Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Surakarta

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Surakarta – Kota Surakarta atau lebih dikenal dengan sebutan kota Solo memiliki banyak sekali tempat wisata. Salah satu wisata yang banyak sekali diminati adalah wisata religi atau wisata spiritual. Kota Surakarta memang memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius, mencari asal usul garis keturunan dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang ada berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kota Surakarta dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.

Makam Ki Ageng Henis di Laweyan Surakarta

Makam Ki Ageng Henis di Laweyan Surakarta

Berikut ini daftar lengkap Makam tempat ziarah di Surakarta :

  1. Makam Ki Ageng Henis

Alamat : Dusun Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta

Perkembangan sejarah masuknya Agama Islam di Surakarta, tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Ki Ageng Henis. Mulanya Laweyan merupakan perkampungan masyarakat yang beragama Hindu Jawa. Ki Ageng Beluk, sahabat Ki Ageng Henis, adalah tokoh masyarakat Laweyan saat itu. Ia menganut agama Hindu, tetapi karena dakwah yang dilakukan oleh Ki Ageng Henis, Ki Ageng Beluk menjadi masuk Islam. Ki Ageng Beluk kemudian menyerahkan bangunan pura Hindu miliknya kepada Ki Ageng Henis untuk diubah menjadi Masjid Laweyan.

Ki Ageng Henis adalah putra dari Ki Ageng Sela dengan Nyai Bicak putri Ki Ageng Ngerang / Sunan Ngerang I keturunan Maulana Maghribi II. Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Pemanahan berputra Sutawijaya atau Mas Ngabehi Loring Pasar atau Senapati pendiri kerajaan Mataram Islam. Dalam sejarah Pajang, Ki Ageng Pamanahan dan Sutawijaya bersama-sama dengan Ki Juru Martani dan Ki Panjawi, sangat berjasa kepada Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir atau Mas Karebet) sebab telah berhasil membunuh Arya Panangsang, musuhnya dari Jipang. Selanjutnya atas jasa tersebut, Sultan Hadiwijaya memberi anugerah tanah Pati kepada Ki Panjawi, dan tanah Mataram kepeda Ki Ageng Pamanahan. Sedang kepada Ki Ageng Enis dianugerahi tanah perdikan di Laweyan Karena ketaatan para kawulanya, Ki Ageng Enis mendapatkan sebutan Ki Ageng Luwih, makamnya di Astana Lawiyan. Istilah Lawiyan berasal dari kata Luwih (sakti) dari Ki Ageng Enis tersebut.

Serat Kandha menyebutkan bahwa Ki Ageng Ngenis dengan seluruh keluarganya mendapat pekerjaan pada raja Pajang (Sultan Hadiwijaya) yang begitu senang padanya, sehingga ia diberi tanah Laweyan (di Surakarta, ada hingga kini) sebagai hadiah. Ki Ageng Ngenis meninggal di sana. Setelah meninggalnya, Ki Pemanahan dan Ki Panjawi menjadi lurah para prajurit tamtama Pajang.

Ki Ageng Ngenis, kakek Panembahan Senopati (=Danang-Sutawijaya) adalah berasal dari Sela, karena ia adalah putra Ki Ageng Sela. Jadi, Ki Ageng Sela adalah kakek buyut Panembahan Senopati. Nama-nama Ki Gede (=Ki Ageng) adalah menunjukkan bahwa ia adalah pembesar dari wilayah tersebut. Namun perlu diketahui, bahwa Sela yang disebut di sini bukanlah wilayah Sela yang terletak di antara gunung Merapi dan Merbabu, melainkan Sela yang ada di wilayah Grobogan. Ki Ageng Sela kakek buyut dari Panembahan Senapati inilah yang diceritakan dalam cerita legenda turun-temurun memiliki kesaktian mampu menangkap petir itu. Saya masih ingat sedikit pada masa kecil orang tua-tua cerita bahwa kami sebagai orang Mataram bila saat petir menyambar dapat menyahutnya dengan bilang, “Gandrik! Putune Ki Ageng Sela!” (Astaga! (Saya) cucu Ki Ageng Sela!). Dengan begitu, petir akan menghindar.

  1. Makam Ki Gede Sala

Alamat : Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Ndalem Mloyokusuman RT 001/RW 012, Baluwarti, Kota Surakarta

Kompleks makam Ki Gede Sala, hanya berukuran sekitar 10 x 10 meter persegi. Selain Makam Ki Gede Sala, di kompleks itu, terdapat pula makam dua kerabatnya, yakni makam Kyai Carang dan Nyai Sumedang. Dirunut dari sejarah, Ki Gede Sala adalah penguasa desa Sala. Desa itu menjadi pilihan lokasi pendirian keraton  saat boyongan dari Keraton Kartasura yang hancur akibat geger pecinan yang dipimpin oleh Sunan Kuning yang dimakamkan di Semarang pindah menuju Keraton Kasunanan Surakarta . Tapi silsilahnya tetap kabur. Sampai saat ini, walaupun tokoh tersebut berperan sangat penting atas berdirinya Surakarta , tapi Ki Gede Sala tak diketahui secara jelas asal-usulnya.

