Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Karanganyar

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Karanganyar – Karanganyar memiliki banyak sekali tempat wisata. Salah satu wisata yang banyak sekali diminati adalah wisata religi atau wisata spiritual. Kabupaten Karanganyar memang memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius, mencari asal usul garis keturunan dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang ada berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kabupaten Karanganyar dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.

makam nyi ageng karang di karanganyar

makam nyi ageng karang di karanganyar

Berikut ini daftar lengkap Makam tempat ziarah di Karanganyar :

  1. Makam Nyi Ageng Karang alias Raden Ayu Diponegoro

Alamat : Desa Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar

Pencetus nama Karanganyar adalah Raden Mas Said atau akrab dikenal panggilan Pangeran Sambernyawa. Nama Karanganyar sendiri berasal dari bahasa Jawa yang bermakna kewibawaan yang rangkap lahir dan batin untuk mencapai tujuan atau cita-cita baru. Asal usul dan cikal bakal Karanganyar berasal dari Raden Ayu Diponegoro atau Nyi Ageng Karang yang saat kecil bernama Raden Ayu Sulbiyah. Dia adalah istri Pangeran Haryo Diponegoro (Adik Sunan Amangkurat Jawa /Pangeran Suryo Putro) Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dan diasingkan ke Afrika Selatan maka Nyi Ageng Karang mengasingkan diri di hutan belantara. “Cikal bakal Karanganyar adalah Nyi Ageng Karang yang bertapa di hutan setelah suaminya ditangkap penjajah Belanda,”

Saat bertapa, Nyi Ageng Karang mendapat wangsit akan bertemu ksatria yang akan meneruskan cita-cita luhurnya. Ksatria tersebut akan dikawal tiga pengikutnya. Beberapa waktu kemudian, Nyi Ageng Karang bertemu dengan Raden Mas Said di dalam hutan belantara. Raden Mas Said dikawal oleh tiga pengikutnya. Nyi Ageng Karang lantas menceritakan wangsit yang diterimanya ketika bertapa kepada Raden Mas Said. Di hutan tersebut, Raden Mas Said diteguhkan bakal menjadi pemimpin baru yang mampu mengayomi masyarakatnya. “Nah, hutan tersebut lalu diberi nama Karanganyar oleh Raden Mas Said,” Setelah meninggal dunia, Nyi Ageng Karang dimakamkan di wilayah Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, Karanganyar. Sementara Raden Mas Said dimakamkan di kompleks Astana Mangadeg yang terletak di wilayah Kecamatan Matesih, Karanganyar.

  1. Makam Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa di Astana Mangadeg

Alamat : Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said  meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun beliau disemayamkan di di desa Karang Bangun Kecamatan Matesih, Di puncak bukit yang terletak pada ketinggian 750 meter dari permukaan laut. Dari kota Solo berjarak sekitar 37 km ke arah timur jurusan Solo-Matesih, di sebelah barat tempat peristirahatan Tawangmangu dapat ditempuh kendaraan beroda dua dan empat sekitar 3 km.

Astana Mangadeg merupakan makam keturunan Kerajaan Mangkunegaran yang dibangun pada tahun 1716. Makam itu terkenal memiliki daya mistis dan tempat sakral yang tidak bisa diperlakukan sembarangan. Posisi dan keberadaan Astana Mangadeg di atas Astana Giribangun di lereng barat Gunung Lawu tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagai leluhur di atasnya yang melindungi, “hamemayungi” menjadi payung keberadaan makam anak cucunya.

Banyak fenomena mistis membuktikan keberadaan Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Makam itu merupakan Raja Mangkunegoro III (sebutan jawa; Mangkunegoro III) keturunan Raja Mataram Panembahan Senopati selalu melindungi dan merestui makam anak cucu di bawahnya. Salah satu yang dimakamkan disini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I. Pangeran Adi terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Tokoh kesohor raja Mangkunegaran dikenal sakti mandraguna dan selalu menjadi rujukan raja-raja Mataraman baik Surakartan (Solo) dan Ngayogyokarto Hadiningrat (Yogya). Di komplek makam Astana Mangadeg juga terdapat Monumen Tri Dharma yang berisi Rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan), Mulat sarira hangrasa wani (berani bermawas diri). Selain R.M. Mas Said alias K.G.P.A.A. Mangkunagoro I di Astana Mangadeg juga dimakamkan K.G.P.A.A. Mangkunagoro II, dan K.G.P.A.A Mangkunagoro III.

