Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Sragen

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Sragen – Sragen memiliki banyak sekali tempat wisata. Salah satu wisata yang banyak sekali diminati adalah wisata religi atau wisata spiritual. Kabupaten Sragen memang memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius, mencari asal usul garis keturunan dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang ada berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kabupaten Sragen dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.

Makam Pangeran Sukowati di Sragen

Makam Pangeran Sukowati di Sragen

Berikut ini daftar lengkap Makam tempat ziarah di Sragen :

  1. Makam Pangeran Sukowati atau Pangeran Handayaningrat

Alamat : Dusun Kecik, Desa Pengkol, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen

Pangeran Sukowati (6 Agustus 1717 – 24 Maret 1792) terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Sujana yang merupakan adik Susuhunan Pakubuwono II Surakarta. Sultan Hamengkubuwana I dalam sejarah terkenal sebagai Pangeran Mangkubumi pada waktu sebelum naik tahta kerajaan Ngayogyakarta, beliau adalah putra Sunan Prabu (Amangkurat IV) dan saudara muda Susuhunan Pakubuwana II. Tahun 1740 ada sebuah pergolakan di keraton Kartasura, terkenal dengan sebutan “geger Pecinan” dimana ada pemberontakan kaum etnis Cina, terhadap kesewenang2an VOC waktu itu, pada mulanya Sri Susuhunan PB II memihak rakyat, tetapi karena pertempuran dimenangkan oleh VOC dan PB II meminta ampun pada VOC, hal inilah yang akhirnya semakin membuat kecewa rakyat terhadap PB II.

Setelah itu pemerintahan Kartasura di pindhakan ke desa Sala, dan menjadi keraton Surakarta. Akan tetapi reaksi ketidakpuasan terhadap PB II yang sangat dekat dengan VOC terus meluas sampai di kalangan punggawa kerajaan, dan tersebutlah pemberontakan dipimpin oleh R.M.Said dan Martapura sampai pihak keraton kewalahan untuk menanggulangi pemberontakan tersebut. Akhirnya PB II menitahkan bahwa Siapa yang bisa meredakan pemberontakan Mas Said akan mendapat tanah di sukowati seluas 3000cacah, dengan status tanah perdikan Akhirnya pemberontakan pun dapat diredam oleh Mangkubumi (paman Mas Said) dan pangeran Mangkubumi mendapat hadiah tanah Sukowati

Tanah Sukowati, kemudian dibangun menjadi kadipaten yang kondusif dibawah pengaruh Pangeran Mangkubumi yang kemudian dijuluki sebagai Pangeran Sukowati. sampai pada suatu ketika, VOC mulai iri dengan pemerintahan di Sragen, kemudian Menghasut PB II lewat patihnya, Pringgalaya untuk menarik kembali tanah sukowati dari Mangkubumi, dan terjadilah perang mangkubumi. Perselisihan dimulai, bukan karena masalah tanah yang diambil kembali oleh PB II tetapi karena itu untuk kepentingan VOC. Karena berselisih dengan Pakubuwana II, masalah suksesi, ia mulai menentang Pakubuwana II (1747) yang mendapat dukungan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau lebih terkenal sebagai Kompeni Belanda (perang Perebutan Mahkota III di Mataram).

Dalam pertempurannya melawan kakaknya(melawan VOC lebih tepatnya), Pangeran Mangkubumi dengan bantuan panglimanya Raden Mas Said, terbukti sebagai ahli siasat perang yang ulung, seperti ternyata dalam pertempuran-pertempuran di Grobogan, Demak dan pada puncak kemenangannya dalam pertempuran di tepi Sungai Bagawanta. Disana Panglima Belanda De Clerck bersama pasukannya dihancurkan (1751). peristiwa lain yang penting menyebabkan Pangeran Mangkubumi tidak suka berkompromi dengan Kompeni Belanda. Pada tahun 1749 Susuhunan Pakubuwana II sebelum mangkat menyerahkan kerajaan Mataram kepada Kompeni Belanda; Putra Mahkota dinobatkan oleh Kompeni Belanda menjadi Susuhunan Pakubuwana III. Kemudian hari Raden Mas Said bercekcok dengan Pangeran Mangkubumi dan akhirnya diberi kekuasaan tanah dan mendapat gelar pangeran Mangkunegara.