Asal usul nama Sala diambil dari pohon Sala yang konon hanya bisa hidup di desa Sala kala itu, sedangkan pohon nya masih hidup sampai sekarang di kompleks keraton kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di jaman modern seperti serang masyarakat sekitar Solo tetap ada walaupun jumlah peziarah hanya sedikit, oleh karena Ki gede sala merupakan cikal bakal desa sala atau awal mula terjadinya kota solo bahkan pembesar kerajaan mataram memohon ijin untuk mendirikan kraton kasunanan didesa sala,yang dahulunya adalah kedung lumbu atau daerah rawa rawa,yang kemudian diurug dengan tanah arum dari bukit kadipolo.

  1. Makam Pangeran Pabelan

Alamat : Desa Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta

Makam Keramat pangeran pabelan berada dikomplek swalayan,yang yang dahulu sebelum 1997 swalayan tersebut bernama Matahari Beteng,namun setelah terjadi Reformasi dan swalayan Matahari beteng dibakar masa berubah menjadi BTC atau Beteng Trade Centre.yang berada di sebelah timur Gladak atau timur utara alun alun utara,kraton surakarta

Pada masa reformasi dan terjadi kebakaran,hampir semua terbakar kecuali makam pangeran pabelan,yang terletak dibelakang atau sebelah selatan swalayan tersebut.
Kisah dari pangeran pabelan merupakan kisah seorang pangeran putra dari pembesar kraton pajang Tumenggung Mayang yang masih bawahan dari sultan Hadiwijaya atau jaka tingkir

Seorang pangeran yang memiliki mata keranjang,yang selalu mempermainkan hati perempuan mana saja yang ditemui,tentunya wanita wanita yang cantik jelita,apalagi dayang atau pembantunya sendiri
saking tobatnya Tumenggung Mayang menghadapi putranya,beliau berucap ”janganlah mempermainkan hati perempuan perempuan yang lemah,kalau berani taklukanlah hati putri sekar pembayun.”

Merasa ditantang sebagai seorang pemuda yang gagah dan telah menundukkan hati banyak wanita,Pangeran Pabelan bertekad menundukkan hati putri sekar kedaton yang jelas jelas adalah putri dari sultan hadiwijaya, penguasa kraton pajang

Bukan pangeran pabelan jika kehilangan akal,melalui dayang yang mencintainya,diutuslah untuk mendekati dayang putri sekar kedaton,sehingga keduanya dapat berhubungan melalui surat,dan karena kecerobohan pangeran pabelan hingga ditangkap prajurit,pada saat memanjat tembok kaputren untuk melihat putri sekar kedaton

ditangkaplah pangeran pabelan dan sebelum dilaporkan ke sultan hadiwijaya,karena mengetahui bahwa pangeran pabelan adalah putra Tumenggung mayang,maka kejadian tersebut dilaporkan keTumenggung mayang agar dinasehati

Kondisi babak belur dihajar prajurit membuat Pangeran pabelan semakin merana dalam kamar peristirahatan dan membuatnya enggan makan karena rindu menguasai hati
Hari bertambah hari Tumenggung mayang merasa bersalah dengan ucapan yang pernah dia ucapkan,karena merasa pilu melihat kondisi putranya yang mengurung diri didera rindu kekasih hati.
nasehat tumenggung mayang untuk mengurungkan niat pangeran pabelan agar tidak terjadi hal yang diinginkan ternyata ditolak,bahkan pangeran pabelan siap mati demi cintanya

Karena Tumenggung mayang tak tega jika putranya mati konyol tanpa ilmu apapun,maka Tumenggung Mayang yang dikenal memiliki kesaktian yang hebat menurunkan ilmunya pada putranya agar tembok dapat merendah dan mudah dilewati.

Dengan berbekal ajian yang dimiliki,semakin bulat tekad Pangeran pabelan untuk menerobos tembok kaputren kraton pajang,dan dengan ajian itu pula sangat mudah untuk menyusup kedalam kaputren dan masuk kedalam kamar putri sekar kedaton.
Dalam kamar tersebut kedua insan yang dalam kasmaran bercumbu rayu meluapkan berjuta rasa yang bergejolak dalam dada,hingga keduanya lupa dimana berada.
dan sungguh apes nasib pangeran pabelan tatkala hendak keluar tembok kaputren,ia lupa akan mantra ajian yang diajarkan ayahandanya.

Hingga pangeran ditangkap prajurit dan dihadapkan pada Sultan hadiwijaya,dicambuk didera seperti halnya pencuri,hingga ajal menjemput dan dibuanglah mayatnya kesungai

Dan akhirnya mayat tersebut ditemukan Ki gede solo dalam kondisi membusuk,pada saat mayat berada dipinggir,ditengahkan agar hanyut berkali kali namun mayat tersebut seolah tidak mau hanyut dan meminta dimakamkan didaerah itu.
Oleh sebab itulah oleh Ki gede sala akhirnya mayat tersebut dimakamkan.
maka dari itulah Makam Keramat Pangeran pabelan disebut juga makam Kyai Batangan yang berasal dari kata mayat yang telah membusuk

karena kisah pangeran pabelan yang lihai dalam menaklukkan hati wanita,maka banyak pria yang gagal dalam cinta menziarahi makam Keramat Pangeran pabelan

  1. Makam KH. Hasan Mukmin

Alamat : Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo

  1. Hasan Mukminyang dimakamkan di sebelah selatan kota Satelit Solo Baru, tepatnya di Langenharjo, Grogol, Sukoharjo yang merupakan salah satu guru dari KH Mansur Popongan Klaten. Kiai Mukmin adalah seorang tokoh waliyulah, oleh warga masyarakat Langenharjo, Sukoharjo, makam ini sangat di keramatkan sekali. Pada malam malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon dan malam keramat lainya, makam Kiai Mukmin banyak di kunjungi para peziarah.

