Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Boyolali

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Boyolali – Boyolali memiliki banyak sekali tempat wisata. Salah satu wisata yang banyak sekali diminati adalah wisata religi atau wisata spiritual. Kabupaten Boyolali memang memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius, mencari asal usul garis keturunan dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang ada berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kabupaten Boyolali dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.

makam ki ageng kebo kenongo di boyolali

makam ki ageng kebo kenongo di boyolali

Berikut ini daftar lengkap Makam tempat ziarah di Boyolali :

  1. Makam Ki Ageng Kebo Kenanga

Alamat : Dukuh Pengging, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Ki Ageng Kebo Kenongo lahir pada tahun 1473 M. Bangunan makam Ki Ageng Kebo Kenongo dibuat pada 4-8-1989. Ki Ageng Kebo Kenongo atau biasa disebut dengan Ki Ageng Pengging merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V. Beliau merupakan cucu dari raja terakhir Kerajaan Majapahit Brawijaya V. Raja Brawijaya V memiliki putri bernama Ratna Pembayun yang menikah dengan Prabu Handayaningrat dan memiliki 3 putra yaitu Kyai Ageng Kebo Kanigoro yang petilasannya berada di Selo, Kyai Ageng Kebo Kenongo serta Raden Kebo Amiluhur. Kyai Ageng Kebo Kenongo menggantikan ayahandanya sebagai Bupati Pengging maka beliau dimakamkan di daerah kekuasaannya. Beliau merupakan ayah dari Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijoyo yang merupakan pendiri dari Kerajaan Pajang. Makam Ki Ageng Kebo Kenongo ini perlu diangkat sebagai objek wisata karena merupakan keturunan dari raja besar yang ada di Jawa.

Menurut Serat Siti Jenar, Kebo Kenanga bertemu Syekh Siti Jenar sesudah menjadi penguasa Pengging. Dikisahkan keduanya berdiskusi tentang persamaan agama Hindu, Buddha, dan Islam. Akhirnya, dicapai kesepakatan jika ketiga agama tersebut pada hakikatnya sama, yaitu sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa, hanya tata cara peribadatannya saja yang berbeda. Ki Ageng Kebo Kenanga Pengging menikah dengan kakak perempuan Ki Ageng Butuh (murid Syekh Siti Jenar pula). Dari perkawinan itu lahir seorang putra bernama Mas Karebet.

Menurut Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Pengging dicurigai Raden Patah hendak memberontak karena tidak mau menghadap ke Demak. Patih Wanapala (versi Serat Siti Jenar menyebut Patih Wanasalam) dikirim ke Pengging untuk menyampaikan teguran. Satu tahun berlalu dan Ki Pengging tetap menolak menghadap. Apalagi beliau gencar mendakwahkan ajaran Syekh Siti Jenar yang dianggap sesat oleh pemerintah Demak. Maka, Sunan Kudus pun dikirim untuk menghukum mati Ki Ageng Pengging. Setelah melalui perjalanan panjang, rombongan Sunan Kudus akhirnya tiba di Pengging. Ki Pengging merelakan kematiannya daripada harus menghadap Raden Patah. Akhirnya, beliau pun meninggal dunia setelah titik kelemahannya yaitu ujung siku ditusuk keris oleh Sunan Kudus.

Menurut Serat Siti Jenar, Ki Ageng Pengging Kebo Kenongo meninggal karena kemauannya sendiri. Sebelumnya, beliau dikisahkan berhasil menyadarkan Sunan Kudus tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang sebenarnya. Akhirnya, Ki Ageng Pengging meninggal dunia dengan caranya sendiri, bukan karena ditusuk Sunan Kudus. Pada intinya, kematian Ki Ageng Pengging disebabkan karena penolakannya terhadap pemerintahan Demak. Ia adalah murid terbaik Syekh Siti Jenar, yaitu seorang wali yang mengajarkan kesederajatan manusia dan menolak basa-basi duniawi. Murid Syekh Siti Jenar yang menjadi Kyai Ageng hampir tersebar menyeluruh di Pulau Jawa, di takutkan karena pengaruhnya yang luas akan mendirikan kerjaan baru. Dan yang menjadi sasarannya adalah Kyai Ageng Kebo Kenongo karena beliau adalah menantu Brawijaya V, yang ditakutkan akan mendirikan Majapahit tahap kedua.

  1. Makam Ki Ageng Singoprono

Alamat : Desa Nglembu, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali

Ki Ageng Singoprono adalah putra dari Ki Ageng Wongsoprono II yang berdiam di daerah desa Manglen, sekarang desa Manglen adalah Kelurahan Walen kecamatan Simo Boyolali. Beliau  adalah Putra Raden Djoko Dandun (Syaikh Bela Belu) Putra Raja Majapahit ( Brawijaya V) . Ki Ageng Singoprono adalah anak tunggal, Ki Ageng Singoprono mempunyai istri bernama Tasik wulan, mereka tetap tinggal di daerah tersebut, Ki Ageng Singoprono adalah sosok yang berbudi luhur, suka menolong dan sakti mandraguna, pekerjaan nya  adalah bercocok tanam, berjualan nasi dan dawet dipinggir jalan ± 4 km dari rumahnya. Sifat baik hatinya terlihat apabila ada orang yang membutuhkan pertolongan, pasti beliau akan menolong , makanan yang dijualpun tidak sekedar di jual, tetapi juga diberikan kepada orang yang membutuhkan , walaupun demikian tak membuat beliau gulung tikar, begitu pula dengan hasil bercocok tanam nya pun melimpah ruah. Sehingga banyak orang yang datang untuk meminta kepada Ki Ageng Singoprono. Ki Ageng Singoprono pun memberi tanpa mengharapkan kembali atas apa yang sudah diberikan

Demikianlah kebaikan Ki Ageng Singoprono tersebar sampai di seluruh daerah sekitar, tetapi ada yang tidak suka atas kebaikan dan kemurahan hati Ki Ageng Singoprono karena disanjung – sanjung dan terkenal ke dermawannanya sampai keseluruh daerah sekitar. Yang tidak suka Ki Ageng Singoprono adalah Kyai Rogo runting, Kyai Rogo runting iri dengan keberhasilan Ki Ageng Singoprono, sebenarnya mereka berdua adalah sahabat baik. Pada suatu saat kyai Rogo runting ingin menunjukkan kekuatannya kepada Ki Ageng Singoprono, dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan Rogo Runting ke selatan ( sekarang kelurahan Nglembu, kecamatan Sambi Boyolali ) diatas benang dililitkan sebutir telur, kemudian itu digulirkan di atas benang tersebut dan ajaibnya telur tersebut tidak jatuh, telur tersebut terus menggelinding diatas benang, lalu telur tersebut akhirnya membentur gunung sebelah selatan. Sehingga terdengar suara keras dan menggelegar dan mengakibatkan gunung tersebut tugel / putus puncaknya.