  1. Makam Ronggo Panambang di Astana Randusongo

Alamat : Desa Gaum, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar

Kyai Ngabehi Ronggo (Rangga) Panambang ini. Tokoh yang awalnya bernama Raden Mas Sutawijaya ini adalah anak Tumenggung Wirasuta yang tidak bisa mengganti kedudukan ayahnya, tetapi menerima warisan banyak uang dan harta benda peninggalan dari sang ayah. Ronggo Panambang adalah Senopati Pangeran Sambernyawa atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, yang bernama muda Raden Mas Said. Makam di sebelah kanan makam Ronggo Panambang adalah makam isterinya, sedangkan yang ada di sebelah kiri adalah makam selirnya yang berupa badan halus atau peri.

Ketika Raden Mas Said memutuskan untuk memberontak melawan Pakubuwono III, ia mengangkat dua pembantu utama, yaitu pamannya sendiri yang berasal dari Laroh bernama Wiradiwangsa, dan RM Sutawijaya. Ketika pasukan tempurnya sudah besar, Ki Wiradiwangsa diangkat menjadi patih bergelar Kyai Ngabehi Kudanawarsa dan RM Sutawijaya diangkat menjadi pemimpin pasukan dengan gelar Kyai Ngabehi Ronggo Panambang atai Kyai Ronggo Panambang I Di Komplek makam Astana Randusanga ini juga terdapat makam Kyai Ronggo Panambang II dan Kyai Ronggo Panambang III.

  1. Makam Mangkunegoro IV di Astana Girilayu

Alamat : Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar

Astana Girilayu diambil dari nama Desa Girilayu. Desa tersebut terdiri sembilan wilayah dusun. “Nama Girilayu berarti gunung tempat layon atau pemakaman. Astana Girilayu berada di daerah Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, adalah merupakan salah satu kompleks pemakaman  raja-raja Mangkunegara yang dibangun pada tahun 1881. Area pemakaman ini memiliki luas yang tidak cukup luas, Namun tempat ini cukup dikenali karena gedungnya yang sangat Istimewa. Salah satu makam raja tersebut adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara ke IV. Beliau meninggal pada tahun 1811 dan memiliki jabatan sebagai Raja Mangkunegara. Beliau pernah membuat sebuah pabrik gula di Tasikmadu. Beliau juga salah satu orang yang ikut terlibat dalam ide terbangunnya Stasiun Solo Balapan.

Selain itu terdapat juga makam K.G.P.A.A. Mangkunagoro V, K.G.P.A.A. Mangkunagoro VII dan K.G.P.A.A. Mangkunagoro VIII Makam Patih Pramonconegoro, Ki Ageng Atas Angin dan Ki Pagenjahan. Makam Kerabat Mangkunegara yang kebanyakan keturunan Mangkunegoro III dan IV dan para patihnya yang juga keturunan Mangkunegara, yang terbaru adalah G.R.Ay. Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani Soerjosoejarso atau Gusti Noeroel yang merupakan kembang Mangkunegaran.

  1. Makam Bupati Karanganyar Pertama KRT Harjohasmoro di Astana Temuireng

Alamat : Desa Temu ireng, Kecamatan Popongan, Kabupaten Karanganyar

KRT Harjohasmoro merupakan Bupati Karanganyar I atau pertama yang dilantik oleh Sri Mangkunegoro III pada 99 tahun lalu. Setelah wafat KRT Harjohasmoro dimakamkan di komplek pemakaman Temuireng, Popongan, Karanganyar.

  1. Makam H.M. Soeharto Presiden RI Ke-2 di Astana Giribangun

Alamat : Desa Giribangun, Matesih, Karangbangun, Kabupaten Karanganyar

‎ Makam ini dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Mangkunegaran, salah satu pecahan Kesultanan Mataram. Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, sedangkan Giribangun pada 660 meter dpl. Di Astana Mangadeg dimakamkan Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, Mangkunegara II, dan Mangkunegara III.

Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu bukan tanpa alasan; untuk tetap menghormat para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto adalah keturunan Mangkunegoro III. Komplek makam ini memiliki tiga tingkatan cungkup (bangunan makam): cungkup Argo Sari teletak di tengah-tengah dan paling tinggi, di bawahnya, terdapat cungkup Argo Kembang, dan paling bawah adalah cungkup Argo Tuwuh.

Pintu utama Astana Giribangun terletak di sisi utara. Sisi selatan berbatasan langsung di jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin yang berkelok-kelok indah dipandang dari areal makam. Terdapat pula pintu di bagian timur kompleks makam yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg.

loading...