Pangeran Mangkubumi tidak mengakui penyerahan Mataram kepada Kompeni Belanda. Setelah pihak Belanda beberapa kali gagal mengajak Pangeran Mangkubumi berunding menghentikan perang dikirimkan seorang Arab dari Batavia yang mengaku ulama yang datang dari Tanah Suci. Berkat pembujuk ini akhirnya diadakan perjanjian di Giyanti (sebelah timur kota Surakarta) antara Pangeran Mangkubumi dan Kompeni Belanda serta Susuhunan Pakubuwana III (1755). Menurut Perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta.

Atas kehendak Sultan Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengkrama Taman Sari yang terletak di sebelah barat istananya.

  1. Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus

Alamat : Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen

Pangeran Samudro adalah putra Raja Majapahit terakhir dari ibu selir. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain. Bahkan beliau bersama ibunya ikut diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak. Pada waktu itu beliau telah berusia 18 tahun. Selama berada di Demak, Pangeran Samudro mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya telah semakin dewasa maka atas petunjuk dari Sultan Demak melalui Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di lereng Gunung Lawu sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah tercerai berai. Pangeran Samudro mentaati nasehat tersebut dan pergi berguru pada Kyai Ageng Gugur dengan didampingi oleh dua abdinya yang setia.

Selama berguru kepada Kyai Ageng Gugur, Pangeran diberi ilmu tentang intisari ajaran Islam secara mendalam. Selama itu pula, Pangeran tidak mengetahui bahwa Kyai Ageng Gugur  sebenarnya adalah kakaknya sendiri. Ketika dirasa Pangeran Samudro telah menguasai ilmu yang diajarkan, Kyai Ageng Gugur baru menceritakan siapa beliau sesungguhnya. Betapa terkejutnya Pangeran Samudro mendengar cerita tersebut, karena beliau teringat akan amanat Sultan Demak untuk menyatukan saudara-saudaranya. Akhirnya, Pangeran Samudro menceritakan tentang amanat tersebut. Ternyata Kyai Ageng Gugur bisa menerima dan bersedia dipersatukan kembali dan ikut membangun Kerajaan Demak.

Setelah selesai berguru dan tercapai maksud tujuannya, Pangeran Samudro dan dua abdinya kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan sampailah mereka di Desa Gondang Jenalas (sekarang wilayah Gemolong) kemudian mereka beristirahat untuk melepaskan lelah. Di dukuh tersebut mereka bertemu dengan orang yang berasal dari Demak (Wulucumbu Demak) yang bernama Kyai Kamaliman. Di dukuh ini, Pangeran Samudro berniat bermukim sementara untuk menyebarkan agama Islam. Setelah dirasa cukup, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke arah barat  dan sampai di suatu tempat di padang “oro-oro” Kabar. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama Dusun Kabar, Desa Bogorame (Gemolong). Di tempat ini Pangeran Samudro terserang sakit panas. Walaupun demikian,  perjalanan tetap dilanjutkan sampai  ke Dukuh Doyong (wilayah Kecamatan Miri). Karena sakit yang diderita semakin parah, Pangeran memutuskan untuk beristirahat di dukuh tersebut.

Ketika sakitnya semakin parah dan dirasa akan sampai pada ajalnya/hampir meninggal, Pangeran Samudro memerintahkan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisinya kepada Sultan di Demak. Seusai mendengar amanat Sultan, abdi tersebut diperintahkan untuk segera kembali. Dan ketika abdi tersebut kembali ke tempat di mana Pangeran beristirahat, Pangeran Samudro telah meninggal. Selanjutnya sesuai dengan petunjuk Sultan, jasad Pangeran Samudro dimakamkan di perbukitan di sebelah barat dukuh tersebut. Sebelum pemakaman, diadakan musyawarah diantara orang-orang yang memiliki lahan di sekitar wilayah itu. Mereka bersepakat bahwa lokasi bekas perawatan/peristirahatan Pangeran Samudro akan didirikan desa baru dan diberi nama “Dukuh Samudro” yang sampai kini terkenal dengan nama “Dukuh Mudro”.