Sehingga gunung tersebut dinamakan Gunung Tugel, nama itu masih terkenal sampai sekarang . Secara tidak langsung kejadian tersebut sebagai alat untuk menunjukkan kesaktian Kyai Rogo runting kepada Ki Ageng Singoprono, namun Ki Ageng Singoprono tidak tergerak hatinya untuk membalas perbuatan Kyai Rogo runting tersebut. Namun setelah di diamkan Kyai Rogo runting semakin menjadi – jadi, kemudian secara halus Ki Ageng Singoprono mengiyakan hal tersebut. Maksudnya menanggapi  Kyai rogo runting, tetapi Kyai Rogo runting mengaggap hal tersebut sebagai balasan dari Ki Ageng Singoprono. Ki Ageng Singoprono pun akhirnya marah, beliau menggunakan cara yang sama untuk membalas Kyai Rogo runting, dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan tugel ke utara, di atas benang juga diletakkan sebuah telur, kemudian telur tersebut menggelinding tanpa terjatuh dan akhirnya membentur pegunungan Rogo runting, sehingga mengeluarkan suara keras dan menggelegar, tetapi kejadian tersebut tidak mengakibatkan gunung tersebut rusak. Namun Kyai Rogo runting tubuhnya tercerai berai atau tubuhnya terontang – anting. Jasad Kyai Rogo runting kemudian dimakam kan di daerah perbatasan kecamatan Klego dan kecamatan Simo yang dikenal sebagai Pegunungan Rogo runting.

Hati Ki Ageng Singoprono yang begitu baik memberikan kesan bagi penduduk setempat bahwa mungkin Kyai itu sebenarnya salah seorang Wali. Pembicaraan demikian makin meluas sehingga wilayah tempat tinggal Ki Ageng Singoprono  sampai sekarang disebut Walen. Kesaktian dan kebaikan hati Ki Ageng Singoprono  tersebar luas ke mana-mana sehingga Sultan Bintara di Demak pun tertarik mendengar cerita punggawa tentang Kyai itu. Tidak mengherankan jika Bintara ingin mengunjungi Ki Ageng Singoprono  untuk membukti­kan seberapa jauh kesaktian Kyai  itu.

Agar kedatangannya tidak mencurigakan, Sultan Bintara menyamar sebagai pengemis. ketika tiba di depan rumah Ki Ageng Singoprono , pada saat Sultan datang Ki Ageng Singoprono sedang menjalankan Sholat di pelepah daun pisang. Dan tdk lama dari itu Ki Ageng Singoprono pun masuk ke rumah. Segera pengemis bertemu dan pengemis itu disambut dengan penuh hormat, bahkan disilakan duduk di balai-balai. Ki Ageng Singoprono sendiri duduk di lantai tanah, bagaikan menghadap Raja. Setiap kali pe­ngemis itu bertanya, dijawabnya dengan bahasa tinggi penuh hormat, serta dimulai dan diakhiri de­ngan sembah. Setelah tiga kali berturut-turut Ki Ageng Singoprono  menyembah, pengemis itu tidak tahan lagi. Dia turun dari balai-balai dan Ki Ageng Singoprono  dipeluk serta dipuji sebagai Kyai yang Waskitha (tajam pengamatannya).

Bersamaan dengan itu, Demak  mengemukakan bahwa ia akan menghajar Kebo Kenanga, Adipati Pengging yang congkak. Ki Ageng Singoprono tidak menyetujui gagasan itu karena Kebo Kenanga adalah orang yang sakti. Kenyal kulitnya, tidak bisa dilukai oleh senjata; keras tulangnya bagaikan besi; dan kuat ototnya bagaikan kawat baja serta Adipati Pengging tersebut adalah pejabat yang jujur serta Kyai yang mempunyai Karomah dan berjuang di Kadipaten. Kyai Ageng Pengging hanya difitnah oleh orang yg mempunyai dendam. Untuk mengalah­kannya harus diusahakan suatu cara tertentu. Pen­deknya, Sultan Bintara harus bersabar. Saran ini ditafsirkan Sultan Bintara sebagai usaha Ki Ageng Singoprono untuk menghalangi maksudnya, bahkan Sultan menuduhnya bersekutu dengan Kebo Kenanga. Kyai pun menunduk, sedih, lalu menggeiengkan kepala tiga kali.

Untuk menghindari perdebatan yang berkepanjang­an, Ki Ageng Singoprono  segera berkata agar Sultan  membuktikan ucapannya. Caranya sebagai berikut. Jika menjelang penyerangan nanti pasukan Demak memukul bendhe (gong kecil) sebagai tanda pe­nyerbuan dan bunyinya pelan, itu tanda serangan mereka akan gagal total. Jika berbunyi keras, akan lancar gempuran pasukan Demak, dan kemenangan jelas pada pihak Bintara. Dengan agak jengkel, Sultan  keluar dari rumah. la berjalan lebih tegap, tidak lagi sebagai pengemis. Akan tetapi, alangkah terkejut hatinya ketika tiba di suatu desa. Di sana ia menjumpai pasukan Demak bersiaga. Karena tidak tega, Pasukan Demak meng­ikuti perjalanan Sultan  dari belakang sambil berlatih perang-perangan. Kesetiaan pasukan itu dipuji Sultan. Sebagai tanda terima kasih, desa itu dinama­kannya dusun Manggal. Kata ini berasal dari kata manggala, yang artinya pimpinan pasukan.

