Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Sukoharjo

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Sukoharjo – Klaten memiliki banyak sekali tempat wisata. Salah satu wisata yang banyak sekali diminati adalah wisata religi atau wisata spiritual. Kabupaten Sukoharjo memang memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata ziarah. Hal ini dikarenakan di wilayah tersebut terdapat banyak makam dan tempat ritual lainnya yang banyak dikunjungi orang yang melakukan kegiatan ziarah, kegiatan religius, mencari asal usul garis keturunan dan kegiatan ritual lainnya. Potensi yang ada berupa makam tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan/desa di Kabupaten Sukoharjo dan sebagian telah berkembang sebagai objek wisata yang cukup dikenal oleh pasar/wisatawan.

Makam Ki Ageng Balak di Sukoharjo

Makam Ki Ageng Balak di Sukoharjo

Berikut ini daftar lengkap Makam tempat ziarah di Sukoharjo :

  1. Petilasan Kasultanan Pajang atau Keraton Pajang

Alamat : Desa Sonojiwan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo

Petilasan Keraton Pajang. Kerajaan Pajang runtuh seiring berdirinya Mataram. Bekas fisiknya nyaris tak terlihat karena termakan usia. Tak ada sisa benteng, bekas bangunan atau semacamnya yang menggambarkan perjalanan fisik Keraton Pajang selama ratusan tahun. Yang masih tersisa dari Keraton Pajang hanyalah sisa-sisa kayu yang dahulunya merupakan getek atau rakit yang pernah dinaiki Joko Tingkir saat melawan buaya. Kemudian sebuah batu yang dulunya menjadi tempat bersemedi dan sebuah sendang yang airnya selalu jernih meskipun terletak di pinggir sungai yang keruh dan  kotor. Konon air sendang ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit jika air ini dipakai untuk mandi atau cuci muka. Di sini juga masih terdapat beberapa artefak peninggalan masa lalu.

  1. Makam Ki Ageng Balak

Alamat : Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo

Makam Ki Ageng Balak atau dikenal juga dengan nama Raden Sujono, putra Prabu Brawijaya V. Di Majapahit, Raden Sujono menjabat sebagai pradot agung (hakim) yang bertugas menegakkan aturan di Keraton Majapahit. Raden Sujono kemudian meninggalkan Keraton Majapahit secara diam-diam, setelah dipaksa menikah oleh Prabu Brawijaya V. Dalam perjalannya mengembara, Pangeran Sujono dihadang oleh dua orang begal (rampok) bernama Simbarjo dan Simbarjoyo. Raden Sujono berhasil mengalahkan Simbarjo dan Simbarjoyo dan keduanya pun sepakat mengabdi sebagai abdi dalem Raden Sujono. Nama Ki Ageng Balak memiliki dua arti dan merupakan turunan dari kisah tersebut. Arti pertama Balak adalah mbalelo atau membangkang (melawan). Ini karena dia menolak perintah Prabu Brawijaya V saat diminta menikah dan saat diminta pulang ke Keraton Majapahit.

Di komplek makam Ki Ageng Balak juga terdapat makam dua orang kepercayaannya yaitu Tumenggung Simbar Rejo dan Simbar Joyo. Selain itu penduduk sekitar masih nguri-uri tradisi mengganti kain penutup makam setiap setahun sekali, ritual tersebut dinamakan Pulung Langse. Ritual tradisi Pulung Langse digelar untuk membersihkan makam sekaligus mencuci dan mengganti kain penutup makam Ki Ageng Balak atau juga yang dikenal Raden Sujono yang dipercaya sebagai keturunan Raja Brawijaya, Majapahit. Dalam puncak prosesi ritual ratusan peziarah yang hadir akan memperebutkan (rayahan – Jawa) gunungan berupa hasil bumi dan nasi dan juga membeli sehelai kain bekas penutup makam.

  1. Makam Ki Ageng Sutowijoyo atau Ki Ageng Majasto atau Ki Ageng Purwoto Sidik atau Ki Kebo Kanigoro atau Ki Ageng Banyubiru

Alamat : Dukuh Sarehan, Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo

Dusun Banyubiru berada di Selatan kota Solo (Jawa Tengah), yang disebut-sebut sebagai tempat Jaka Tingkir (Sultan Kerajaan Pajang) berguru (menimba ilmu). Setelah Jaka Tingkir berguru kepada Kyai Ageng Banyubiru, beliau kemudian melakukan perjalanan ke Gunung Majasto, selanjutnya ke Pajang. Jalurgethek-nya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni: Watu Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge. Selain Sendang Banyubiru, ada “Delapan Sendang” lain sebagai Petilasan Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru), yakni: Sendang Margomulyo, Sendang Krapyak, Sendang Margojati, Sendang Bendo, Sendang Gupak Warak, Sendang Danumulyo, Sendang Siluwih dan Sendang Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan sendang lainnya tersebar di Weru, Sukoharjo.

