutnya semakin penasaran ingin segera memakan buah tersebut.  Tetapi buah nangka tersebut tidak bisa di belah dengan senjata apapun. Untuk itu dengan kekuatan spiritualnya Pangeran Samber Nyawa memohon petunjuk Illahi. Ia segera mengambil air wudhu dan sembahyang. Sejenak kemudian,ia mendapat petunjuk dari Tuhan, dimana nagka tersebut bisa di belah dengan senjata, asalkan senjatanaya diasah dulu dengan sebuah batu yang terletak tidak begitu jauh dari tempat tersebut.

Benar yang terjadi, setelah senjata ditajamkan dibatu besar , nangka bisa dibelah dan dimakan Pangeran Samber Nyawa beserta pengikutnya. Sehingga sampai sekarang batu itu dinamakan Watu Kosek(batu pengasah)dan tempat tersebut dinamakan Sendang Sinangka. Berbulan-bulan RM Said bertafakur di Sendang Sinagka, karena di tempat tersebut ia menemukan ketentraman hati dan juga watu kosek tersebut mempunyai aura ( kekuatan gaib. Selanjutnya, setiap senjata yang diasah di tempat tersebut akan luar biasa kekuatanya, bahkan tidak hanya mempertajam senjata, tapi juga mempertajam filling dan sampai sekarang banyak pelajar, mahasiswa, maupun pejabat yang berziarah ke watu kosek di area sendang sinangka.

RM Said kalau siang menggembleng prajuritnya dengan ilmu kanuragan, kalau malam bermunajab kehadirat Tuhan untuk memohon keadilan untuk rakyat dan juga hak-haknya sebagai seorang pangeran. Akhirnya pada suatu malam RM Said mendapat Ilham(petunjuk Tuhan), semua keinginannya akan tercpai, meskipun melalui perjuangan yang panjang melawan pamanya sendiri(Pakoe Boewono II) yang sudah memindahkan pusat pemerintahanya dari Kartasura ke surakarta yang dibantu oleh tentara Belanda. Di Sendang Sinangka, RM Said merasakan kedamaian dan setiap mendapatkan problema selalu bertafakur ditempat tersebut untuk mencari petunjuk jalan keluarnya. Dengan begitu sampai sekarang Sendang Sinangka banyak dikunjungi para peziarah terutama pada malam Selasa Kliwon dan malam Jum’at. Mereka kebanyakkan bermunajad kepada Allah SWT untuk mencari petunjuk ketentraman keluarga, bahkan ada yang mengatakan sendang itu spesial bagi para calon kepala desa, bupati bahkan gubenur.

Untuk memperoleh kedudukan yang dicita-citakan, tetapi juga dipercaya air sendang untuk mnyembuhkan berbagai penyakit, penglaris dan untuk siraman penganten agar keluarga yang dibina menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia dunia akirat. Hampir semua problem keluarga dapat di pecahkan dengan jalan memohon kepada Allah SWT di sendang sinangka itu.

  1. Makam Raden Ayu Matah Ati (Istri Pangeran Samber Nyowo)

Alamat : Komplek Astana Gunung Wijil, Dusun Karangtengah, Desa Jaten, Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Raden Ayu Matah Ati adalah seorang perempuan Desa yang benama asli Rubiah, kemudian bergelar Roro, setelah dinikahi oleh seorang raja diberi gelar Bandoro Raden Ayu Roro Matah Hati. Rubiah adalah anak kandung Kiai Hasan Nuriman. Hasan Nuriman adalah guru KGAP ke I Surakarta, dan juga mertua dari KGPA ke I Surakarta. Rubiah dinikahi oleh Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Samber Nyawa. Bandoro Raden Ayu Roro Matah Hati meninggal dunia dan dimakamkan sekitar tahun 1814 Masehi, karena sakit. Jenasahnya dimakamkan di Makam-makam keluarga Mangkunegaran di Gunung Wijil Kecamatan Selogiri. Berjarak sekira 1 Km ke arah barat dari Kecamatan Selogiri.

pertemuan RM Said dan Rubiyah kali pertama terjadi pada acara pertunjukan wayang di Kampung Bantengan di timur Gunung Wijil, tak jauh di sebelah utara Dusun Puh Kuning. Kampung Bantengan sekarang masuk wilayah Kelurahan Kaliancar.

Saat menonton pertunjukan wayang itu, RM Said atau Pangeran Sambernyawa melihat seorang perempuan cantik jelita dengan wajah yang bersinar namun ada bagian yang sobek pada tepi kainnya. Penasaran, Pangeran Sambernyawa kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mencari perempuan dengan penanda tersebut dengan maksud hendak dijadikan istri. Perempuan itu akhirnya ditemukan dan ternyata merupakan puteri dari Kyai Kasanuriman. Setelah menemukan bahwa perempuan cantik itu ternyata adalah puteri Kyai Kasanuriman, RM Said kemudian meminta izin menikahinya. Setelah menikah, digantilah nama perempuan yang tadinya Rubiyah itu menjadi Raden Ayu Patah Ati, dan dusun tempatnya tinggal diganti menjadi Dusun Matah.