Pangeran Samudro dan pengikutnya sebenarnya sangat diharapkan untuk kembali ke Kasultanan Demak oleh Sultan Demak, namun ajal terlebih dahulu menjemput Pangeran Samudro. Sultan Demak mengatakan, “Menurut hematku bahwa sakitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh kemungkinan untuk sampai ke Demak. Kiranya jika memang sudah menjadi suratan Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja riwayatnya, maka saya memberi petunjuk jika Si Samudro sudah sampai ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal. Sebab boleh jadi kelak di sekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan tauladan orang-orang di sana”.

Pada awalnya keadaan di lokasi Makam Pangeran Samudro sangatlah sepi dan jarang dijamah orang karena letaknya di tengah hutan belantara, serta banyak dihuni oleh binatang-binatang buas. Namun, sedikit demi sedikit keadaan berubah setelah  daerah tersebut dihuni oleh para penduduk. Selanjutnya diterangkan bahwa di atas bukit tempat Pangeran Samudro dimakamkan, apabila menjelang musim hujan ataupun kemarau tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap (kukus). Karena hal itulah, penduduk setempat menyebut bukit itu “Gunung Kemukus” sampai dengan saat ini. Demikianlah asal-usul Gunung Kemukus.

Setiap malam Ju’mat Pon di bulan Suro/Muharam merupakan puncak kunjungan wisatawan/peziarah tahunan. Pengunjung malam Jum’at Pon mencapai 15.000 orang dan pada Malam Jum’at Kliwon mencapai 7.000 orang. Pada malam tersebut diselenggarakan pentas wayang kulit semalam suntuk sebagai acara rutin tahunan. Pada minggu pertama bulan Suro/Muharam diadakan pensucian selambu makam Pangeran Samudro, yang biasa disebut dengan ritual Larab Slambu/Larab Langse. Waktu yang tepat untuk berziarah menurut literatur yang ada dan tradisi masyarakat di sekitar Gunung Kemukus adalah hari Kamis malam Jum’at Pon. Hal ini bertolak dari kisah pada zaman kerajaan Demak, sebagai berikut :

Pada suatu ketika di hari Jum’at Pon setelah Sultan Demak melaksanakan sholat berjamaah (Jum’atan), beliau melayangkan pandangannya ke atas dan dilihatnya sebuah bingkisan. Kejadian tersebut tidak diketahui oleh seorang pun kecuali oleh Sultan sendiri. Bingkisan tersebut lalu diambil dan didalamnya terdapat kain putih yang bertuliskan “Ini adalah pakaian untuk bekel (Senopati) Tanah Jawa”. Sebuah benda berbentuk “Kotang Ontokusumo”. Kemudian menurut adat, pakaian ini dikenakan oleh orang yang akan memangku jabatan Pangeran Pali. Kemudian kejadian itu dijadikan sebagai dasar / ketentuan dengan para wali. Ketentuan di mana apabila Sultan Demak berkenan mengadakan pertemuan dengan para wali, maka waktunya ditentukan yaitu tepat pada hari Jum’at Pon untuk memperingati peristiwa penemuan Pusaka Kotang Ontokusumo.

Berdasarkan pada cerita tersebut, masyarakat sekitar kemudian menjadikan malam Jum’at Pon sebagai puncak tahlilan/do’a bersama. Sampai saat ini, pada setiap malam Jum’at Pon banyak orang berduyun-duyun datang untuk berziarah ke Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus.

Inti Ziarah di Makam Pangeran Samudro

“Sing Sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarebke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju.” (Kadjawen, Yogyakarta: Oktober 1934). Petikan naskah atau wacana tersebut memang dapat ditafsirkan keliru, khususnya oleh masyarakat awam. Ada pendapat yang keliru yang mengatakan bahwa apabila berziarah ke Makam Pangeran Samudro harus seperti ke tempat kekasih/dhemenan dalam pengertian bahwa berziarah ke sana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta melakukan hubungan seksual dengan bukan istri atau suami yang sah.. Parahnya, pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar masyarakat.