Selain bangunan untuk pemakaman, terdapat sembilan bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga.

Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas. Pada masa Soeharto berkuasa, di areal ini terdapat puluhan kios pedagang yang berjualan suvenir maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan. Namun kini di tempat itu tidak diizinkan lagi menjadi tempat berjualan dengan alasan keamanan dan ketenangan.

Argosari

Makam yang luas itu terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta pula.

Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien Soeharto. Tepat di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat makam Soeharto. Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter persegi, terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan.

Di beranda cungkup seluas 405 meter persegi terdapat areal untuk 48 badan. Yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut. Termasuk yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono beserta istri.

Argokembang

Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas 567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang dapat dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana tersebut.

Argotuwuh

Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argo Kembang, yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.

Bagi pengunjung yang membawa kendaraan bermotor, dipungut retribusi oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk pemeliharaan jalan menuju Astana Giribangun. Pada tahun 2012, retribusi untuk minibus adalah sebesar Rp 5.000. Di lokasi makam, pihak yayasan memungut biaya parkir, untuk minibus sebesar Rp 3.000.

Selain itu, terdapat beberapa pungutan tanpa tanda bukti yang dilakukan oleh yayasan. Yayasan memungut “biaya administrasi” untuk selembar surat izin masuk makam dengan nilai seikhlasnya. Surat izin itu diminta kembali oleh yayasan ketika memasuki cungkup Argosari. Keluar dari cungkup Argosari, pengunjung dipungut lagi “biaya kebersihan makam” oleh yayasan, juga dengan nilai seikhlasnya. Yayasan juga menyediakan jasa foto langsung jadi di dekat makam Pak Harto dengan pungutan sebesar Rp 20.000 per foto.

Astana Giri Bangun dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg Surakarta, dan diresmikan penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan sisa jenazah Soemaharjomo (ayah Tien Soeharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

  1. Makam Syekh Hasan Tafsir

Alamat : Dusun Sintru Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar

Proses penyebaran agama Islam di Kabupatan Karanganyar tidak lepas dari peran Syekh Hasan Tafsir. Pria yang menurut cerita berasal dari Jawa Timur itu merupakan salah satu pionir dalam proses penyebaran agama Islam di wilayah Lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar. Keturunan generasi keempat dari Syekh Hasan Tafsir, Sariman Abdul Aziz, mengatakan, kiai tersebut tiba di wilayah Karanganyar sekitar tahun 1800-an. Menurutnya, tidak ada yang tahu secara pasti kapan sang pemuka agama itu tiba di Karanganyar. Namun, pada masa itu kakek buyutnya datang untuk menyebarkan agama Islam di Lereng Gunung Lawu.

Semasa melakukan penyebaran agama Islam, Syekh Hasan Tafsir menetap di Dusun Sintru, Kelurahan Doplang, Kecamatan Karangpandan. Lokasi itu hanya berjarak beberapa kilometer dari puncak gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut. Saat menetap di sana, ulama itu mendirikan sebuah masjid di Dusun Sintru. Masjid itu didirikan untuk menarik perhatian para warga sekitar agar mau datang belajar agama serta menjalankan ibadah salat lima waktu.

Upaya mendirikan masjid yang dilakukan cukup berhasil dan mampu membawa masyarakat yang tadinya buta tentang agama menjadi mengerti dan mau masuk serta menjalankan ibadah sesuai ajaran agama Islam. Lama-kelamaan, jumlah orang yang mengaji di masjid tersebut semakin banyak dan akhirnya sang ulama mendirikan sebuah pesantren, tidak jauh dari lokasi masjid. Pesantren yang didirikan itu berkembang pesat. Jumlah santrinya juga cukup banyak, berasal dari berbagai lokasi di wilayah Karangpandan dan sekitarnya.

Banyak santri dari Syekh Hasan Tafsir yang kemudian menjadi pemuka agama di daerah asal mereka masing-masing. Ada juga yang menjadi guru ngaji di sekitar Karangpandan, lalu menurunkan ilmu agama kepada para santri dan masyarakat. “Santrinya banyak, ilmu yang ditinggalkan juga sangat banyak seperti kitab-kitab gundul yang bertuliskan tangan,” ucapnya.