Keberadaan makam tersebut tidak jauh dari pesanggrahan Langenharjo yang di bangun olah raja kasunanan Surakarta. Di kalangan para  peziarah yang meyakini, seringkali doa dan permohonan para peziarah di kabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa usai mereka menjalani laku ritual di tempat ini. Warga di sekitar makam Kyai Hasan Mukmin di seberang aliran sungai Bengawan Solo ini sering menyebut dengan sebutan mbah Gedong.

  1. Makam K.H. Umar Said

Alamat : Desa Nglawu, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo

K.H. Umar Said adalah sahabat dari K.H. Hasan Mukmin dan K.H. Minhajul Abidin, mereka bertiga pernah menjadi guru dari K.H Manshur yang mendirikan pondok pesantren di Popongan, Tegalgondo, Klaten dan sekaligus dimakamkan di Popongan bersama cucu kesayangannya yaitu K.H Salman Dahlawi dan Adiknya K.H Ahmad Jablawi.

  1. Makam K.H. Minhajul Abidin

Alamat : Desa Gabudan, Kelurahan Baturono, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta

K.H. Minhajul Abidin bersama-sama dengan K.H. Umar Said dan K.H. Hasan Mukmin menyebarkan agama islam dengan ajaran Thoriqoh di kota Solo. K.H. Minhajul Abidin pernah menjadi guru K.H Manshur yang mendirikan pondok pesantren di Popongan, Tegalgondo, Klaten dan sekaligus dimakamkan di Popongan bersama cucu kesayangannya yaitu K.H Salman Dahlawi dan Adiknya K.H Ahmad Jablawi.

  1. Makam Habib Alwi Alhabsyi

Alamat : Desa Gabudan, Kelurahan Baturono, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta

Habib Alwi Alhabsyi yang merupakan putra dari wali qutub Habib Ali Alhabsyi pengarang kitab Simthut Durar terletak disebelah selatan masid Ar-Riyadh. Makam nya terletak tidak jauh dari makam K.H. Minhajul Abidin. Di komplek makam Habib Alwi Alhabsyi juga terdapat makam Habib Anis Bin Alwi Alhabsyi yang merupakan anak tertua dari Habib Alwi Alhabsyi yang wafat pada tahun 2006 lalu.

  1. Makam K.H. Umar Abdul Manan

Alamat : Ponpes Al -Muayyad, Mangkuyudan, Kota Surakarta.

Makam K.H. Umar Abdul Manan pendiri pondok pesantren Al-Muayad Mangkuyudan Surakarta yang terletak di jalan K.H. Samanhudi 64. Pada umr 17 tahun beliau sudah dapat hafal al-Quran dan mendapatkan sanad langsung dari K.H. Munawir Krapyak kemudian melanjutkan mondoknya di Pesantren Termas serta nyantri pada K.H Zainudin pengasuh Pesantren mojosari, Nganjuk.

Berikut ini sholawat peninggalan K.H Umar Abdul Manan

SHOLAWAT – WASIAT K.H. AHMAD UMAR ABDUL MANNAN. Tulisan yang berwarna kuning keemasan tersebut, terlihat menyala di atas prasasti yang berwarna hitam. Di bawah judul, tertulis syair shalawat yang dibuat oleh Kiai Umar.

Allahumma sholli wa salim ‘alaa Sayyidina wa maulanaa muhammadin
‘adada maa fi ‘ilmillahi sholatan Da’imatan bida wa min mulkillahi

Wasiate Kyai Umar maring kita.
Mumpung sela ana dunya dha mempenga. 
Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati.
Aja isin aja rikuh kudu ngaji 

(wasiat Kiai Umar kepada kita
mumpuung hidup di dunia, bersungguh-sungguhlah
sungguh-sungguh cari ilmu bermanfaat sebagai bekal mati
jangan pernah malu, wajib mengaji!)

Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti 
Aja isin najan gurune mung bayi 
Yen wus hasil entuk ilmu lakonono
Najan sithik nggonmu amal dilanggengno 

(mengajilah kepada yang alim
jangan malu, meski gurumu masih sangat muda
bila sudah belajar, amalkanlah
walau sedikit, tapi konsisten)

Aja ngasi gegojegan dedolanan 
Rina wengi kabeh iku manut syetan 
Ora kena kanda kasep sebab tuwa
Selagine durung pecat sangka nyawa 

(jangan banyak bergurau dan bermain
siang malam, semua itu mengikuti syetan
jangan pernah berkata terlambat belajar karena tua
selagi nyawa masih di kandung badan)

Ayo konco padha guyub lan rukunan
Aja ngasi pisah congkrah lan neng-nengan 
Guyub rukun iku marakake ruso
Pisah congkrah lan neng-nengan iku dosa

(ayo saling guyub dan rukun
jangan saling berseteru
guyub rukun itu menjadikan kuat
berseteru itu dosa)

Ing sahrene dawuh rukun iku nyata 
Ayo enggal dha nglakoni aja gela 
Aja rikuh aja isin aja wedi 
Kudu enggal dilakoni selak mati

(pesan untuk rukun itu nyata
ayo segera dilakukan, agar tidak kecewa
jangan malu, jagan takut
harus segera dilaksanakan, sebelum mati)

Mula ayo bebarengan sekolaho 
Mesti pinter dadi bocah kang utama 
Budhi pekertine becik sarta tata
Woh-wohane bakal bekti marang wong tuwa

(ayo bersekolah
jadilah anak yang pintar
berbudi pekerti baik dan tata krama
akhirnya berbakti kepada orang tua)

Ing sahrene dawuh rukun iku cetha
Ayo enggal dha nglakoni aja gela
Ayo sekolah nyang madrasah Al-Qur’an
Padha ngaji Qur’an ana Mangkuyudan

(pesan untuk rukun itu nyata
ayo segera dilakukan, agar tidak kecewa
ayo sekolah ke madrasah Al-Quran
mengaji Al-Quran di Pesantren Mangkuyudan

Syair yang diambil dari Sholawat Wasiat tersebut, akan menyambut para peziarah saat masuk ke makam KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta. Kiai Umar yang lahir pada 5 Agustus 1916 merupakan seorang tokoh ulama kharismatik dari Solo.

Menurut pengasuh Pesantren Al-Inshof Mojosongo, KH Abdullah Sa’ad, Kiai Umar termasuk sebagai salah satu ‘cagak bumi’ pada zamannya (di era 1980-an,). “Kiai Maksum Lasem suatu ketika pernah menyebut, ada beberapa ulama yang menjadi ‘cagak bumi’, mereka yakni KH Arwani Amin Kudus, KH Abdul Hamid Pasuruan, Habib Anis Al-Habsyi Solo dan KH Umar Abdul Mannan Solo,” ungkapnya pada sebuah kesempatan.

Tidak hanya itu, KH Mubasyir Mundzir Bandar Kidul Kediri, juga pernah menyatakan bahwa Kiai Umar yang seumur hidupnya selalu menjaga wudhu dan shalat berjamaah itu adalah salah seorang anggota wali autad, yakni tingkatan yang setiap masa anggotanya hanya empat orang.

  1. Makam KH. Idris Jamsaren

Alamat : Desa Ngenep, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

K.H. Idris Jamsari merupakan penerus kepengasuhan Pondok Pesantren tertua di Solo yakni Pondok Jamsaren yang didirikan pada tahun 1750 pada masa Paku Buwono IV. Pengasuh pertama adalah Kyai Jamsari dari Banyumas, setelah beliau wafat kepengurusan Pondok digantikan oleh putranya  Kyai Jamsari II. Karena banyak Kiai yang diburu dan ditangkap oleh Belanda maka Kiai Jamsari II melarikan diri, ada yang mengatakan beliau melarikan diri Kediri tepatnya di desa Jamaren Kecamatan Pesantren.

Kemudian Pesantren Jamaren mengalami kekosongan  sekitar 50 tahun lamanya. Disaat seperti itu munculah K.H. Idris yang berasal dari Klaten menghidupkan kembali situasi Pondok tepatnya pada tahun 1878. Pada masa K.H Idris Pesantren Jamaren mengalami perkembangan yang sangat pesat.

K.H Idris merupakan cucu Ulama besar dari Klaten yaitu Kyai Imam Rozi pendiri pesantren Singo Manjat dari desa Tempursari, Ngawen, Klaten. Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro.

Kiai Imam Rozi adalah sahabat karib dari Kiai Jamsari II. Beliau wafat pada tahun 1872 dalam usia 71 tahun dan dimakamkan di Tempursari. Pengelolaan Pondok Pesantren Singo Manjat diteruskan oleh menantunya, yang merupakan ayah dari K.H Idris yakni Kiai Zaid. K.H Idris Jamaren merupakan seorang mursyid Thariqoh Syadziliyah. Thariqoh Syadziliyah sendiri muncul di Pulau Jawa baru pada abad 19, ketika para santri Jawa yang sebelumnya belajar di Makkah dan Madinah kembali pulang ke tanah air. K.H Idris Jamaren termasuk generasi awal pembawa Thariqoh Syadziliyah di tanah Jawa bersama Syaikh Ahmad Nahrawi Muhtaram Al-Banyumasi ulama Haramain yang berasal dari Banyumas. Mereka berdua mendapatkan ijazah kemursyidanya didapatkan dari Syekh Shalih seorang mufti Madzab Hanafi di Mekah.

loading...