Akan tetapi pandangan atau pendapat  tersebut tidak benar dan perlu diluruskan. Munculnya pendapat tersebut berawal dari penafsiran pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri/suami sah (pasangan kumpul kebo), kekasih gelap, isteri/suami simpanan. Sehingga pengertiannya menjadi apabila ziarah ke Makam Pangeran Samudro harus membawa dhemenan. Arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah  dalam bahasa Jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera terwujud/tercapai seperti seakan-akan ingin menemui kekasih.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti ziarah di Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan, cita-cita yang ingin dicapai atau apabila menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk mencapai cita-cita/tujuan tersebut harus dilakukan dengan cara sungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang akan dicapai/dituju. Dengan demikian,  terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

  1. Makam Joko Tingkir

Alamat : Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen

Komplek permakaman ini berjarak sekitar 16 kilometer dari Kota Sragen, tepatnya di Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh. Di permakaman itu, seorang penguasa Keraton Pajang (1550-1582) yang bergelar Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir dikebumikan. Di kompleks pemakaman Butuh terdapat lebih dari 20 pusara yang dikelilingi tembok. Sembilan pusara di antaranya berada di dalam cungkup. Pusara Joko Tingkir berada pada bagian tengah cungkup itu.

Di halaman kompleks pemakaman terdapat batang kayu yang sudah keropos. Kayu itu diyakini sebagai sempalan perahu gethek yang membawa Joko Tingkir ke Dusun Butuh melalui Sungai Bengawan Solo. Sempalan gethek itu berupa belahan kayu jati sepanjang sekitar dua meter. Kedatangan Joko Tingkir ke Dusun Butuh yang saat itu masih berupa hutan belantara tidak lain untuk berguru kepada Ki Ageng Butuh. Dia dikenal sebagai murid Syeh Siti Jenar bersama ayah Joko Tingkir, Ki Kebo Kenanga.

Makam Joko Tingkir banyak diziarahi warga. “Bisa dibilang, permakaman ini menjadi objek wisata religi. Setiap malam Jumat selalu ada warga yang berziarah. Kebanyakan mereka datang dari luar daerah. Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan Ki Ageng Butuh merupakan tokoh yang kali pertama melihat wahyu keprabon yang jatuh pada diri Joko Tingkir. Dia juga berperan penting dalam membantu Joko Tingkir naik takhta menjadi raja. Makam lain yang berada di kompleks permakaman ini adalah istri Kiai Ageng Butuh, adik Joko Tingkir Pangeran Tejowulan, putra raja Pajang Pangeran Benowo, Makam Ki Patih Monconegoro, Ki Tumenggung Wurai dan Ki Tumenggung Wilomarto beserta pengikutnya. Selain itu terdapat sisa pecahan gethek (Kyai Gethek Tambak Boro) yang pernah dinaiki Joko Tingkir bersama Ki Ageng Biru dan ki Ageng Majasta menyusuri Bengawan Solo sebelum sampai di Butuh.

loading...
  1. Makam Ki Ageng Butuh

Alamat : Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen

Di suatu tempat yang semula berupa hutan yang lebat, konon sangat angker dan banyak dihuni berbagai macam binatang buas nuansa alamnyapun sangat angker, di tempat itu biasa disebut padukuhan BUTUH. Di tempat tersebut tinggal seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat disekitar padukuhan tersebut yaitu bernama Ki Ageng Butuh. Dia adalah seorang ki ageng yang karismatik juga pandai dalam ilmu agama, beladiri dan ahli dalam bidang pertanian. Maka tidak aneh bila masyarakat di butuh kehidupannya maju pesat, tentram dan damai di bawah pimpinan beliau. Banyak orang bertanya siapakah sebenarnya Ki Ageng Butuh itu.

Konon ada suatu kisah dimana setelah Kerajaan Majapahit runtuh banyak keturunan raja dari kerajaan tersebut cerai berai. Salah satunya adalah Ki Ageng Pengging atau Pangeran Handayaningrat yang menetap di daerah pengging yang memiliki 3 anak yaitu Ki Kebo Kanigoro, Ki Kebo Kenanga. Salah satu anak Ki Ageng Pengging yaitu Ki Kebo Kenanga adalah seorang pemimpin yang bijaksana, cerdas serta trampil dalam bidang apa saja termasuk bidang pertanian, pemerintahan lebih-lebih bidang keagamaan yakni agama Islam. Yang mana beliau adalah salah satu murid kesayangan dari Syeh Siti Jenar. Karena kepiawian beliau dalam memimpin daerah dan banyaknya pengikut ajaran agamanya. Maka Sultan di Demak Bintoro khawatir bilamana menjadi pesaingnya di dalam memerintah ditanah Jawa. Kemudian Sutan Demak mengutus Patih Wanasalam untuk menghadapkan Ki Kebo Kenanga di Keraton Demak, namun tidak berhasil. Akhirnya Kanjeng Sultan mengutus Sunan Kudus bersama ke 7 anak buahnya untuk mendatangi kembali Ki Kebo Kenanga di Pengging. Dengan mandat Kanjeng Sultan, ”Bilamana Kebo Kenanga tidak mau sowan ke Demak maka Purbawasesa di tangan kedua Sunan tersebut” ( di izinkan untuk membunuhnya ).

