10 Fakta Misteri Pesugihan Bulus Jimbung Klaten

loading...

10 Fakta Misteri Pesugihan Bulus Jimbung KlatenBagi warga sekitar Klaten terutama di dekat kawasan wisata Rowo Jombor, mungkin sudah tidak asing dengan salah satu tempat angker di klaten ini yang sekaligus digunakan sebagai tempat mencari pesugihan di Klaten. Awal mula tempat ini ditujukan sebagai tempat wisata religi di Klaten, tapi semakin lama karena pengaruh dari mitos masyarakat yang santer berkembang menyebabkan tempat ini sekarang disalahgunakan baik orang jauh maupun warga sekitar Klaten sebagai tempat mencari pesugihan agar cepat kayaTempat keramat di Klaten ini dikenal sebutan Sendang Bulus Jimbung. Asal muasal sendang bulus jimbung sebenarnya bukan untuk mencari pesugihan, tetapi sebagai sendang atau pemandian. Sendang Jimbung terletak di Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.  Tempat ini terletak dekat dengan tempat wisata kuliner air warung apung yaitu Rowo Jombor [Fakta 1]. Mari sebentar kita mengulik tentang Wisata Rowo Jombor, yang sekarang sudah terkenal dengan wisata air dan rumah makan apungnya. Di sini anda dapat menemukan beberapa warung makan yang mengapung di atas rawa, dikelilingi oleh tanaman eceng gondok, dan tambak ikan. Anda dapat mengelilingi Rowo Jombor dengan menggunakan speedboat yang disewakan oleh warga sekitar. Tempat wisata Rowo Jombor cocok untuk dikunjungi dengan keluarga karena suasananya yang sejuk dengan pemandangan danau dan angin semilir, kalau hari minggu kesini kadang ada live musicnya [Fakta 2].

Kisah Nyata Misteri Pesugihan Bulus Jimbung Klaten

Kisah Nyata Misteri Pesugihan Bulus Jimbung Klaten

Kembali ke asal usul Sendang Bulus Jimbung, menurut cerita turun temurun nenek moyang dan legenda bulus jimbung dikisahkan dahulu sendang ini dihuni oleh sepasang kura-kura atau dalam bahasa jawa disebut “bulus”, yang bernama Kyai Poleng dan Nyai Poleng. Sepasang bulus ini merupakan jelmaan abdi Dewi Mahdi yang disabda untuk tinggal di Sendang Jimbung [Mitos 3]. Dewi Mahdi sendiri merupakan putri dari Raja Keling yang memimpin Kerajaan Kalingga di daerah Purwodadi. Pada suatu hari, Dewi Mahdi terpikat oleh ketampanan dan kegagahan Raden Patahwan putra dari Ratu Warasungha yang memimpin Kerajaan Wiratha. Sendang jimbung dulunya adalah sebuah kolam pemandian yang dulunya dibuat oleh Raden Patahwan dengan cara menancapkan tongkatnya ke tanah yang kemudian muncul mata air cukup banyak sehingga dibendung membentuk kolam atau sendang, dan tongkat yang ditancapkan berubah menjadi pohon besar yang berada di samping sendang [Fakta 4].

Ilustrasi Raden Patahwan bersemedi dengan Kyai Poleng dan Nyai Poleng

Ilustrasi Raden Patahwan bersemedi dengan Kyai Poleng dan Nyai Poleng

Sendang jimbung dikenal menjadi sebuah sendang keramat karena dulu sering digunakan oleh Raden Patahwan bersemedi atau berendam ketika berada di daerah Jimbung, untuk melakukan ritual permohonan kepada Tuhan. Ketika itu ada orang yang melihatnya saat Raden Patahwan melakukan ritual permohonan kepada Tuhan, dia mengetahuinya, setelah saat itu Raden Patahwan sudah tidak terlihat lagi di daerah Jimbung lagi, dan hanya ada dua ekor bulus di dalam Sendang. Hingga saat ini orang menganggap kalau bersemedi atau berendam di sendang itu untuk mencari pesugihan atau sugih yang berarti kekayaan atau harta [Mitos 5]. Keberadaan sepasang bulus yang terkenal dengan sebutan “bulus jimbung” itu sendiri sampai saat ini masih menjadi misteri, karena tidak semua orang yang datang ke tempat ini dapat melihatnya. Tempat ini sebenarnya ditujukan untuk tempat wisata spiritual dan tempat wisata religi tetapi disalahgunakan menjadi tempat melakukan ritual mencari pesugihan, yang akhirnya membuat citra tempat ini menjadi tempat musyrik, padahal di depan pintu masuk tempat wisata sendang bulus jimbung sudah diberi papan bertulis “Tempat ini bukan untuk tempat Pemusyrikan” tetapi masih saja banyak orang orang yang datang baik dari daerah Klaten atau luar daerah memiliki niat yang buruk dengan melakukan ritual mencari kekayaan dengan jalan pesugihan berendam di sendang jimbung ini [Fakta 6].