Pada Makam K.H. Idris Jamsaren terkesan agak kotor dan hanya terdapat potongan plastik berbentuk persegi panjang seperti pengaris yang sudah pecah yang bertuliskan nama beliau yang sudah mulai memudar dan sulit untuk dibaca. Penulis sendiri merasa kesulitan saat mau ziarah ke makam beliau. Saat pertama kali datang ke komplek makam haji  penulis bertanya pada orang sekitar tetapi mereka tidak tahu. Saat penulis mencari di google juga tidak menemui lokasi tepatnya padahal makam haji itu sangat luas. Penulis juga tidak menemukan gambar makam beliau samasekali. Akhirnya pada kesempatan kedua penulis berhasil menemukanya. Padahal makam beliau berada tepat diamping makam K.H. Ahmad Siroj. Rupanya orang sekitar lebih mengenal makam K.H. Ahmad Siroj dari pada makam K.H. Idris Jamsren. Mungkin karena agak lamanya jarak wafat kedua Ulama tersebut

  1. Makam K.H. Ahmad Siroj

Alamat : Desa Pajang, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

Kyai Ahmad Siroj, bagi masyarakat Solo dan sekitarnya cukup dikenal dengan sapaan mBah Siroj. Beliau selalu berpakaian khas dengan memakai iket(blangkon), berbaju putih, bersarung ‘wulung’ dan memakai  ‘gamparan’ tinggi walau sedang bepergian jauh. Tidak hanya kekhasan dalam berpakaian, namun beliau dikenal juga sebagai seorang ulama yang arif, shaleh, dan mempunyai kharisma. Setiap ucapannya, konon memiliki sejumlah makna (sasmita). Bahkan di jajaran Kota Solo, beliau dikenal sebagai seorang Waliyullah dengan beberapa karomah yang dimilikinya. Maka, berdasarkan kepribadian dan sikap hidup serta istiqamah beliau, banyak muridnya yang senantiasa menyelenggarakan haul untuk mengenang wafat beliau setiap tahunnya.

Kyai Ahmad Siroj merupakan putra Kyai Umar atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Pura, salah seorang Waliyullah. Makam Kyai Imam Pura berada di Susukan, Kabupaten Semarang.  Menurut sumber yang ada, Kyai Imam Pura ini bila ditarik lebih adalah memiliki garis keturunan dengan Sunan Hasan Munadi, salah seorang paman R. Patah yang ditugaskan mengislamkan daerah lereng Gunung Merbabu sebelah utara, atau sekarang dikenal sebagai Desa Nyatnyono.

Kyai Ahmad Siroj mempunyai beberapa saudara, di antaranya adalah Kyai Kholil yang bermukim di Kauman, Solo, dan Kyai Djuwaidi yang bertempat tinggal di Tengaran, Kabupaten Semarang. Keduanya sudah almarhum. Semasa mudanya, Kyai Ahmad Siroj selalu ta’dhim pada gurunya. Bila berjanji selalu ditepati. Bila berkesanggupan, pasti dijalani. Sejak kecil memang beliau telah kelihatan menonjol bila dibandingkan dengan teman-teman seusianya.

Beliau bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras maupun status sosial dan kelompok moral macam apapun. Dengan penjual bakso di Notosuman yang beragama Khatolik dan seorang Tionghoa, beliau berhubungan baik dan saling berkunjung. Bahkan hingga kini setiap ada haulnya Kyai Ahmad Siroj, penjual bakso tersebut berkenan mengirim tiga kambing serta beberapa kuintal beras untuk menyukseskan acara haul tersebut.

Dengan Romo Petrus Sugiyanto, dijalin juga persahabatan. Kyai Ahmad Siroj sering diundang makan dan sering melakukan sholat di rumahnya. Begitupun Romo tersebut sering mengunjungi beliau. Kyai Ahmad Siroj tidak segan makan satu piring dengan santrinya atau orang yang menginginkan mendekati beliau. Bila mereka butuh uang, beliau tidak segan-segan membantunya. Sebaliknya, bila beliau meminta uang, bukan untuk diri pribadi tapi untuk orang lain yang membutuhkannya.

 

Sewaktu masih muda, Kyai Ahmad Siroj berguru kepada beberapa ulama besar. Di Pesantren Mangunsari yang berada di Nganjuk, Jawa Timur, beliau menimba ilmu kepada Kyai Bahri. Di Pesantren Tremas yang berlokasi di Pacitan, Jawa Timur, beliau berguru kepada K.H. Dimyati At-Tirmizi, dan di Semarang, beliau berguru kepada Kyai Sholeh Darat.

Kyai Ahmad Siroj termasuk pengikut Tariqah Qadariyah Naqsabandiyah sebagaimana yang diamalkan oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani. Beliau terkenal sebagai ‘abid (ahli ibadah). Beliau senantiasa berjamaah shalat lima waktu, jarang sekali beliau shalat sendirian. Shalat sunnah rawatibqabliyah dan ba’diyah selalu dijalankan secara lengkap. Yang empat rakaat dijalankan empat rakaat.

Shalat Dluha dilakasanakan oleh beliau secara kontinyu sebanyak delapan rakaat, meskipun sedang berada di rumah orang lain. Sedangkan antara maghrib dan isya’, beliau melakukan shalat awwabin. Doa yang banyak dipanjatkan oleh beliau adalah “Ya Allah, Tuhan kami, Engkaulah yang kami tuju dan ridha-Mu yang kami cari. Berilah kepada kami ridha-Mu dan kecintaan-Mu serta ma’rifat-Mu.”