Dalam pertemuan itu terjadi dialog yang alot antara Ki Kebo Kenanga dengan Sunan Kudus, sampai-sampai Sunan Kudus sempat marah mengancam untuk membunuh Ki Kebo Kenanga. Akhir dari dialog itu di sepakati Ki Kebo Kenanga tidak dihukum melainkan dia diminta untuk mengasingkan diri pergi dari bumi perdikan dengan menghilangkan nama sebenarnya. Tetapi Ki Kebo Kenanga punya permintaan bahwa bayi yang sedang didalam kandungan istrinya kelak kalau sudah besar harus menjadi seorang Raja di tanah Jawa. Permintaan tersebut disetujui oleh Sunan Kudus dan ia berjanji dia sendiri yang akan mendidik dan membimbing anak Ki Kebo Kenanga hingga menjadi Raja. Beginilah dialog antara Ki Kebo Kenanga dengan Sunan Kudus :

Sunan Kudus : Ngger….. Kenanga, hidup itu harus adil dan bijaksana….. Begini bagaimana kamu selamat bersama keluargamu sedang Sultan Demak juga tidak malu, kami berdua mempunyai rencana buat angger.

Kebo Kenanga : Maaf….. Kanjeng Sunan Kudus sekiranya jalan keluar itu baik untuk semuanya hamba akan melaksanakannya.

Sunan Kudus : Begini….. jika kamu untuk sementara mengasingkan diri, masalah laporanku ke Demak Bintoro nanti aku yang akan mengaturnya. Dan bila kamu punya permintaan kami berdua akan membantu meluluskan, angger…..

Kebo Kenanga : Baiklah Kanjeng Sunan Kudus jika saya harus mengasingkan diri dari bumi pengging, saya Kebo Kenanga memohon agar kelak keturunan saya dapat menjadi raja dan menurunkan raja di tanah Jawa ini.

Sunan Kudus : Allahu Akbar….. ya….. yaa….. aku berjanji untuk mengantarkan putramu kelak menjadi Satria Pinunjul dan dapat menjadi raja di tanah Jawa. Tetapi aku minta selama engkau mangasingkan diri mohon untuk merahasiakan jati dirimu yang sebenarnya sebelum putramu kelak menjadi raja.

Kemudian Ki Kebo Kenanga beserta istri dan murid-muridnya yang setia mengasingkan diri meninggalkan perdikan Pengging menuju ke arah timur tepatnya di dukuh BUTUH, Desa Gedongan termasuk wilayah Sragen yang letaknya di Kecamatan Plupuh.

Ketika Ki Ageng Pengging ( Ki Kebo Kenanga ) menetap di daerah tersebut sambil melanjutkan mengajar ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu yang lain pada murid dan masyarakat setempat, sesuai dengan kesepakatan Sunan Kudus ia sengaja menyembunyikan jati dirinya dan berganti nama KI AGENG BUTUH.

  1. Makam Bupati Sragen Pertama

Alamat : Dusun Prampalan, Desa Krikilan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen

Makam Cucu Prabu Brawijaya yang bernama K.R.T Karto Wiryo menurunkan  tokoh-tokoh besar, termasuk Bupati Pertama Sragen R.T Wirjodiprodjo. Makam ini juga terkenal dengan sebutan Makam Pilang Payung merupakan makam para bupati pendahulu yang meng-awali berdirinya pemerintahan Kabupaten Sragen. Makam ini merupakan makam terpenting yang berada di kabupaten Sragen, dan menjadi tujuan utama dalam prosesi ziarah makam leluhur setiap memperingati Hari jadi Kabupaten Sragen.

