Wejangan Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Selo dan Sejarah Ki Ageng Selo

Wejangan Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Selo dan Sejarah Ki Ageng Selo – Selepas berguru kepada Sunan Bonang, nama Kalijaga disematkan pada Raden Syahid yang kemudian menjadi salah satu bagian walisanga di tanah Jawa dengan tugas dakwah menyebarkan ajaran-ajaran agama. Serupa dengan mentornya, Sunan Bonang, dalam dakwah Sunan Kalijogo cenderung ‘sufistik berbasis salaf’  bukan sufi panteistik (pemujaan semata).   Selain itu, dalam dakwah beliau juga tetap memilih kesenian dan mempertahankan kebudayaan sebagai sarananya, sehingga Sunan Kalijaga bisa lebih gampang mengadakan pendekatan. Toleransi pada budaya lokal menjadi kunci dalam dakwahnya,salah satunya adalah ajaran dengan memanfaatkan seni ukirseni wayangkarawitan, dan pedalangan, tak ketinggalan seni suara suluk.

wejangan sunan kalijaga kepada ki ageng selo

wejangan sunan kalijaga kepada ki ageng selo

Beberapa lagu suluk yang populer berjudul Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul menjadi bukti kepopuleran penyebaran ajaran kebaikan dari Sunan Kalijaga terhadap masyarakat.   Selain itu tradisi perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu adalah ide kreasinya. Sedanhkan mengenai ilmu tata ruang, lanskap pusat kota berujud kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula adalah konsep hasil pemikiran dari Sunan Kalijaga.

Sebelum wafat dan dimakamkan di Desa Kadilangu, Demak, Sunan Kalijaga acapkali juga memberikan wejangan terhadap orang-orang dekatnya, termasuk Ki Ageng Selo. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Sunan Kalijaga, meskipun pekerjaannya hanya bertani, Ki Ageng Selo juga seringkali memperoleh wejangan, nasehat, pun pesan dari Sunan Kalijogo yang acapkali dikaitkan dengan pekerjaannya.   Segala perilaku hidup dianalogikan dan kemudian dikupas makna filosofinya, termasuk juga alat untuk bertani berujud cangkul.

Bahwa Pacul terdiri dari 3 bagian, yang pertama adalah plat besi dinamakan sebagai Pacul itu sendiri.  Yang kedua adalah bawak, yang merupakan bagian melingkar pada pacul dan dimasukkan doran.  Sedangkan yang ketiga adalah doran, yaitu gagang dari cangkul.

PACUL
Dari kata “ngipatake barang kang muncul lan mendugul”  kita bisa mengambil makna   makna tentang membuang bagian yang tidak rata. Bahwa sifat  memperbaiki ada pada kondisi ini.   Sadar sebagai manusia yang tak rata adalah sadar sebagai manusia yang terdapat banyak dosa, oleh karenanya kita harus selalu berbuat baik yaitu dengan cara membuang hal-hal yang ‘mendugul’ berujud dosa tadi.

BAWAK
Adalah  obahing awak alias gerakan tubuh. Ini memiliki makna filosofi bahwa sudah semestinya sebagai orang hidup harus tetap bergerak supaya memperoleh  kesehatan ragawi. Lain dari itu adalah satu keniscayaan badan ini tetap bergerak untuk bekerja agar segala kegiatan duniawi ini mampu tercukupi.

DORAN

Bisa di definisikan sebagai “Donga Marang Pangeran” yaitu Berdoa terhadap Tuhan. Mengondisikan kita sebagai umat sudah sepantasnya meminta pertolongan kepada Tuhan, berdo’a adalah salah satu medianya.

Baca juga : “Kisah Sunan Kalijaga Bertemu Nabi Khidir AS

loading...
gapura makam ki ageng selo

Gapura pintu masuk ke makam ki ageng selo di desa tawang, purwodadi kabuapaten grobogan

Dalam kitab Babad Tanah Jawi disebutkan, Ki Ageng Selo adalah keturunan Raja MajapahitBrawijaya V. Pernikahan Brawijaya V dengan Putri Wandan Kuning melahirkan Bondan Kejawen atau Lembu Peteng.