Setelah sukses menurunkan ilmu agama kepada masyarakat di Karanganyar, langkah syiar sang kiai akhirnya terhenti pada tahun 1911. Dia tutup usia dan dimakamkan di sebuah makam di Dusun Sintru Desa Doplang. Usia meninggalnya Syekh Hasan, kata Sariman, juga tidak banyak yang tahu. Apalagi, saat ini generasi kedua dan generasi ketiga keturunan sang kiai juga sudah tidak ada. Sehingga, keturunan generasi keempat tidak mendapatkan cerita yang rinci mengenai usia sang ulama.

Setelah Syeh Hasan Tafsir meninggal, pesantren yang didirikan tersebut akhirnya mulai sepi dan ditinggalkan para santirnya. Para santri lebih memilih untuk mengembangkan agama di wilayahnya masing-masing. Tidak hanya itu, masjid dari kayu yang dahulu didirikan juga sudah dipindahkan ke tempat lain. Sebagai gantinya, warga kemudian membangun masjid baru pada sekitar Tahun 1960-an.

  1. Makam KH. Muhammad Qorib alias Kyai Bagus Murtojo/Murtodho

Alamat : Desa Tuban, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar

Kyai Mochammad Qorib (Kyai Bagus Murtojo/Murtodho) pendiri daerah Kalioso (Kaliyoso), terletak 15 km sebelah utara Solo. Kyai Mochammad Qorip memiliki alur keturunan dari Djoko Tingkir (raja kerajaan Pajang) dan  Kyai Ageng Pangeran Manduroredjo – Patih Sultan Agung Mataram. Beberapa anak Kyai Mochammad Qorib menikah Kyai Hasan Mochammad – putra Kyai Baderan I, dan juga dengan 2 anak Kyai Modjo. Wirapatih (Kyai Baderan II) menikah dengan putri dari Kyai Abdul Djalal II – sepupu Kyai Mochammad Qorib.

  1. Makam Kyai Mendeng

Alamat : Dusun Karangmendeng, Desa Gebyog, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar

Kyai Mendeng adalah leluhur  dan sesepuh Dusun Karangmendeng Rw 12, Desa Gebyog, Mojogedang, Karanganyar, Jawa tengah.

  1. Makam Punggawa Baku Pendamping Perjuangan RM. Said (Pangeran Sambernyowo).

Punggawa baku atau Punggawa bakujoyo atau Punggawa Kawandoso adalah sebuah sebutan bagi pasukan khusus di bawah pimpinan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyowo. Kekuatan punggawa baku tidak perlu diragukan lagi, karena dari dibawah kepemimpinan RM Said punggawa kawandoso mampu memenangkan perang-perang besar melawan Belanda. Berikut ini adalah beberapa Punggawa baku yang dimakamkan di daerah Karanganyar.

  1. Kyai Ngabei Joyosantiko Cabean, Kaling, Tasikmadu, Karanganyar
  2. Kyai Ngabei Joyorencono Karang, Kaling, Tasikmadu, Karanganyar
  3. Kyai Ngabei Joyoleyangan Sentonogede, Matesih, Karanganyar
  4. Kyai Surengpati Sepuh / Joyopanamur Sentono Gede, Matesih, Karanganyar
  5. Kyai Surojoyo / Joyopamenang Kedungdowo, Matesih, Karanganyar
  6. Kyai Surogerjito / Joyohulatan Kedungdowo, Plosorejo, Matesih, Karanganyar
  7. Kyai Gunowijoyo, Ganoman, Gunung Malang, Matesih, Karanganyar
  8. Kyai Singodiwongso, Randusongo, Tasikmadu, Karanganyar
  9. Nyai Emban, Emban Pangeran Sambernyawa, Makam di Desa Tumanggul Jatipuro Karanganyar
  10. Gamel (Pemelihara Kuda) Pangeran Sambernyawa, Makam di Desa Gempolan Jatiyoso Karanganyar

Baca juga : “Daftar Makam Tempat Ziarah di Boyolali

Nah bagaimana banyak sekali bukan wisata religi di Kabupaten Karanganyar, apabila daftar sejumlah Makam tempat ziarah di  Karanganyar di atas ada kekeliruan penulisan nama, gelar atau tempat mohon partisipasi anda untuk mengoreksi nya dengan meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Atau bagi anda yang ingin menambahkan tempat ziarah di Karanganyar yang belum ada di daftar diatas maka dapat mengirimkanya melalui email saya di netizenklaten@gmail.com , atau bisa anda tinggalkan di kolom komentar agar dapat saya tambahkan ke daftar diatas. Terima kasih sudah mau mampir di blog Gudang Misteri, semoga sedikit informasi ini bermanfaat.

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Karanganyar |