Dalam bahasa Jawa, Patah Ati memiliki makna “sesuatu yang mampu menyenangkan hati.” Hingga saat ini, RM Said maupun Raden Ayu Patah Ati dihormati oleh penduduk setempat dan Kabupaten Wonogiri pada umumnya sebagai tokoh pendiri Wonogiri. Makam Raden Ayu Patah Ati yang ada di Gunung Wijil dan makam ayahnya yang ada di Dusun Karangtengah, Desa Jaten, Selogiri, menjadi salah satu tempat ziarah berbagai kalangan masyarakat. Selain Roro Matah Hati, juga ada sebanyak 26 makam prajurit wanita yang setia sehidup semati mendampingi Roro Matah Hati. Makam Roro Matah Hati dan makam makam para prajuritnya.

  1. Monumen Batu Gilang Di Nglaroh

Alamat : Dusun Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri

Dusun Nglaroh diyakini sebagai lokasi kali pertama Pangeran Sambernyawa mendirikan embrio pemerintahan dan mengatur siasat perang gerilya yang populer disebut Perang Sambernyawan. Menurut sejarah, ketika RM Said berusia 17 tahun kecewa karena dicurangi penguasa Keraton Kartasura dan Patih Danureja. Dia pergi meninggalkan keraton. Bersama pengiring setianya dia pergi ke Nglaroh. Dari bumi perdikan Nglaroh dia merancang perang melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda.

Selain itu terdapat Monumen Tugu Penyimpanan Pusaka andalan Pangeran Sambernyawa di depan Kantor Kecamatan Selogiri. Atau sering orang menyebutnya dengan sebutan Tugu Ireng karena hanya berwarna hitam. Di dalam tugu berbentuk seperti piramida kecil itu tersimpan pusaka atau senjata milik Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo yang merupakan raja Mangkunegaran pertama. Ada 3 buah pusaka yang dikuburkan di monumen tersebut yaitu Keris Kyai Koriwelang, Keris Kyai Jaladara dan tombaknya yang diberi nama Kyai Totok. Setiap setahun sekali diadakan upacara jamasan pusaka yaitu pada bulan suro.

Selain itu yang berhubungan dengan kemerdekaan antara lain di tikungan Krisak Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri. Di tikungan ngirung petruk itu terjadi kisah heroik keberanian para pejuang 45 dalam perang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda. Kisah itu populer disebut pengadangan Krisak. Karena para pejuang waktu itu memasang ‘track bom’ (sejenis ranjau darat) yang diledakkan pada saat ada iring-iringan kendaraan pasukan Belanda. Dalam kisah patriotik itu gugur dua pejuang. Kampung Krisak pun dibumihanguskan Belanda. Untuk mengenang kisah heroik itu, di tikungan yang menjadi ruas jalan raya Wonogiri – Solo sekitar km 5 dibangun monumen perjuangan 45.

  1. Makam Punggawa Baku Pendamping Perjuangan RM. Said (Pangeran Sambernyowo).

Punggawa baku atau Punggawa bakujoyo atau Punggawa Kawandoso adalah sebuah sebutan bagi pasukan khusus di bawah pimpinan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo. Kekuatan punggawa baku tidak perlu diragukan lagi, karena dari dibawah kepemimpinan RM Said punggawa kawandoso mampu memenangkan perang-perang besar melawan Belanda. Berikut ini adalah beberapa Punggawa baku yang dimakamkan di daerah Wonogiri.

  1. Kyai Wirodiwongso / Nyai Tumenggung Kudonowarso di Mantenan, Nglaroh, Selogiri, Wonogiri
  2. Kyai Ngabei Joyodipuro Tunggul, Manyaran, Wuryantoro, Wonogiri
  3. Kyai Ngabei Joyosumarto Sukomerto, Kepatihan, Nglaroh, Selogiri, Wonogiri
  4. Kyai Surowongso / Joyopanantang Punthuk Engkuk, Kalibanteng, Sendang Griyo, Selogiri, Wonogiri
  5. Kyai Condro Tanoyo / Joyopawiro Katah, Singodutan, Selogiri, Wonogiri
  6. Kyai Surengpati Enem / Joyopawiro Geger, Manyaran, Wonogiri
  7. Kyai Citrodiwongso / Joyopangrawit Girimaloyo, Wuryantoro, Wonogiri
  8. Kyai Kartomanggolo, Bulusari, Slogohimo
  9. Kyai Taliwangsul, Tromo, Jamuran, Girimarto, Wonogiri
  10. Kyai Kartolesono, Bendungan, Nglaroh, Selogiri, Wonogiri
  11. Kyai Gagakrejo, Sendhang Lanang, Wonogiri
  12. Kyai Gonobahu, Jetak, Bendungan, Nglaroh, Wonogiri

Baca juga : “Daftar Makam Tempat Ziarah di Sukoharjo

Nah bagaimana banyak sekali bukan wisata religi di Kabupaten Wonogiri, apabila daftar sejumlah Makam tempat ziarah di  Wonogiri di atas ada kekeliruan penulisan nama, gelar atau tempat mohon partisipasi anda untuk mengoreksi nya dengan meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Atau bagi anda yang ingin menambahkan tempat ziarah di Wonogiri yang belum ada di daftar diatas maka dapat mengirimkanya melalui email saya lewat halaman contact us di bawah, atau bisa anda tinggalkan di kolom komentar agar dapat saya tambahkan ke daftar diatas. Terima kasih sudah mau mampir di blog Gudang Misteri, semoga sedikit informasi ini bermanfaat.

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Wonogiri |