Tibalah saatnya bagi Sultan  untuk membuktikan kata-kata Ki Ageng Singoprono. Bendhe yang tergantung di pohon duwet diperintahkan untuk dipukul. Sultan  heran, yang terdengar hanya suara goyangan bendhe bergesekan dengan ranting pohon duwet. Pukulan kedua menghasilkan bunyi aum, suara harimau. Penduduk yang tinggal di desa lain, tidak jauh dari peristirahatan pasukan Demak, berteriak bahwa mereka mendengar suara simo (harimau). Oleh karena itu, desa itu hingga kini disebut desa Simo.

Suara aum dari gong akhirnya meyakinkan Sultan Bintara bahwa Ki Ageng Singoprono memang benar-benar sakti dan membenarkan jika masalah Kyai Kebo Kenongo hanya difitnah oleh orang yang punya dendam. Dan Beliau pun bertitah kepada pasukannya agar kembali ke Demak bersamanya. Tidak lama kemudian, Ki Ageng Singoprono, yang se­benarnya sudah tua, merasa bahwa ajalnya hampir tiba. la berpesan kepada istrinya, Nyai Singoprono  jika ia meninggal agar dikuburkan di gunung yang putus karena ledakan benturan panah Kyai Nogorunting.

Demikianlah, Ki Ageng Singoprono  akhirnya dimakam­kan di Gunung Tugel. Oleh penduduk setempat, Ki Ageng Singoprono juga disebut Ki Ageng Singoprono  Simowalen. Perlu diketahui, desa Simo yang terletak di sebelah timur dan desa Walen yang terletak di sebelah barat berjarak empat kilometer. Gunung Tugel dijadikan tempat bersemedi atau bertapa orang – orang, barang siapa bersemedi di Gunung Tugel tapi orang tersebut tidak boleh mempunyai nafsu olo. Pasti akan mendapat berkah dari Ki Ageng Singoprono. Tetapi istri Ki Ageng Singoprono meninggal dan dimakamkan disebelah timur makam / Gunung Ki Ageng Singoprono, kemudian makam tersebut di tendang  oleh Kyai Sinoprono dan jatuh di Desa Krisik. Karena Ki Ageng Singoprono tidak mau disejajarkan denga istrinya , karena istri Ki Ageng Singoprono mempunyai watak yang tidak baik.

Cerita tentang Gunung Tugel memang lebih tepat disebut legenda karena kisahnya menjelaskan adanya peninggalan. Dari legenda ini kita dapat mengambil hikmah bahwa dengki, dendam, dan iri hati dapat menghancurkan diri sendiri, bahkan lebih dari itu. Sementara itu, kesabaran, keikhlasan, dan kebaikan hati kepada sesama, mendatangkan pahala dan ke­tenteraman serta kebahagiaan untuk diri sendiri mau­pun orang lain.

  1. Makam R. Ng. Yosodipuro

Alamat : Desa Benda, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

  1. Ng. Yosodipuro I masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Pajang. Beliau adalah putra dari pasangan Raden Tumenggung (R.T.) Padmonegoro dan Siti Mariyam (Nyi Ageng Padmonegoro). R.T. Padmonegoro pada masa mudanya adalah prajurit Mataram yang mengikuti Sultan Agung Hanyokrokusumo pada waktu melawan Kompeni (Belanda). Karena kepandaian dan keberaniannya dalam masalah perang, beliau dipercaya dan diangkat sebagai Bupati di Pekalongan.

Sejak dalam masa kandungan Nyi Ageng Padmonegoro, Yosodipuro sudah mengukir sejarah yang berbeda dengan yang lainnya. Sebelum bayi lahir, yang kelak diberi nama Bagus Banjar sudah memiliki tanda-tanda yang berbeda dengan bayi lain pada umumnya. Suatu hari di rumah kediamannya yaitu di Desa Pengging, R.T. Padmonegoro kedatangan sesepuh dari daerah Pedan yang mengaku sebagai Petinggi Palar yang mengatakan bahwa berdasarkan suatu nujum, kalau ada bayi yang lahir di hari Jumat Pahing maka akan membawa keberuntungan yang sangat baik. Kelak di kemudian hari, bayi tersebut akan memiliki kelebihan dari anak yang lainnya.

Usai subuh, Nyi Ageng Padmonegoro melahirkan seorang bayi laki-laki. R.T. Padmonegoro sangat gembira dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena keinginannya untuk mempunyai seorang anak laki-laki akhirnya terkabul. Bayi itu lahir dalam keadaan masih terbungkus, dan kalung usus. Menurut kepercayaan, bayi yang pada waktu lahir lehernya berkalung usus, besok kalau besar akan selalu pantas, serasi, dan luwes dalam mengenakan pakaian. Usus yang melingkar dibenahi hingga terlepas, lalu dibersihkan.

Bayi mungil yang lahir pada tahun 1729 itu diberi nama Bagus Banjar. Karena Bagus Banjar lahir pada waktu subuh, maka ia juga dikenal dengan panggilan Jaka Subuh. Oleh kakeknya, Kyai Kalipah Caripu, bayi tersebut diberi nama Jaenal Ngalim untuk memperingati nama dari guru R.T. Padmonegoro ketika di Palembang, yang bernama Kyai Jaenal Abidin. Setelah Banjar kecil menginjak usia 8 tahun, ia diantarkan Sang ayah ke suatu daerah, yaitu Bagelen, untuk berguru berbagai macam pengetahuan kepada Kyai Hanggamaya, sahabat karib kakek Bagus Banjar.

Bagus Banjar mendapatkan pelajaran menulis Jawa, menulis Arab, membaca buku-buku sastra dan Al-Qur’an, serta menjalani rukun Islam. Bagus Banjar tergolong cerdas, cakap, dan memiliki ketajaman berpikir. Sehingga, dalam waktu singkat mampu ia mampu menyelesaikan masa bergurunya. Pelajaran yang berat dan tinggi pun ia kuasai, seperti ilmu tentang dasar-dasar kebatinan yaitu bertapa dan melatih kesabaran dengan cara berpuasa mutih selama 40 hari, ngrowot (berpentang hanya dengan mengkonsumsi sayuran), ngebleng (puasa tidak makan, minum, dan aktivitas seksual selama 24 jam), ilmu kanuragan, dan lain-lain. Pada usia 14 tahun, berakhirlah masa bergurunya. Bagus Banjar pulang ke Pengging dengan membawa berbagai ilmu. Sang Guru berharap pada saat kembali dalam kehidupan sehari-hari, Bagus Banjar dapat mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajarinya.