  1. Makam Ki Ageng Srenggi alias Tumenggung Alap-alap

Alamat : Desa Sragen Lor, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen

Pusat Pemerintahan Projo Sukowati yang ada di Desa Gcbang ini pun akhirnya tercium oleh Kompeni Belanda yang bekerja sama dengan Kasunanan dan akan mengadakan penyerangan ke desa Gebang. Pasukan Gabungan antara Kompeni dan Pasukan dari Keraton Surakarta tersebut dipimpin oleh Patih Pringgalaya (Patih dari PB II).

Untung rencana tersebut diketahui oleh Petugas Sandi (Intetegent ) dan Pangeran Sukowati.Dengan berbagai pertimbangan maka Pusat Pemerintahan akan dipindahkan ke Desa Jekawal. Dalam proses boyongan dari Gebang ke Jekawal tersebut ‎Sampailah mereka di desa Kranggan. Sesampainya di desa Kranggan dia menerima kabar bila di desa tersebut ada padepokan yang di pimpin oleh seorang yang sakti mandraguna bernama “Kyai Srenggi”. Pangeran Mangkubumi singgah di desa Kranggan untuk berkenalan dengan Kyai Srenggi serta mohon petunjuk.

“Eee, mari…mari silakan masuk Pangeran. Hamba tidak mengira akan kedatangan tamu agung. Mari silakan masuk!”, kata Kyai Srenggi ketika kedatangan Pangeran Mangkubumi. “Ketahuilah Kyai, hamba sekarang bukan lagi seorang Priyagung. Sebab selama pengembaraan ini hamba tanpa pangkat dan derajat. Hamba adalah seorang buruan yang menentang raja dan….Kompeni Belanda..” Jawab Pangeran Mangkubumi dengan hormat.

Kyai Srenggi tersenyum dan berkata , “Apakah Pangeran lupa kepada hamba ? Hamba ini tidak lain adalah Tumenggung Alap-alap, seorang hamba kerajaan yang tidak kerasan tinggal di Kartasura dan menyepi di Kranggan ini.” Bagaikan disambar petir di siang hari, Pangeran Mangkubumi mendengar pengakuan Kyai Srenggi tersebut. Pageran Mangkubumi sangat terkejut dan kemudian memeluk Tumenggung Alap-alap.

Begitu awal pertemuan itu kemudian dilanjutkan dengan percakapan yang panjang. Dan akhirnya Alap-alap atau Kyai Srenggi diangkat menjadi senapati perang memimpin para prajurit untuk memusnahkah tindak angkara murka. Konon Kyai Srenggi ini adalah salah seorang Panglima Perang dari Sunan Amangkurat di Kartosuro, yang sebetulnya bernama asli Tumenggung Alap-Alap.Untuk menghilangkan jejak beliau berganti nama Kyai Srenggi.

Pada saat Pangeran Sukowati singgah di padepokan tersebut oleh Kyai Srenggi disuguhi Legen dan Polowijo.Pangeran Sukowati merasa sangat puas dan beliau bersabda bahwa tempat tersebut diberi nama“SRAGEN” dari kata “Pasarah Legen” dan Kyai Srenggi diberi sebutan Ki Ageng Srenggi. Setelah pusat Pemerintahan berada di Jekawal maka Raden Mas Said diambil menantu oleh Pangeran Mangkubumi/Pangeran Sukowati dikawinkan dengan putrinya bernama BRA Suminten.‎

Perlawanan Pasukan Pangeran Sukowati semakin kuat dan karena Kompeni merasa terdesak kemudian membuat siasat memecah belah dengan mangadakan Perjanjian Palihan Negeri atau terkenal dengan Perjanjian Giyanti Tahun 1755 dimana Kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta dengan mengangkat Pangeran Mangkubumi/Pangeran Sukowati menjadi Sultan Hamengku Buwono I.