Tumbal pesugihan bulus jimbung atau orang yang melakukan ritual kekayaan dengan melakukan perjanjian dengan bulus sendang jimbung ini memang tidak akan memakan korban nyawa atau tumbal nyawa, tetapi bagi pelaku perjanjian yang permintaannya disetujui oleh bulus ini akan mendapatkan tanda atau bercak putih di tubuhnya seperti pada cangkang bulus, atau lebih dikenal dengan Poleng atau Belang atau Boleng. Semakin berhasil pesugihan yang diminta, maka tanda belang putih akan semakin banyak di sekujur tubuhnya [Fakta 7]. Ritual meminta pesugihan bulus jimbung tergolong cukup mudah syaratnya dan pelaksanaannya, bagi peminta pesugihan pertama akan dipimpin oleh juru kunci sendang bulus jimbung untuk ditanya apakah setuju dengan syarat dan akibatnya, bila si peminta pesugihan setuju maka akan langsung diantar ke sendang dan menaruh syarat atau sesajen. Syarat ritual meminta pesugihan di Sendang Jimbung yaitu berupa satu gelas air putih yang diisi kembang setaman, sebatang rokok klobot, kemenyan, tanah rumah dari si pencari pesugihan yang dibungkus dengan sepotong kain kafan, semua syarat tersebut lalu akan diletakkan di bawah pohon besar di dekat sendang.

Bila semua syarat mencari pesugihan bulus jimbung sudah terpenuhi, maka si peminta pesugihan akan diarahkan untuk melakukan kungkum atau berendam di dalam sendang itu beberapa jam tapi hanya pada malam Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon.  Setelah melakukan ritual “kungkum” atau berendam di sendang, si peminta akan diarahkan untuk kembali ke rumah, dengan syarat paling tidak harus memiliki usaha walaupun hanya kecil-kecilan, ini dimaksutkan untuk mempermudah datangnya kekayaan yang diminta [Mitos 8]. Dengan semakin banyaknya kekayaan yang diminta, maka akan semakin banyak pula tanda putih pada bagian tubuh. Ritual ini pun tidak hanya dilakukan sekali, tetapi setahun sekali si peminta harus melakukan kembali ritual yang sama untuk “berterimakasih” atas kekayaan yang di dapat. Bila si peminta lupa melakukan “ritual Syukuran” maka rumah si peminta akan didatangi oleh seekor bulus yang dimaksutkan untuk mengingatkan untuk melakukan ritual tersebut. Pantangan mencari pesugihan di sendang jimbung klaten yaitu tidak boleh membunuh hewan kura-kura atau bulus, baik sengaja atau tidak dan konon katanya bila si peminta ingin tanda putih atau poleng pada tubuhnya tidak keluar, disarankan untuk memotong hewan ternak seperti kambing atau sapi sebagai ucapan syukur atas kekayaan yang diterima [Mitos 9].

Penampakan Kyai Poleng Bulus Sendang Jimbung Klaten

Penampakan Kyai Poleng Bulus Sendang Jimbung Klaten

Dari paparan semua fakta misteri, mitos masyarakat, cerita nenek moyang dan kisah nyata seputar sendang bulus jimbung Klaten dari berbagai sumber penulis dapat menarik suatu garis merah memang pesugihan bulus jimbung di klaten memang benar-benar ada dan bukan hanya isapan jempol semata. Intinya jika ada yang menginginkan pesugihan atau sugih atau kekayaan dari bulus atau kura-kura di Sendang Jimbung, maka diminta melakukan ritual dengan syarat dan perjanjian yang sama-sama telah disetujui antara bulus Jimbung dan si peminta pesugihan dengan diarahkan oleh sang juru kunci sendang jimbung tersebut. Dan apabila permintannya berhasil, kekayaan akan datang kepada si peminta dengan jalan walaupun hanya memiliki usaha kecil. Dan kekayaan yang diterima pun sebanding lurus dengan tanda bercak putih atau poleng / belang yang diterima di badan si pencari pesugihan [Fakta 10].

Baca juga : “Menguak Fakta Misteri Jembatan Bacem di Sukoharjo

Sekian ulasan misteri kali ini yang mengupas tuntas seputar asal usul, mitos dan fakta misteri pesugihan bulus jimbung di Klaten. Apabila ada kesalahan informasi mengenai tempat atau sumber silahkan tambahkan di kolom komentar. Terima kasih sudah mampir di blog Gudang Misteri, nantikan artikel misteri menarik selanjutnya yang akan menguak fakta-fakta misteri seputar tempat-tempat angker di seluruh penjuru Indonesia.

10 Fakta Misteri Pesugihan Bulus Jimbung Klaten |