Semua sendang itu kini airnya telah menyusut. Bahkan Sendang Banyubiru sudah tidak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah “masjid” Dalam kehidupannya, Kyai Ageng Purwoto Sidik (Kyai Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro) beristrikan Nyai Gadhung Melati dan mempunyai anak bernama Nyai Roro Tenggok (Sekar Rinonce). Tersebutlah di dusun Sekardangan (Kec. Kanigoro Kab. Blitar)

Berdasarkan legenda, babad, sejarah dan serat Centini, ada kesamaan pokok ceritanya. Beliau putra (ke – 107) Raja Majapahit terakhir yaitu BRAWIJAYA V. Runtuhnya Majapahit membuat beliau bersama keluarganya cerai berai dan mengungsi ke arah barat atau timur. Dalam pengungsian Kyai Ageng Suto Wijoyo memakan nama samaran JOKO BODHO. Setelah berjumpa dengan Sunan Kalijaga, Beliau dianjurkan berguru kepada Kyai Ageng Pandanarang di Tembayat. Kemudian setelah cukup diperintahkan menetap di Bukit Majasto. Dalam perjalanan melewati bukit BELUK, bukit PEGAT dan di Bukit Taruwongso berjumpa dengan seorang hajar yaitu Pangeran Banjarsari. Di Bukit itulah beliau mendapat wisik / wahyu. Karena itu beliau mendapat nama baru dari Sunan Kalijaga, yaitu Kyai Ageng Sutowijoyo.

4.Makam Ki Ageng Banjaran Sari atau Pangeran Banjaran Sari

Alamat : Dukuh Tengklik, Desa Watubonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo

Makam Ki Ageng Banjaran Sari terletak di kaki Gunung Taruwangsa atau Taruwongso, Gunung Taruwongso di yang terletak di dekat perbatasan Klaten sukoharjo ini cukup ramai dikunjungi warga pada saat momentum Hari raya Idul Fitri 1-4 Syawal, Ruwah dan Malam Jumat. Selain keindahan alam yang tersaji puncak gunung Taruwangsa, bagi peziarah gunung taruwangsa memiliki daya tarik tersendiri dari sisi sejarah. Ki Ageng Banjaran Sari yang dulu namanya adalah Jaka Balora adalah masih keturunan dari raja majapahit. Karena ilmu dan kesaktian yang dimiliki Pangeran Banjaran Sari yaitu Babat Alas di Gunung Taruwongso yang penuh jin dan setan maka Pangeran Banjaran Sari diambil mantu oleh Ki Ageng Majasto atau Ki Ageng Sutowijoyo yang mempunyai anak perempuan.

Selain terdapat makam Ki Ageng Banjaran Sari, Di Gunung Taruwangsa terdapat makam pengikut setianya yaitu makam Ki Ageng Tuguwono. Selain itu terdapat tujuh mata air atau sendang. Tujuh sendang itu adalah Sendang Jaya Kusuma, Sendang Sikapa, Sendang Clarat, sendang Cahyawati, Sendang Gendong, dan dua mata air yang namanya Sendang Kembar. Deretan bebatuan unik ikut menambah daya tarik sekitar makam Ki Ageng Banjaran Sari. Batu-batu itu diberi nama sesuai dengan bentuknya, yakni Batu Gajah, Batu Kandang, Batu Pecak, Batu Manten, Batu Gua, Batu Gebyok dan Batu Amben.