Kemudian pada tahun I757 diadakan  Perjanjian  Salatiga dengan memecah Kasultanan Jogjakarta menjadi Kasultanan dan Paku Alaman serta Kasunanan Surakarta menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran, dimana Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) ditetapkan menjadi Adipati Mangkunegoro I dengan mendapat sebagian wilayah Kasunan (Wonogiri dan Karanganyar.)‎

  1. Makam Eyang Singomodo alias Syech Muhammad Nasyir

Alamat : Dusun Pungkruk, Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen

Riwayat tokoh yang saat ini makamnya berada di dukuh Pungkruk Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar ini, diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Tidak aneh jika akhirnya muncul beberapa versi yang berbeda, juga pergeseran dari fakta menjadi legenda. Berdasarkan penuturan juru kunci makam, yang juga merupakan salah satu keturunan pengikut Eyang Singomodo, sejarah bermula dari terjadinya kekacauan di sebuah kerajaan. Tidak diketahui nama kerajaan tersebut, hanya diyakini Eyang Singomodo adalah tokoh yang memiliki kekerabatan dengan Pangeran Diponegoro. Dalam kekacauan tersebut beberapa prajurit (5 orang) dari pihak yang terdesak mengevakuasi salah seorang tokoh penting kerajaan dengan menyusuri Bengawan Solo menggunakan gethek bamboo. Tokoh tersebut diduga adalah seorang guru/suhu dari para Prajurit kerajaan. Nama sebenarnya dari tokoh tersebut Syech Muhammad Nasyir. Untuk menyamarkan identitas aslinya, beliau berganti nama menjadi Singomodo.

Sedang tentang kelima prajurit pendhereknya, melalui laku spiritual, Slamet meyakini mendapat penjelasan bahwa mereka bernama Sholahudin, Raden Mustofa, Rizal, Munir dan Sholeh. Salah satu prajurit tersebut, yakni Raden Mustofa, dia juga merupakan trah dari kerajaan tersebut. Dalam pelariannya, Eyang Singomodo memerintahkan kepada kelima prajuritnya untuk tidak melabuhkan perahu, dan menyerahkan kepada Tuhan dimana perahu akan terdampar. Konon tiba-tiba ada angina besar yang membuat perahu beserta keenam penumpangnya terlempar. Konon tiba-tiba ada angin besar yang membuat perahu besar keenam penumpangnya terlempar ke daratan yang sekarang dikenal dengan nama Dukuh Pungkruk. Di situ pulalah Eyang Singomodo menetapkan sebagai tempat menyingkir yang aman.

Mereka mendirikan gubuk beratap ialalng, dan mulai membuka hutan untuk dijadikan pemukiman, hingga akhirnya para prajurit tersebut menikah dengan penduduk di sekitar situ dan beranak pinak. Sementara mengenai Eyang Singomodo, tidak jelas apakah beranak istri atau tidak., Yang jelas dalam pelariannya ia tidak didampingi orang lain kecuali lima prajurit yang mengevakuasinya. Di kompleks pemakamannya saat ini hanya ditemukan 6 kuburan yakni kuburan Eyang Singomodo dan keima prajuritnya. Diyakini Eyang Singomodo tidak menikah sampai akhir hayatnya. Perkampungan yang dirintis Eyang Singomodo akhirnya berkembangmenjadi desa yang ramai pada jamannya. Dia kemudian mendirikan sebuah Masjiddan semacam pondok pesantren.

Murid Eyang Singomodo banyak, kurang lebih sekitar 100 orang, dan akhirnya menyebar ke berbagai daerah untuk melakukan siar islam. Konon tidak hanya bangsa manusia yang berguru padanya tetapi ada juga bangsa jin. Beliau menerimanya sebagai murid dan diberi tempat tetapi untuk makan harus cari sendiri. Masyarakat sekitar menghubung-hubungkan banyaknya tempat wingit atau angker sekitar pemakaman yang ada sekarang sebagai tempat tinggal murid dari bangsa jin. Tempat-tempat tersebut hingga kini dibiarkan saja dan tidak ada yang berani untuk mengolahnya. Karena perkembangan perkampungan itu pila, Eyang Singomodo menetapkan luas kepemilikan tanahnya dengan cara melemparkan batas kepemilikan tanah bagi kelima prajuritnya.