Pengabdian Bagus Banjar diawali di Kraton Kartasura, yang pada saat itu sedang terkena musibah besar, yaitu adanya Perang Cina (Pemberontakan Cina) tepatnya pada tahun Alip 1667.  Bagus Banjar menghadap Sang Prabu, Sri Paduka Kanjeng Susuhunan Paku Buwono (PB) II, dengan tujuan mengabdikan diri. Akhirnya, ia pun diterima oleh Sang Prabu. Pengabdiannya telah menunjukkan kecakapan dan keahlian, terutama dalam bidang sastra. Beliau sangat berjasa bagi kerajaan, hingga suatu saat Kraton Kartasura mengalami masa-masa pelik akibat Perang Cina yang harus terpaksa pindah istana. R. Ng. Yosodipuro I pula ikut berjasa dalam memilihkan tempat baru bagi istana, yaitu di antara Desa  Sala dan Desa Talawangi, tepatnya di sekitar Rawa Kedung Kol. Kelak istana tersebut diberi nama Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Setelah perpindah Kraton Kartasura ke Desa Sala, Yosodipuro diangkat menjadi abdi dalem kadipaten dan bertempat tinggal di bekas Kedung Kol (sampai sekarang kampong tersebut bernama Yosodipuran). Pengabdiannya ini terus dilakukan sampai pada masa pemerintahan PB IV dengan segala permasalahan pasang surut di istana. Pada masa pemerintahan PB IV, diadakan pembaharuan perpustakaan kraton yang telah lama terbengkelai, tidak terurus akibat perang yang berlarut-larut. R. Ng. Yosodipuro I memulainya dengan menulis karya sastra sendiri dengan bahasa yang hidup, sarat dengan makna. Selain itu, menerjemahkan serat-serat karangan berbahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Jawa Baru, antara lain: Baratayuda, Ramayana, Arjuna Wiwaha, Harjunasasrabahu, Serat Rama, Serat Dewa Ruci, dan lain-lain. Beliau juga menerjemahkan karangan berbahasa Arab, seperti Kitab Menak dan Kitab Ambya.

Selain sebagai seorang pujangga, R. Ng. Yosodipuro I adalah seorang ulama, ahli strategi, dan pandai berdiplomasi masalah kenegaraan. Beliau sering menjadi tempat bertanya bagi siapa saja karena sifatnya begitu arif, bijaksana, kata-katanya lugu, lurus atau suka pada jalan yang benar dan membenci pada hal-hal yang buruk. Bahkan pendapat-pendapatnya selalu dibutuhkan oleh raja-raja pada masa itu. Dengan kata lain, beliau sering menjadi penasihat raja.

  1. Makam Ki Ageng Pengging Sepuh atau Prabu Handayaningrat

Alamat : Dusun Malangan, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Makam Sri Mangkurung Prabu Handayaningrat Hing Pamungkas, atau Makam Ki Ageng Pengging Handayaningrat, di Pengging Kamardikan, Banyudono, Boyolali. Nama itu menyegarkan ingatan akan tokoh dengan aji Sasra Bhirawa. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah guru Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya, tokoh utama “Nagasasra dan Sabuk Inten” karya SH Mintardja. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah ayah dari Ki Kebo Kanigara dan Ki Ageng Pengging alias Kebo Kenanga dan Nyai Ageng Tingkir, atau dengan kata lain beliau adalah kakek dari Karebet yang kemudian berjuluk Jaka Tingkir yang kemudian menjadi Sultan Hadiwijaya Pajang. Ki Ageng Pengging Sepuh sendiri sebelum membuka dan mendirikan tanah perdikan Pengging,bergelar Pangeran Handayaningrat yg merupakan salah satu putera Brawijaya V/Bravijaya Pamungkas yang setelah Majapahit runtuh menyepi ke Gunungkidul.

Nama asli Pangeran Handayaningrat / Andayaningrat adalah Jaka Sengara. Ia diangkat menjadi bupati Pengging karena berjasa menemukan Ratu Pembayun putri Brawijaya raja Majapahit (versi babad), yang diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Jaka Sengara berhasil menemukan sang putri dan membunuh penculiknya.

Jaka Sengara kemudian menjadi bupati Pengging, bergelar Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging I (versi lain menyebutnya Jayaningrat). Kedua putranya menempuh jalan hidup yang berbeda. Kebo Kanigara yang setia pada agama lama meninggal saat bertapa di puncak Gunung Merapi. Sedangkan Kebo Kenanga masuk Islam di bawah bimbingan Syekh Siti Jenar.  Nama sebenarnya Ki Ageng Pengging Sepuh ialah Sharif Muhammad Kebungsuan atau Sayyid Muhammad Kebungsuan putra bungsu Sayyid Husein Jumadil Kubro hasil perkawinannya dengan Putri Jauhar dari Kerajaan Muar Lama, Malaysia. Sayyid Muhammad Kebungsuan juga merupakan pendiri Kerajaan Maguindanao di Philippines.

  1. Makam Raden Tumenggung Padmonegoro

Alamat : Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Makam Raden Tumenggung Padmo Negoro berada di kawasan wisata Pengging, dengan jarak sekitar 12 km ke arah timur dari Kota Boyolali. Siapa Padmo Negoro? Dia kakek moyang pujangga besar Raden Ngabei Ranggawarsito dan tentu juga pujangga R. Ng. Yosodipuro. Makam tokoh tersebut ramai dikunjungi setiap Kamis malam.

  1. Makam Ratu Sekar Kedhaton

Alamat : Dukuh Plumbungan, Desa Plumbungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Sebuah makam tua ada di antara sebuah sumber air. Inilah Makam Sekar Kedhaton di dekat Umbul Kendat. Terletak di Dukuh Plumbungan, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, sekitar 15 km arah timur dan Kota Boyolali. Ada sejarah tentang putri dan Prabu Brawijaya V. Raja Majapahit abad XIV di umbul itu.

loading...

Konon dulu dalam Pelarian dari MAJAPAHIT salah satu putri Brawijaya V yaitu DYAH AYU SEKAR KEDATON ikut ngenger atau berdiam dengan Salah satu putri Brawijaya V yaitu : Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat (Raja Kerajaan Pengging). lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging.