Lembu Peteng yang menikah dengan Dewi Nawangsihputri Ki Ageng Tarub, menurunkan Ki Ageng Getas Pendawa. Dari Ki Ageng Getas Pendawa lahirlah Bogus Sogom alias Syekh Abdurrahman alias Ki Ageng SeloMakam ki Ageng Selo di desa Tawang, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Selo, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

“Masyarakat di Jawa, khususnya di pedesaan masih percaya pada mitos masyarakat ini, bila terjadi petir berteriak sambil berkata, “Gandrik! Aku Putune Ki Ageng Selo” (“Gandrik, Aku cucu Ki Ageng Selo”). Mengatakan kalimat itu sambil  berdiri tegak dengan mengacungkan kepalan tangan ke langit,” ujar juru kunci makam Ki Ageng Selo, Priyo. Cerita masyarakat tentang penangkapan petir itu dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Alkisah , suatu hari Ki Ageng Selo yang tinggal di desa Tawang , Purwodadi,  pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun.

Halilintar atau bledheg menyambar persawahan, membuat warga desa yang di sawah pontang panting menyelamatkan diri. Tetapi Ki Ageng Selo tetap mencangkul sawah. Tiba-tiba dari langit muncul petir menyambar Ki Ageng. Petir itu konon berwujud seorang kakek-kakek. Ia segera menangkap petir itu. “Wahai, Kilat. Berhentilah mengganggu penduduk sekitar,” kata Ki Ageng Selo kepada petir yang berada di tangannya.

Baca juga : “Kisah Sunan Kalijaga Merampok Sunan Bonang

“Baiklah. Aku tidak akan mengganggu penduduk lagi, juga beserta anak-cucumu,” jawab petir. Oleh Ki Ageng Selo petir itu kemudian diikat di pohon Gandrik. Lega hati penduduk desa,  mereka tidak takut lagi disambar petir jika ke sawah.  Penduduk desa menyambut Ki Ageng Selo penuh rasa haru dan menyalami tangannya dengan mencium tangannya.

Ia tetap meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah hari sore, selesai mencangkul dia pulang sambil membawa petir tadi. Keesokan harinya dia ke Demak,  “ bledheg “dihaturkan kepada Sultan Trenggono di Demak. Oleh Sultan Trenggono, “bledheg“ ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “bledheg“ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg“ dan diminumnya.

Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “bledheg” tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “bledheg” hancur berantakan. Untuk mengenang kejadian itu, dibuat gambar kilat pada kayu berbentuk ukiran sebesar pintu masjid. Lantas mereka menyerahkannya kepada Ki Ageng Selo. Dengan senang hati Ki Ageng Selo menerimanya dan dipasang di pintu depan masjid Demak. Pintu itu masih bisa dilihat hingga sekarang.

Baca juga : “Misteri Dusun Kasuran dan Sunan Kalijaga yang Coba Disantet melalui Kasur

Kisah yang menjadi legenda masyarakat itu masih menjadi tanda tanya sampai sekarang. Kisah itu hanya sekedar dongeng atau sebuah cerita yang mempunyai makna yang tersirat. Itulah wejangan Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Selo dan Sejarah Ki Ageng Selo, makna yang dapat kita petik bahwa dengan cangkul ternyata tetap ada yang bisa kita kuak, yaitu menggali lapisan  yang ada di dalam lebih diperlukan dibanding  sebatas pada  lapisan luaran saja.  Ialah tanah-tanah pengertian yang mewujud kedalam bentuk lapisan pemahaman dan penerimaan pada perilaku hidup manusia.

Wejangan Sunan Kalijaga kepada Ki Ageng Selo dan Sejarah Ki Ageng Selo |