Silaturahmi termasuk ibadah yang beliau gemari dan rajin dilakukan. Beliau acap menerima tamu dari pelbagai kalangan dan tamu-tamu itu dilayaninya dengan baik. Saat tengah malam tiba, beliau selalu bangun untuk menjalankan shalat tahajjud atau qiyamul lail.

Semasa hidup, beliau mendirikan Pesantren di Jalan Honggowongso 57 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah di atas tanah seluas 200 m². Kitab yang diajarkan oleh beliau, selain Al-Qur’an dan Hadits adalah Sullamut Taufiq, Safinatun-Najah, Duratul-bahiyyah dan Fathul Qorib. Selain itu, banyak pula ajaran beliau yang sifatnya hafalan.

  1. Makam Kyai M. Mubin Shoimuri

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Mubin Shoimuri adalah putra dari KH Shoimuri yang merupakan pengasuh pondok pesantren As Siroj sesudah wafatnya mbah Sirodj. Saat dipegang KH Mubin Shoimuri kemudian tempat ini dibangun rumah dan pondok yang bagus. Santri lambat laun juga bertambah banyak, kalau bulan puasa bahkan ada sekitar 200 santri yang ikut mengaji di sini. KH Mubin Shoimuri juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Surakarta 2003-2008, mengasuh pondok sampai akhirnya dia wafat pada tahun 2007.

  1. Makam K.H Cholil

Alamat : Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota. Surakarta

KH Cholil adalah anak dari Kiai Imam Pura, Makam Kyai Imam Pura berada di Susukan, Kabupaten Semarang.  Menurut sumber yang ada, Kyai Imam Pura ini bila ditarik lebih adalah memiliki garis keturunan dengan Sunan Hasan Munadi, salah seorang paman R. Patah yang ditugaskan mengislamkan daerah lereng Gunung Merbabu sebelah utara, atau sekarang dikenal sebagai Desa Nyatnyono. Kiai Imam Pura ini memiliki beberapa keturunan, di antaranya adalah Kyai Sirodj, Solo, dan Kyai Djuwaidi yang bertempat tinggal di Tengaran, Kabupaten Semarang.

  1. Makam K.H. Ahmad Shofawi

Alamat : Makam Pulo Laweyan, Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

K.H. Ahmad Shofawi  salah satu pendiri Pondok al- Muayad Mangkuyudan Solo, KH. Ahmad Shofawi, putera dari Akram bin Ikram bin Thohir lahir di Kota Solo pada tahun 1879. Selain sebagai salah satu tokoh pendiri Al-Muayyad, juga dikenal sebagai seorang pengusaha yang dermawan lagi sholeh. Juga wira’i, cermat dan hati-hati dalam menjalankan syariat, tawaddhu’ dan rendah hati. Beliau sangat menyayangi ulama dan kyai-kyai serta berbahasa Jawa halus (Kromo Inggil).

Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan agama terutama dari sang Bapak. Setelah menginjak usia remaja, Shofawi mondok di Pesantren yang diasuh Kiai Ahmad Kadirejo Klaten guna mempelajari dan mendalami ilmu tasawuf, Thoriqoh Naqsabandi. Di pesantren ini pula ia bertemu dengan sahabatnya, KH Abdul Mannan (ayah KH Ahmad Umar), yang kelak bersama-sama mendirikan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan.

Saat menjadi santri, Shofawi bercita-cita menghafal Al-Quran, akan tetapi hal tersebut tidak sempat terwujud. Namun disamping itu, ia juma memiliki tiga cita-cita lainnya, yaitu; berkediaman di dekat (mangku) masjid, menunaikan ibadah haji dengan kapal berbendera Islam, dan memiliki anak-anak yang mangku (mengasuh) pondok pesantren. Cita-cita tersebut, di kemudian hari, semuanya telah terwujud. Putera-puterinya kini menjadi pengasuh berbagai pondok, antara lain KH Rozaq Shofawi (Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo) dan Nyai H. Siti Maimunah Baidlowi, mendampingi suaminya KH A. Baidlowi (almarhum), mengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di Brabo.

Kembali ke Solo, Shofawi muda kemudian menekuni dunia usaha. Di bidang dunia usaha, Kiai Shofawi terkenal sebagai pengusaha yang bonafide dan maju. Di saat orang masih menggunakan alat tenun tangan, beliau telah menggunakan alat tenun mesin, suatu yang sangat langka pada masa itu. Kualitas barang selalu dijaga, pelayanan yang baik dan barang dijual dengan layak. Kesemuanya membuat perusahaan batik dan tenun cap “Pohon Kurma” milik beliau dapat menguasai pasar Solo dan Surabaya. Dengan kekayaannya, beliau gunakan untuk membantu berbagai macam pihak, termasuk menyediakan keperluan para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam barisan kiai Sabilillah maupun Hizbullah yang terkenal dengan “Pasukan Lawa-lawa”.