Nama Pengging itu sendiri disebutkan dalam kitab Negara Kretagama pada Pupuh XVII bait 10. Dilokalisir dikawasan sebelah barat delta Brantas yaitu daerah hulu bengawan Solo. Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi DYAH AYU SEKAR KEDATON – muksa di Umbul Kendat Pengging dan beliau mempunyai kesaktian bisa berbicara dengan tumbuh-tumbuhan dan alam.

  1. Makam Eyang Rogo Runting

Alamat : Dusun Karang Nongko, Desa Tanjung, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali

Eyang Rogo Runting dikenal sebagai seseorang yang mempunyai ilmu kebatinan maupun kesaktian sangat tinggi. Boleh dibilang, Eyang Rogo adalah pendekar pilih tanding saat itu. Sehingga ketika wafat pun, makamnya menebarkan aura magis sangat kuat. Konon, bekas-bekas kedigdayaan Eyang Rogo dapat dirasakan oleh para peziarah. Konon tempat ini tidak di benarkan bila untuk bertindak asusila,terbukti pernah ada  muda-mudi kesurupan dengan suara menyerupai harimau,dan penunggu makam dan pedanyangan setempat tidak terima akan perbuatan muda-mudi tersebut.

Selain itu bukti kesaktian Eyang Rogo Runting tidak bisa dilepaskan dari legenda asal muasal Gunung Tugel tempat Makam Eyang Singoprono kini disemayakamkan. Diceritakanya, Eyang Singoprono putera dari Kyai Ageng Wongsaprana II  yang berdiam di dusun Manglen desa Walen Kecamatan Simo. Beliau adalah keturunan Raja Majapahit yakni Brawijaya V. Eyang Singoprono adalah sosok yang berbudi pekerti luhur suka menolong dan sakti mandraguna. “Pekerjaan beliau  hanyalah bercocok tanam, berjualan nasi dan dawet. Sifat baik hatinya terlihat jika ada orang yang membutuhkan pertolonganya walaupun tidak diminta sekalipun,” terang Suyadi..

Kebaikan Kyai Singoprono tersebar ke seluruh daerah.  Sayang tindakan terpuji tersebut tidaklah disukai oleh Eyang Rogo Runting. Beliau merasa iri dengan keberhasilan dan kebaikan Eyang Singoprono yang selalu disebut-sebut dan dipuji banyak orang, padahal sebenarnya keduanya berteman baik. Pada suatu ketika Eyang Rogo Runting ingin menunjukkan kesaktiannya pada Eyang Singoprono, dengan cara mengaitkan benang dari Pegunungan Rogo Runting yang berlokasi di  Desa Nglembu Kecamatan Sambi menuju arah ke Selatan. Konon diatas benang tersebut diletakkan sebutir telur yang kemudian telur  itu digulirkan.

Bahkan teryata telur tesebut menggelinding di atas benang dan tidak jatuh dan terus menggelinding dan akhirnya membentur gunung di sebelah selatan dengan mengeluarkan suara keras menggelegar yang mengakibatkan gunung tersebut  hingga tugel atau putus puncaknya. Hingga sekarang gunung itu dinamai Gunung Tugel. Itulah salah satu  kesaktian Eyang Rogo Runting.

  1. Petilasan Ki Ageng Pantaran

Alamat : Dusun Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali

Ki Ageng Pantaran adalah salah seorang tokoh penyebar agama Islam yang hidup di zaman kerajaan Demak Bintoro. Jasa Ki Ageng Pantaran banyak dikenal masyarakat setempat, ketika berhasil mendirikan masjid di tempat itu. ”Masjid inilah yang disebut masjid Pantaran yang artinya seusia atau sepantaran dengan pembangunan masjid Demak Bintoro,” kata Sardjono. Konon, wilayah yang kemudian dinamakan Desa Pantaran itu semula kondisinya gersang. Tetapi kemudian menjadi makmur setelah Ki Ageng Pantaran bersama salah seorang pertapa berhasil menemukan mata air besar di perut gunung Merbabu. Mata air tersebut kini dikenal dengan nama Grojokan Sipendok. Airnya mengalir jernih melalui sungai yang membelah Desa Pantaran.

Berada di Pantaran Desa Candisari Kecamatan Ampel, yang berjarak tempuh dari kota 17 km. Pengunjung juga dapat menikmati pemandangan alam di kaki gunung Merbabu dan air terjun Si Pendok. Upacara atau tradisi ritual Bukak Luwur sudah menjadi tradisi setiap tahun yang berlangsung secara turun-temurun sejak nenek moyang, dilaksanakan pada hari Jumat pekan terakhir di bulan Sura. Sejak pagi hari warga sudah berbondong-bondong datang dengan sabar menanti rangkaian acara. Bahkan ratusan warga telah datang ke makam yang berada disebelah barat Dukuh Pantaran itu, sejak malam sebelumnya. Mereka ada yang menginap di kompleks pemakaman Ki Ageng Pantaran tersebut. Mereka melakukan ziarah dan berdoa di makam Syeh Maulana Ibrahim Maghribi. Ngalap berkah, agar keinginannya kesampaian. Usai acara pun masih banyak warga yang berdatangan ke makam. Warga berdesakan masuk ke makam Syeh Maulana Ibrahim Maghribi untuk memanjatkan doa.

Tradisi Bukak Luwur ini dimulai pada hari Kamis sore dengan melakukan pembersihan makam, kemudian malam harinya diadakan tirakatan di lokasi Makam Syieh Maulana Maghribi. Pada pagi harinya (yang bertepatan dengan hari jumat terakhir bulan Asyuro) rangkaian acara akan diawali dengan kirab kain lurup makam, berikut sesaji lainnya dari rumah juru kunci makam yang diikuti oleh warga setempat dan orang-orang yang tergabung dalam Paguyuban PAKUSUBO Surakarta. Sedangkan warga di sekitar datang ke makam dengan membawa makanan dan lauk pauknya untuk kenduri di makam. Kemudian, acara penggantian lurup, tabur bunga, tahlil, kenduri dan doa serta diahkiri dengan tradisi Ngalap Berkah. Pada setiap acara ritual akhir bulan Sura tersebut, para pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah Boyolali. Tetapi juga banyak yang berasal dari luar Boyolali, seperti Semarang, Grobogan, Yogja, Solo, Magelang, Jawa Timur, Jakarta, bahkan Sumatera. Hawa dingin di lereng gunung Merbabu itu tak menyurutkan warga untuk mengikuti ritual buka luwur di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi atau Ki Ageng Pantaran.