  1. Petilasan Keraton Kartasura

Alamat : Desa Siti Hinggil, Kelurahan Kartasura, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo

Keraton Kartosuro adalah cikal bakal kraton Surakarta Hadiningrat pada masa Paku Buwono II. Keraton Kartasura didirikan oleh Sunan Amangkurat II pada tahun 1679 Masehi. Sunan Amangkurat II adalah raja pengganti Sunan Amangkurat I, Raja Mataram di Keraton Plered yang melarikan diri dan meninggalkan Tegal ketika terjadi serangan Trunajaya dari Madura pada tahun 1677. Setelah Sunan Amangkurat II menjabat sebagai raja, beliau tidak mau menempati kraton di Plered karena menurut kepercayaan Jawa, Kerajaan yang sudah diduduki musuh berarti telah ternoda. Sunan Amangkurat II kemudian memerintahkan kepada Senopati Urawan untuk membuat Keraton baru di kawasan Pajang. Perintah ini dituruti dan akhirnya Senopati Urawan dibantu Nerang Kusuma dan rakyat berhasil mendirikan Keraton di sebelah barat Pajang yakni Wonokerto. Amangkurat II beserta para pengikutnya lalu menempati Keraton Baru itu yang diberi nama Kraton kartasura Hadiningrat.

Gejolak di Kerajaan Mataram ternyata tidak berhenti di situ saja. Pada tahun 1741 terjadilah pemberontakan Cina yang berakibat fatal bagi Kartasura. Pemberontakan kali ini dipimpin oleh RM.Garendhi yang bergelar Sunan Kuning (Sunan Amangkurat III) sewaktu menjadi raja. Amangkurat III bernasib justru lebih tragis. Beliau hanya memerintah kurang lebih selama 2 tahun (1703–1705) karena terusir oleh pangeran Puger yang kemudian menjadi raja dan bergelar Sinuhun Pakubuwana I. Selanjutnya pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwana II (1726–1749), Keraton Kartasura dipindahkan ke Solo tepatnya pada tanggal 17 Februari 1745 Kraton baru di Solo itu diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat.

loading...

Kini Kraton Kartosuro tinggal bekasnya saja, dengan pagar tembok/beteng dari batu bata setebal 2-3 meter dan tinggi kurang lebih 3 meter. Peninggalan (petilasan) yang membuktikan keberadaan Kraton Kartasura, antara lain: Alun-alun, Kolam Segaran (sekarang menjadi lapangan), Gedong obat (dahulu gudang mesiu), Tembok berlubang akibat geger Pacinan, Sumur Madusaka yang digunakan untuk memandikan pusaka-pusaka kerajaan, Makam Bray. Sedah Mirah, masjid yang dibangun Sunan Paku Buwono II.

Komplek Keraton Kartosuro, khususnya dilingkungan benteng kedhaton sudah berubah menjadi tempat pemakaman kerabat Keraton Surakarta. Makam-makam yang terkenal karena dikeramatkan oleh masyarakat, diantaranya adalah makam Mas Ngabehi Sukareja, Makam Bray Adipati Sedahmirah (garwa ampil/selir PB IX), Makam KPH Adinegoro, Makam Ki Nyoto Carito (dalang terkenal) dan masih banyak yang lainnya. Pada hari-hari tertentu, Kraton Kartosuro sangat banyak dikunjungi orang (berziarah). Tujuan utama para peziarah adalah makam Bray Adipati Sedahmirah. Selir Pakubuwana IX ini semasa hidupnya dikenal cantik, pandai berdiplomasi dan memiliki pengasihan.

  1. Makam Raden Ayu Sedah Mirah atau RA Mayangsari

Alamat : Desa Siti Hinggil, Kelurahan Kartasura, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo

Makam Raden Ayu Sedah Mirah atau RA Mayangsari yang dimakamkan di kompleks Petilasan Keraton Kasunanan Kartasura pada 1826. Menurut penuturan juru kunci petilasan keraton kartasuro, RA Sedah Mirah adalah garwa ampil (selir) Pakubuwana IX. Namun karena konon ia menguasai ilmu persilatan dan pintar bermain pedang maka Sinuhun PB IX memberi gelar adipati kepadanya. Sedah Mirah yang juga cantik dikenal pandai berdiplomasi dan memiliki aji pengasihan. Makam Raden Ayu Sedah Mirah ramai dikunjungi oleh para peziarah setiap malam jumat dan selasa kliwon.

Namun versi lain ada yang menyebutkan ada pula nama Sedah Mirah lain, yaitu yang menjadi permaisuri Sultan Hamengku Buwono II, dan kemudian bergelar Kanjeng Ratu Kencana Woelan atau Kencana Woengoe. Jika Sedah Mirah permaisuri Sultan HB II itu adalah puteri Ronodigdoyo, seorang yang pernah berjasa besar kepada Pangeran Mangkubumi (HB I) pada saat Perang Suksesi Jawa III (1747-1755), namun tidak ada informasi tentang asal-usul Sedah Mirah yang garwa ampil PB IX ini dan masih menjadi suatu misteri.