Tak hanya itu, Mbah Kaji Sapawi, begitu sapaan masyarakat kepadanya, turut membantu pembangunan masjid dan pesantren di berbagai daerah, antara lain 3.500 meter persegi untuk membangun pesantren, madrasah dan masjid Al-Muayyad, Laweyan Solo. Kayu jati untuk masjid di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta-pun, atas pembiayaan beliau. Pondok pesantren lainnya juga banyak dibantunya, seperti pesantren Serang Rembang, pondok pesantren Gontor Ponorogo dan lain sebagainya.

  1. Makam K.H. Muhammad bin Sulaiman

Alamat : Makam Pulo Laweyan, Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Muhammad bin Sulaiman Ulama ahli Tafsir dari Solo. KH Muhammad bin Sulaiman merupakan pengembara ilmu dalam bidang al-Quran. beliau memiliki 4 jalur sanad. 1). Syaikh Dimyathi bin Abdullah Termas 2). Syaikh Muhammad Abdul Bari bin Muhammad Amin al-Madani. 3).Syaikh Muhammad Munawwir bin Abdullah Rasyad. 4).Syaikh Muhsin bin Abdullah Assegaf. Makam KH Muhammad bin Sulaiman masih satu komplek dengan makam KH Ahmad Shofawi dan KH Abdul Ghani.

  1. Makam K.H. Abdul Ghani

Alamat : Makam Pulo Laweyan, Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

K.H. Abdul Ghani yang lahir pada tahun 1919 ini merupakan seorang ulama yang haus akan ilmu agama. K.H. Abdul Ghani mendapat ijazah Thoriqoh syadiliyah pertama dari K.H.R Ma’ruf Mangunwiyoto yang masih keturunan dari Kyai Imam Rozi pendiri pesantren Singo Manjat dari desa Tempursari, Ngawen, Klaten. Walaupun sudah mendapat ijazah Thoriqoh syadiliyah ternyata beliau ingin lebih mendalaminya lagi. Hal itu beliau tunjukkan dengan mondok di Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring,  Muntilan, Magelang, Jawa Tengah yang didirikan oleh Kiai Abdurrauf bin Haan Tuqa pada tahun 1982, di pondok ini  K.H. Abdul Ghani mendapat ijazah Thoriqoh syadiliyah dari Kiai Ahmad Abdul Haq, putra sekaligus penerus Thoriqoh syadiliyah dari K.H. Dalhar.

Seperti K.H. Idris Kacangan, K.H. Abdul Ghani merupakan mursyid Thoriqoh syadiliyah non pesantren. Beliau menyebarkan tarekat ini di pusat kota surakarta tepatnya di Masjid Jami M. Thohir Jl. Yosoroto Belakang BSM KC, Laweyan, Solo, Surakarta. Saat mengemban amanah di masjid Yosoroto.

Kiai yang juga dikenal sayang dengan anak-anak dan selalu berusaha shalat berjama’ah ini, mengadakan banyak kegiatan keagamaan, di antaranya adalah sema’an Al-Qur’an yang diselingi dengan penjelasan ayat yang dibaca, rutin setiap malam Rabu. Dan, khusus pada malam Rabu terakhir diselingi dengan pembacaan shalawat Burdah karya Imam Bushiri Selain mengajar di Yosoroto, Kiai Sadjadi juga mengajar santri-santri Al-Muayyad. Kitab yang diajarkannya adalah tentang perbandingan madzhab “Al-Mizanul Kubro” karya Syekh Abil Mawahib bin Ahmad bin Aly al-Anshory.

Sedangkan di Masjid Tegalsari Solo beliau mengajarkan Tafsir Jalalain, matan ghoyah wat taqrib dan Jawahirul Bukhori. idak hanya itu, ternyata Kiai Sadjadi juga seorang dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta sejak 1947-1987. Pernah bergabung dalam Laskar Sabilillah Kota Surakarta (1946), juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surakarta dari fraksi NU (1964-1965) dan menjabat mustasyar NU Kota Surakarta (1987). Sampai akhir hayat pada tahun 1987, beliau terus mengabdi untuk masyarakat.

  1. Makam K.H. Reksodipo Penewu

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Reksodipo Penewu adalah putra dari pangeran Suryodipo seorang bangsawan Mataram pada jaman Sultan Agung.

  1. Makam K.H. Samanhudi

Alamat : Desa Banaran, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo

KH Samanhudi adalah pendiri Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905 di Solo, yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI) pada 11 November 1911. Pada 12 Agustus 1912 SI diskors oleh pemerintah Belanda lantaran dianggap berbahaya, sehingga Anggaran Dasar pun terpaksa diubah menjadi terbatas lokal.

Pada 10 September 1912 HOS Tjokroaminoto masuk SI. SI kemudian berbadan hukum, dan berubah dari organisasi dagang menjadi organisasi politik. Dalam perkembangannya, SI pecah menjadi SI Putih yang dipimpin H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta, dan SI Merah yang berhaluan sosialisme kiri dan dipimpin oleh Semaun yang berpusat di Semarang.

Pada kongres di Madiun, SI Putih berubah menjadi Partai Sarekat Islam (PSI), dan lalu menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSSI) pada 1927. SI Merah berubah menjadi Sarekat Raya (SR) yang menjadi pendukung Partai Komunis Indonesia. KH Samanhudi adalah cikal bakal industri Batik Laweyan dan mewarnai peta perdagangan serta perpolitikan Indonesia.