Menurut kepercayaan masyarakat, kain lurup yang lama ini bisa memberi berkah dalam mencari rejeki. Hal ini seperti halnya acara ritual rebutan Apem di Jatinom, Klaten dan ritual rebutan Apem Keong Mas di Pengging, Banyudono. Masyarakat percaya jika mendapatkan apem akan mendapatkan barokah dan mudah dalam mencari rejeki, seperti halnya mendapatkan kain lurup Ki Ageng Pantaran.

  1. Petilasan Ki Kebo Kanigoro

Alamat : Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali

Berada di ketinggian 2.968 di atas permukaan laut dan berada di lereng gunung merapi Desa Samiran sudah masuk ke dalam kategori Desa Wisata. Terkenal dengan Gunung Merapi termasuk Petilasan atau Makam dari Kebo Kanigoro yang merupakan murid dari Kyai Ageng Pengging dan Kyai Ageng Pengging merupakan murid dari Syekh Siti Jenar. Konon Kebo Kanigoro menjadi salah satu sasaran perburuan oleh Sultan Demak dan Wali Songo selain Syeikh Siti Jenar karena pada waktu tersebut Syekh Siti Jenar dianggap menyebarkan ajaran sesat dan membahayakan bagi penduduk Kerajaan Demak.

Bersama dengan pengikutnya Ki Ageng Kebo Kanigoro melarikan diri ke berbagai tempat hingga akhirnya menemukan tempat yang aman yakni di lereng Gunung Merapi. Selagi bersembnyi Ki Ageng Kebo Kanigoro membangun sebuah tempat persembunyian dan juga mengajarkan ilmunya. Suatu malam Ki Ageng Kebo Kanigoro muksa dalam pertapaannya dan petilasan tempat Ki Ageng Kebo Kanigoro masih di lestarikan hingga sekarang dimanfaatkan sebagai tempat ziarah. Pada malam Jumat Legi sering diselenggarakan selamatan apem dan ketan petilasan. Ketika malam suro atau pada malam awal bulan Muharram, warga Desa Samiran melaksanakan pawai sedekah bumi yang berawal dari Goa Raja menuju ke Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat berlimpah yang diberikan.

Untuk sampai di tempat Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro cukup mudah dengan akses jalan yang baik dan terdapat petunjuk dari Desa Samiran, setelah melewati pintu depan petilasan yaitu gapura besar yang diatasnya ditulis dengan judul besar Kawasan Petilasan Kebo Kanigoro pelancong tinggal mengikuti jalan tersebut. Jalannya memang tidak besar dan juga tidak terlalu sempit sepanjang perjalanan di kiri dan di kanan pelancong dapat menemukan view pemandangan rumput hijau dan udara yang sejuk alami, hawa sejuk dari gunung Merapi terasa sampai tulang namun tak mengurangi rasa syukur terhadap Keindahan yang Kami dapatkan pagi ini.

Tidak Cukup jauh melakukan perjalanan sahabat pelancong tiba dilokasi Petilasan, disambut oleh pagar depan petilasan yang berdiri kokoh dengan sebuah gerbang tua hanya suara angin yang dapat di dengar karena suasana yang menyapa sangat hening. Setelah masuk ke lokasi Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro ada dua pohon besar dan sebuah pekarangan luas yang rapi dan bersih, disediakan pula kamar mandi di sebelah kiri gerbang. Selama berkeliling di Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro tak ada suara warga yang ada hanya bisikan angin, dan kedua mata tertuju pada sebuah bangunan berbata merah yang disebut sebagai pendopo dan merupakan tempat dimana beliau dimakamkan.

Sejarah yang menyelimuti Petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro masih tersimpan dan sang Juru Kunci yang ada disini siap membagikan sejarah tersebut kepada pelancong yang datang kesini dengan membawa hal yang baik dan tidak bermaksud merusak apa yang ada karena masih sangat terjaga kebudayaan leluhur termasuk keasrian alamnya.

  1. Pesanggrahan Pracimoharjo

Alamat : Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Boyolali.

Pesanggrahan didirikan oleh sunan PB VI. Sekitar tahun 1803-1804 pesanggrahan tersebut merupakan bangunan megah. Pada tahun 1817 pesanggrahan digunakan sebagai tempat istirahat saat beliau melawat ke wilayah bagian barat serta menikmati keindahan alam dan melihat hasil perkebunan kopi saat itu. Pembangunan dilanjutkan secara lebih intensif pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono X, yang memerintah dari tahun 1893-1939. Selama pemerintahannya, Pakubuwono X banyak membangun berbagai macam infrastruktur salah satunya yaitu pesanggrahan Pracimoharjo. Karena kemegahannya, pesanggrahan ini dahulu seperti miniatur keraton karena terdiri dari pendapa, tamansari yang lengkap dengan keputrennya, dan dalem ageng yang biasa digunakan oleh Pakubuwono X untuk tetirah serta taman dan halaman yang luas.

Pada tahun 1948, Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dipimpin oleh Slamet Riyadi pernah menjadikan pesanggrahan tersebut sebagai markas. Akan tetapi, saat agresi militer Belanda kompleks pesanggrahan dibakar karena dikhawatirkan markas tersebut direbut oleh Belanda. Hal tersebut tampaknya merupakan faktor utama dari rusaknya Pesanggrahan Pracimoharjo. Saat ini yang tersisa dari pesanggrahan ini hanya beberapa bangunan saja diantaranya yaitu:

–      Sanggar Pamelengan, berupa bangunan yang di dalamnya terdapat batu yang biasa digunakan oleh Pakubuwono X sembahyang.

–          Sumur kuno

–          Bekas air mancur, dua buah terletak di depan areal bekas pendopo dan satu buah berada di halaman belakang (sebelah barat Sanggar Pamelengan).