  1. Makam GPH Pringgoloyo

Alamat : Kelurahan Kartasura, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo

Makam keramat Gusti Pangeran Pringgoloyo yang berada di Kecamatan Kartosura Kabupaten Sukoharjo, selama ini di anggap angker dan sangat dikeramatkan oleh warga sekitar. Tak ada yang berani menginjakan kaki di area komplek pemakaman pada saat malam hari. Apalagi bila bertepatan dengan malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon, sudah bisa di pastikan tak satupun warga berani melewati jalan yang ada di depan komplek pemakaman Gusti Pangeran Pringgoloyo. Karena di komplek pemakaman tersebut seringkali terlihat penampakan sosok mahkluk halus dari kejauhan. Komplek makam Pangeran Pringgoloyo terletak di pinggir desa yang jauh dari aktifitas penduduk desa.

Di area komplek pemakaman ini selain makam GPH Pringgoloyo, terdapat juga makam kerabat serta anak keturunan yang juga turut di makamkan di area komplek pemakaman . Area komplek pemakaman ini seperti komplek makam makam lain milik keraton, yang memiliki ciri khas bangunan pajimatan ( makam milik keraton ) di wilayah Surakarta. Terdapat gerbang gapura dengan arsitektur jawa kuno yang di perkirakan di bangun sekitar abad 17. Setelah gerbang gapura, terdapat area komplek pemakaman seluas sepuluh kali lima belas meter persegi yang di batasi dengan pagar tembok keliling.

Di dalam area komplek pemakaman ini, terdapat makam anak keturunan GPH Pringgoloyo yang memiliki garis keturunan cicit dan canggah. Diatas komplek pemakaman ini, terdapat satu lagi area komplek pemakaman yang letaknya lebih tinggi dari pada komplek makam sebelumnya, yang dijadikan tempat untuk mengubur anak keturunan yang lebih deka, seperti cucu dan buyut. Setelah kedua komplek pemakaman tersebut terdapat satu lagi area komplek pemakaman yang lebih luas untuk memakamkan kerabat yang jauh lebih dekat garis keturunanya, sekaligus menjadi tempat jasad GPH Pringgoloyo di kuburkan. Makam Pangeran Pringgoloyo sendiri terpisah dengan makam makam lain.

Berada di dalam sebuah bangunan cungkup yang di tutupi dengan kain mori putih sebagai krobyongan, makam ini terlihat tak terawat. Karena banyaknya debu dan kotoran yang ada di dalam cungkup. Bahkan kain krobyongan yang semula berwarna putih, kini telah berubah warna menjadi kecoklat coklatan. Hampir secara keseluruhan komplek pemakaman Pangeran Pringgoloyo rusak. Beberapa bangunan tembok terlihat sudah banyak yang roboh, tak terkecuali gerbang gapura pintu masuk ke komplek pemakaman juga sudah roboh.

Menurut prasasti nisan yang tertera di makam Gusti Pangeran Pringgoloyo, beliau adalah anak Sinuhun PB IV yang ke 35. Makam ini pada jaman dahulu sering di pakai sebagai tempat untuk sesirih. Tak sedikit para pelaku ritual yang di kabulkan penyuwunanya usai, mereka menjalani laku tirakat di makam Pangeran Pringgoloyo. Tidak hanya kabul bisa menduduki sebuah jabatan, tetapi tak sedikit pula yang sukses dan lancar usahanya setelah meraka menjalani laku ritual di makam Pangeran Pringgoloyo. Kesuksesan tersebut pernah di alami salah seorang pengusaha batik laweyan, setelah dirinya menggelar laku tirakat di makam GPH. Pringgoloyo.