Penduduk lain dan juga dirinya sendiri. Bagi dirinya, Eyang Singomodo menetapkan luas kepemilikan tanahnya dengan cara melemparkan sebuah batu. Batu itu kemudian dicari dengan berjalan kearah melingkar(temu gelang) menggunakan tongkat yang diseret. bekas seretan tongkat itulah batas kepemilikan tanah Eyang Singomodo. Hingga kini batas itu masih ada, berupa pematang dan beberapa diantaranya ditumbuhi tanaman perdu. Selain menetapkan wilayah, kepada kelima prajuritnya beliau berwasiat, siapa diantara kelima prajuritnya yang memiliki anak sulung laki-laki, maka mereka dan keturunannya yang kelak wajib menjaga makamnya sementara prajurit yang beranak sulung perempuan, wajib merawat penganggon yang diartikan sebagai segala kelengkapan pakaian, atribut dan pusaka.

Dari kelimanya, tiga diantaranya beranak sulung laki-laki dan dua lainnya beranak sulung perempuan. Slamet, juru kunci yang sekarang ini (yang juga merupakan PTD Desa Kandangsapi) adalah juga merupakan –kturunan dari salah satu prajurit yang beranak sulung laki-laki tersebut. Eyang Singomodo adalah seorang yang bijak dan berilmu tinggi (sakti). Salah satu legenda tentang kesaktiannya adalah beliau bisa menghilang ketka jaman penjajahan Belanda. Ketika beliau dan muridnya dicari atau diburu oleh orang Belanda, hanya dengan bersembunyi dibalik sapu lidi murid-muridnya tidak tampak oleh orang-orang Belanda.

  1. Makam Syekh Zakariya

Alamat : Dusun Kauman, Desa Masaran, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen

Syekh Zakaria merupakan seorang penyebar Agama Islam di Dusun Kauman yang mengabdikan diri untuk mengajarkan agama islam pada masyarakat luas, beliau rela membujang untuk tujuan tersebut. Di dalam kompleks makam ini terdapat struktur yang diduga bekas bangunan masjid dengan menggunakan tumpukan batu bata dengan ukuran besar. Di depan struktur terdapat yoni yang terbuat dari batu andesit dengan posisi tengkurap, makam masih memegang konsep punden berundak dan terbuat dari bahan batu bata yang mempunyai ketebalan dan ukuran lebih besar dari batu bata sekarang.

  1. Petilasan Ki Joko Budug / Raden Haryo Bangsal

Alamat : Desa Gampingan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen

Petilasan ini tergolong unik mempunyai ciri khas tersendiri, berupa papan kayu jati berjumlah 4 buah yang ditata membentuk seperti makam dengan panjang: 6,88 m dan lebar: 1,27 m dengan ketebalan kayu jati 13 cm dengan kondisi yang mulai rapuh. Petilasan ini beratapkan jerami yang khusus ditanam dilahan sebelah selatan, konon berdasarkan informasi masyarakat Beliau tidak menghendaki bila atap tersebut diganti dengan genteng. Petilasan ini masih dianggap wingit oleh masyarakat, tidak ada seorangpun berani merubah ataupun mengambil sesuatu dari sekitar petilasan ini tanpa seijin dari Raden Haryo Bangsal.

  1. Makam Punggawa Baku Pendamping Perjuangan RM. Said (Pangeran Sambernyowo).

Punggawa baku atau Punggawa bakujoyo atau Punggawa Kawandoso adalah sebuah sebutan bagi pasukan khusus di bawah pimpinan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo. Kekuatan punggawa baku tidak perlu diragukan lagi, karena dari dibawah kepemimpinan RM Said punggawa kawandoso mampu memenangkan perang-perang besar melawan Belanda. Berikut ini adalah beberapa Punggawa baku yang dimakamkan di daerah Sragen.

  1. Kyai Gagakeri, Ngrusah, Manyaran

Baca juga : “Daftar Makam Tempat Ziarah di Karanganyar

Nah bagaimana banyak sekali bukan wisata religi di Kabupaten Sragen, apabila daftar sejumlah Makam tempat ziarah di  Sragen di atas ada kekeliruan penulisan nama, gelar atau tempat mohon partisipasi anda untuk mengoreksi nya dengan meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Atau bagi anda yang ingin menambahkan tempat ziarah di Sragen yang belum ada di daftar diatas maka dapat mengirimkanya melalui email saya lewat halaman contact us di bawah , atau bisa anda tinggalkan di kolom komentar agar dapat saya tambahkan ke daftar diatas. Terima kasih sudah mau mampir di blog Gudang Misteri, semoga sedikit informasi ini bermanfaat.

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Sragen |