–          Rumah pesanggrahan, berupa bangunan berarsitektur indis yang sekarang digunakan oleh juru kunci pesanggrahan.

–          Tugu pojok

–          Gapura masuk di empat penjuru mata angin

–          Beberapa sisa struktur dan pagar keliling.

Pada tahun 2012 dibentuk Komite Pembangunan Pesanggrahan Pracimoharjo, yang merupakan kerjasama antara Keraton Kasunanan Surakarta selaku pemilik lahan, Pemkab Boyolali, dan Kementerian BUMN selaku fasilitator. Komite tersebut berencana untuk membangun tempat wisata pendidikan di lahan kosong situs Pesanggrahan Pracimoharjo. Bangunan tersebut rencananya terdiri dari pendopo, tempat kesenian, workshop untuk galeri seni dan kerajinan, taman, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Oleh karena itu dilakukan permohonan rekomendasi pembangunan/perbaikan Pesanggrahan Pracimoharjo, Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali kepada BPCB Jawa Tengah. Maka pada tanggal 12 – 13 Juli 2012 dan 16 – 17 Juli 2012 dilakukan Tes Pit oleh BPCB Jawa Tengah

Menurut keterangan dari pihak Keraton Kasunanan Surakarta, bahwa areal lahan Pesanggrahan Pracimoharjo ini masih milik Keraton Kasunan Surakarta. Akan tetapi sebagian dipakai oleh masyarakat untuk dibangun rumah dengan status hak pakai. Penggalian dilaksanakan di areal tanah yang berada di dalam pagar lama dari Pesanggrahan Pracimoharjo.

Bangunan pendopo agung yang dulu merupakan bangunan utama di pesanggrahan ini sekarang hanya berupa tanah lapang. Rencananya dari pihak pengembang di lokasi bekas pendopo agung ini akan didirikan bangunan pendopo. Adapun komponen bangunan Pesanggrahan Pracimoharjo yang tersisia adalah: Gapura Masuk, Bekas Air Mancur, Rumah Peristirahatan (Sanggar Palereman), Sanggar Pamelengan, Tugu pojok, Pagar keliling dan sisa struktur bangunan

Secara umum, keberadaan pesanggrahan merupakan merupakan satu-kesatuan dari kerajaan tradisional Jawa pada waktu itu. Beberapa pesanggrahan yang masih bisa dijumpai keberadaanya antara lain Sunyaragi yang dibangun oleh Kasultanan Cirebon). Beberapa pesanggrahan yang dibangun oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat diantaranya Tamansari (dibangun atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono I dan selesai pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono II), Pesanggrahan Ambarbinangun (dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VI) dan Pesanggrahan Ambarukmo (dibangun pada masa Hamengkubuwono VII). Sedangkan beberapa pesanggrahan milik Kasunanan Surakarta diantaranya Pesanggrahan Langenharjo (dibangun pada masa Pakubuwono IX), Pesanggrahan Pracimoharjo (digunakan pada masa Pakubuwono IX dan Pakubuwono X).

Adanya alun-alun di areal pesanggrahan Pracimoharjo ini merupakan ciri tersendiri dari pesanggrahan tersebut. Di dalam kerajaan tradisional, alun-alun berfungsi sebagai areal publik. Karena letaknya di depan kraton, alun-alun juga berfungsi sebagai tempat untuk interaksi antara raja dengan rakyatnya. Keberadaan alun-alun di pesanggrahan ini sepertinya memiliki fungsi yang sama. Hal tersebut dikarenakan Pakubuwono X merupakan sosok pemimpin yang cukup demokratis. Pada masa pemerintahannya Pakubuwana X memberikan kebebasan berorganisasi dan penerbitan media massa. Ia mendukung pendirian organisasi Sarekat Dagang Islam, salah satu organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia dan pada masa pemerintahannya pula di Surakarta diadakan kongres Bahasa Indonesia I (1938). Terlepas dari fungsinya sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarganya, ternyata pesanggrahan ini juga dilengkapi fasilitas publik, yaitu alun-alun. Dengan demikian, nilai yang dapat diambil dari keberadaan pesanggrahan tersebut adalah bahwa seorang pemimpin tetap harus berpegang teguh pada prinsip Manunggaling kawula lan gusti , yaitu bersatunya antara pemimpin dengan rakyatnya.

  1. Masjid Cipto Mulyo Pengging

Alamat : Dusun Pengging, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Masjid Cipto Mulyo Pengging di Boyolali merupakan masjid peninggalan dari Sunan Pakubuwono X di tahun 1838. Kata cipto mulyo berasal dari bahasa Jawa yang berarti menciptakan suatu kemuliaan di dunia dan akherat. Lokasi Masjid Cipto Mulyo terletak di Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini sangat mudah ditemui hanya berjarak sekitar 3 km dari jalan raya Semarang Solo atau sekitar 15 km dari pusat Kota Boyolali. Masjid ini berada sebelum memasuki gerbang menuju makam seorang pujangga Keraton Surakarta yaitu R.Ng. Yosodipuro.

Masjid peninggalan Sunan Pakubuwono X tersebut berada di kawasan wisata Desa Pengging yang terkenal dengan wisata pemandiannya. Wisata pemandian yang ada di sekitar masjid yaitu pemandian Umbul Pengging dan pemandian Umbul Sungsang. Air pada kedua pemandian tersebut berasal dari sumber mata air.

Sejarah Pendirian Masjid Cipto Mulyo Pengging

Pendirian Masjid Cipto Mulyo Pengging tidak lepas dari hubungannya dengan keberadaan makam R.Ng. Yosodipuro di dekatnya. Menurut sejarahnya, masjid yang ada di Pengging ini didirikan oleh ayah R.Ng. Yosodipuro yaitu Tumenggung Padmonegoro. Saat itu Tumenggung Padmonegoro menjabat sebagai Bupati Pekalongan yang diangkat oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Pada awal pendiriannya oleh Tumenggung Padmonegoro, masjid tersebut dinamakan Masjid Karangduwet. Kemudian masjid tersebut direnovasi oleh Pakubuwono X. Setelah renovasi selesai, Pakubuwono X mengubah namanya menjadi Masjid Cipto Mulyo.