  1. Makam Eyang Donokusumo dan Eyang Wirokusumo

Alamat : Dukuh Prengkel, Desa Watubonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Makam eyang Donokusumo dan eyang Wirokusumo ini terletak tak jauh dari makam Ki Ageng Banjaran Sari dan Ki Ageng Majasto. Konon menurut penduduk sekitar Donokusumo dan Wirokusumo adalah seorang kakak beradik yang memiliki ilmu dan kesaktian yang luar biasa. Eyang Donokusumo dan eyang Wirokusumo dipercaya masih ada garis keturunan dari Ki Ageng Henis di Laweyan namun berasal dari selir (garwa ampil) yang bukan garis keturunan raja seperti Panembahan Senopati. Eyang Donokusumo dan Wirokusumo memutuskan keluar dari keraton dan menjadi pemberontak bersama Pangeran Puger. Hal ini dilakukan karena Amangkurat III pada saat itu bekerja sama dengan VOC. Karena pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Puger mulai mengalami kekalahan akhirnya kakak beradik Eyang Donokusumo dan Eyang Wirokusumo melarikan diri ke sebuah bukit, sampailah di salah satu bukit di daerah Prengkel, Tawangsari, Sukoharjo. Untuk menghindari pasukan Amangkurat III dan VOC eyang donokusumo dan wirokusumo bersembunyi sembari melakukan syiar agama Islam di daerah Prengkel. Tampak sebuah masjid di makam Prengkel yang konon adalah masjid Tiban atau tidak diketahui siapa yang membangunnya. Di masjid ini eyang donokusumo dan wirokusumo mengajarkan islam ke penduduk sekitar. Dan sampai tutup usia kedua kakak beradik tersebut dimakamkan di puncak bukit Prengkel dan menjadi cikal bakal berdirinya makam Prengkel. Banyak peziarah yang datang ke makam eyang donokusumo dan wirokusumo pada malam jumat kliwon maupun seloso kliwon.

  1. Pesanggrahan Langenharjo

Alamat : Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo

Pesanggrahan Langenharjo terletak ± 6 Km dari Solo ke arah selatan, dan sebelum jembatan Bacem menuju ke arah barat ± 1,5 Km lagi kita akan sampai di tempat tersebut. Bangunan yang sudah kelihatan kurang terawat itu, masih meninggalkan kesan penuh keagungan dan keanggunan. Lingkungan yang nyaman dengan pepohonan yang besar dan rindang serta kondisi lingkungan yang diwarnai dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu pantaslah apabila tempat itu dahulu merupakan tempat peristirahatan raja beserta permaisuri dan keluarganya, sebagai tempat untuk berekreasi dan menghibur diri.

PB IX, putra dari PB VI telah membangun Pesanggrahan Langenharjo di samping terdorong oleh kebutuhan lahiriah, PB IX juga suka sekali meninjau keadaan rakyatnya, dan juga tidak pernah meninggalkan kesenangan beliau untuk prihatin (tirakat) dengan laku kungkumKungkum itu merendam diri di sungai/di kedung (bagian yang paling dalam dari sebuah sungai). Pada suatu ketika PB IX tengah melakukan meditasi sambil kungkum di Kedung Ngelawu, sebelah selatan Pesanggrahan Langenharjo (± 3 Km), telah mendapat wisik dari Tuhan untuk membangun sebuah pesanggrahan. Di balik itu semua sebenarnya tekad PB IX untuk membangun pesanggrahan itu diilhami dari cerita yang didapatnya tentang ilham yang pernah diperoleh ayahandanya yaitu Gusti Sapardan yang kemudian naik tahta bergelar PB VI. Diceritakan setiap putra mahkota yang dicalonkan menduduki tahta kerajaan, pasti suka tirakat di tempat-tempat yang keramat, dan sepi dari keramaian.

Apabila kita menyimak sejarah tahun dibangunnya Pesanggrahan Langenharjo itu oleh Paku Buwono IX (PB IX) pada tahun 1870, bangunan ini sudah dapat dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga perlu memperoleh perhatian untuk pelestariannya.

Nah bagaimana banyak sekali bukan wisata religi di Kabupaten Sukoharjo, apabila daftar sejumalah Makam tempat ziarah di  Sukoharjo di atas ada kekeliruan penulisan nama, gelar atau tempat mohon partisipasi anda untuk mengoreksi nya dengan meninggalkan komentar di kolom komentar di bawah ini. Atau bagi anda yang ingin menambahkan tempat ziarah di Sukoharjo yang belum ada di daftar diatas maka dapat mengirimkanya melalui email di bawah lewat halaman contact us , atau bisa anda tinggalkan di kolom komentar agar dapat saya tambahkan ke daftar diatas. Terima kasih sudah mau mampir di blog Gudang Misteri, semoga sedikit informasi ini bermanfaat.

Daftar Makam Tempat Ziarah dan Wisata Religi di Sukoharjo |