  1. Makam K.H. Muhammad Ukhrowi

Alamat : Astana Bonoloyo, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Bnajarsari, Kota Surakarta

K.H Muhammad Ukhrowi adalah cikal bakal makam di Bonoloyo. K.H Muhammad Ukhrowi adalah anak dari Ki Ageng Henis yang makamnya di Laweyan Solo. K.H Muhammad Ukhrowi adalah anak dari garwa ampil (selir), sedangkan yang anak dari permaisuri adalah Ki Ageng Pemanahan yang kemudian menurunkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Panembahan Senopati yang akan menurunkan raja-raja mataram Islam. K.H Muhammad Ukhrowi memilih untuk keluar dari keraton dan menyebarkan agama Islam ke wilayah Utara dari keraton Kartasura, dan pada akhirnya sampai akhir hayatnya K.H Muhammad Ukhrowi wafat di daerah Kadipiro, Banjarsari, Surakarta dan dimakamkan di Pasarean Bonoloyo, K.H Muhammad Ukhrowi yang merupakan cikal bakal, makamnya terletak di bawah pohon besar yang berada di tengah-tengah pemakaman Bonoloyo. Di pemakaman Bonoloyo, Kadipiro, Banjarsari, Solo juga dimakamkan pelawak terkenal yaitu Djudjuk Djuwariah atau Djudjuk Srimulat.

  1. Makam K.H. Ali Darokah

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Ali Darokah adalah tokoh sentral yang pernah mengasuh pondok pesantren jamsaren yang didirikan oleh Kiai Jamsari dari Banyumas. KH Ali Darokah wafat tahun 1997.

  1. Makam K.H. Zahid

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Zahid menantu dari Kyai Imam Rozi pendiri pondok pesantren Singo manjat, Tempursari, Ngawen, Klaten.

  1. Makam K.H. R Ma’ruf Mangunwiyoto

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Ma’ruf Mangunwiyoto adalah anak dari Kiai Abdul Muid. Kiai Abdul Muid (Mursyid Thariqah Syadziliyyah) Kiai Abdul Muid adalah dzuriyah keempat Kiai Imam Rozi (Tempursari, Ngawen, Klaten) melaui jalur Ibu Ny. Thohir, putri Kiai Zaid, yang berasal dari Gabudan, Solo. K.H.R Ma’ruf Mangunwiyoto yang masih keturunan dari Kyai Imam Rozi pendiri pesantren Singo Manjat dari desa Tempursari, Ngawen, Klaten adalah orang yang pertama kali memberikan ijazah K.H. Abdul Ghani sebagai seorang mursyid Thoriqoh syadiliyah.

  1. Makam K.H. Ahmad Danuri bin K.H Abdul Ghani

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

KH Ahmad Danuri adalah anak dari K.H. Abdul Ghani yang merupakan mursyid Thoriqoh syadiliyah dimakamkan di Makam Pulo Laweyan Solo.

  1. Makam K.H. Nurrahman

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam Kyai Muhammad Asfari

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Muhammad Tafsir

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Ahmad Sahlan

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Abdul Qodir

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Djamaludin

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Abu Amar

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Syarif Husain bin Ibrahim al-Hadad

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam K.H. Syarif Hasyim bin Ibrahim al-Hadad

Alamat : Pracimaloyo Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kab. Sukoharjo

  1. Makam Punggawa Baku Pendamping Perjuangan RM. Said (Pangeran Sambernyowo).

Punggawa baku atau Punggawa bakujoyo atau Punggawa Kawandoso adalah sebuah sebutan bagi pasukan khusus di bawah pimpinan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo. Kekuatan punggawa baku tidak perlu diragukan lagi, karena dari dibawah kepemimpinan RM Said punggawa kawandoso mampu memenangkan perang-perang besar melawan Belanda. Berikut ini adalah beberapa Punggawa baku yang dimakamkan di daerah Solo / Surakarta

  1. Kyai Ngabei Joyowidento Troketon, Karangasem, Solo
  2. Kyai Ngabei Joyoyudo Gombong, Kadipiro, Solo
  3. Mas Demang Poncowigeno / Joyo Alap –alap Brengosan, Purwosari, Solo
  4. Kyai Setroketu, Hastana Bibis Luhur, Solo

Baca juga : “Daftar Makam Tempat Ziarah di Klaten

Nah bagaimana banyak sekali bukan wisata religi di Kota Surakarta, apabila daftar sejumalah Makam tempat ziarah di  Surakarta di atas ada kekeliruan penulisan nama, gelar atau tempat mohon partisipasi anda untuk mengoreksi nya dengan meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Atau bagi anda yang ingin menambahkan tempat ziarah di Surakarta yang belum ada di daftar diatas maka dapat mengirimkanya melalui email saya lewat halaman contact us di bawah , atau bisa anda tinggalkan di kolom komentar agar dapat saya tambahkan ke daftar diatas. Terima kasih sudah mau mampir di blog Gudang Misteri, semoga sedikit informasi ini bermanfaat.

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Surakarta |