Nilai Arkeologi Masjid Cipto Mulyo Pengging

Masjid Cipto Mulyo Pengging Boyolali ini memiliki nilai arkeologi yang tinggi. Bangunan masjid ini termasuk dalam bangunan kuno dengan nuansa Jawa. Desain masjid dibuat khas Jawa yaitu berbentuk limasan seperti pendopo. Jika masuk ke dalam masjid maka akan terlihat pilar masjid yang terbuat dari kayu jati dan dicat berwarna krem. Halaman dari masjid ini sangat luas dan terbuka bagi siapa saja yang ingin beribadah maupun hanya sekedar beristirahat. Sedangkan pendirian masjid ini bertujuan untuk tempat beribadah bagi raja-raja Surakarta yang sering berziarah ke daerah Pengging.

Masjid Cipto Mulyo yang ada di daerah Pengging Boyolali ini didirikan di atas batur dengan tinggi sekitar 75 cm. Masjid Cipto Mulyo didirikan di atas lahan seluas 15.750 m2 dengan luas bangunan 230 m2. Pintu masuk masjid ini menghadap ke arah tenggara.

Di tiang depan masjid terdapat papan kayu dengan tulisan berbahasa Jawa dalam huruf latin. Tulisan tersebut merupakan tanda dari tanggal saat dilakukan renovasi oleh Pakubuwono X. Huruf latin di tiang depan masjid tersebut bertuliskan Adegipun Masjid Cipto Mulyo Pengging – Banyudono – Boyolali, Selasa Pon 14 Jumadil Akhir 1838 Je yang artinya berdirinya Masjid Cipto Mulyo Pengging – Banyudono – Boyolali pada hari Selasa Pon 14 Jumadil Akhir 1838. Je diartikan sebagai tahun keempat dalam penanggalan Jawa yang jika dikonversikan dalam tahun Masehi yaitu 1909 M. Diperkirakan pembangunan masjid ini hampir berbarengan dengan pendirian tempat peristirahatan kaum bangsawan Keraton Surakarta yaitu Sanggrahan Ngeksipurna. Pada Sanggrahan tersebut juga dilengkapi dengan pemandian.

 

Pada bagian dalam masjid terdiri dari serambi, ruang utama, pewastren, ruang perlengkapan dan ruang juru kunci. Di serambi masjid terdapat tiga pintu utama di tengah bangunan dengan separuh atas diberi kaca. Bagian atas pintu terdapat ornamen kayu dengan tulisan HBX. Di serambi sebelah kanan masjid terdapat bedug besar yang dilengkapin kentongan besar. Di sebelahnya terdapat papan pengumuman masjid. Karena posisi masjid yang miring 24º ke arah utara maka di tengah serambi masjid dapat ditemukan tanda arah mata angin untuk menunjukkan arah kiblat.

Di ruang utama masjid terdapat saka guru berjumlah 4 buah yang terbuat dari kayu jati dan dicat dengan warna krem agar senada dengan warna dinding. Atap masjid yang berbentuk tumpang atau limas terlihat meruncing dari dalam ruang utama masjid ini. Untuk mmperlancar sirkulasi udara diberikan jendela dan dilengkapi dengan kipas angin. Di ruang utama ini terdapat mimbar kayu yang berada di samping mihrab. Di atas mihrab terdapat ornamen kayu bertuliskan 3 huruf Arab.

Pada awal pendirian Masjid Cipto Mulyo Pengging, atap masjid dibuat dari sirap. Namun sekarang sudah diganti dengan atap dari kayu. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi kecil untuk menjaga bangunannya agar tetap kokoh. Beberapa reng kayu dan kusen pintu juga dilakukan penggantian. Begitu pula dengan bagian lantai masjid. Meskipun telah dilakukan beberapa kali renovasi kecil tetapi sebagian besar bangunan masjid masih tetap asli.

Di sebelah barat Masjid Cipto Mulyo terdapat kompleks pemakaman. Tokoh pujangga Keraton Surakarta juga dimakamkan disini yaitu R.Ng. Yosodipuro I, R. Ng. Yosodipuro II dan R.Ng. Yosodipuro III. Keberadaan Masjid Cipto Mulyo Pengging di Boyolali termasuk dalam bangunan bersejarah yang ada di wilayah Boyolali. Masjid tersebut harus dirawat dan dipelihara dengan baik agar terjaga kelestariannya.

  1. Makam Punggawa Baku Pendamping Perjuangan RM. Said (Pangeran Sambernyowo).

Punggawa baku atau Punggawa bakujoyo atau Punggawa Kawandoso adalah sebuah sebutan bagi pasukan khusus di bawah pimpinan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo. Kekuatan punggawa baku tidak perlu diragukan lagi, karena dari dibawah kepemimpinan RM Said punggawa kawandoso mampu memenangkan perang-perang besar melawan Belanda. Berikut ini adalah beberapa Punggawa baku yang dimakamkan di daerah Boyolali.

  1. Kyai Ngabei Joyopuspito Ngendon Kerten, Wetan Bangak, Banyudono, Boyolali
  2. Kyai Ngabei Joyohutomo Ngendon Kerten, Wetan Bangak, Banyudono, Bayolali
  3. Raden Ngabei Joyosentono Mungup, Sawit, Boyolali
  4. Raden Ngabei Joyomursito Krisikan, Simo, Boyolali
  5. Kyai Ngabei Joyotilarso Krisikan, Simo, Boyolali
  6. Kyai Ngabei Joyosemito Ngendo Kerten, Wetan Bangak, Banyudono, Boyolali

Baca juga : “Daftar Makam Tempat Ziarah di Surakarta

Nah bagaimana banyak sekali bukan wisata religi di Kabupaten Boyolali, apabila daftar sejumlah Makam tempat ziarah di  Boyolali di atas ada kekeliruan penulisan nama, gelar atau tempat mohon partisipasi anda untuk mengoreksi nya dengan meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Atau bagi anda yang ingin menambahkan tempat ziarah di Boyolali yang belum ada di daftar diatas maka dapat mengirimkanya melalui email lewat halaman contac us di bawah , atau bisa anda tinggalkan di kolom komentar agar dapat saya tambahkan ke daftar diatas. Terima kasih sudah mau mampir di blog Gudang Misteri, semoga sedikit informasi ini bermanfaat.

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Boyolali |