10 Mitos dan Fakta Bumi Kahyangan Petilasan Panembahan Senopati di Wonogiri

Loading...

10 Mitos dan Fakta Bumi Kahyangan Petilasan Panembahan Senopati di WonogiriKabupaten Wonogiri memiliki beberapa pilihan tujuan tempat wisata yang wajib anda kunjungi ketika musim liburan panjang telah tiba. Selain terdapat indahnya tempat rekreasi Waduk Gajah Mungkur yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto untuk menampung debit air sungai Bengawan Solo, ada juga wisata di atas bukit yaitu wisata ganthole, yang terletak di atas  bukit dekat obyek wisata waduk gajah mungkur. Dari atas bukit anda dapat melihat keindahan Wonogiri dari ketinggian. Selain tempat rekreasi dan wisata alam ternyata ada juga tempat wisata religi di wonogiri yang sangat terkenal yaitu wisata religi Bumi Kahyangan. Sejarah Bumi Kahyangan konon dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa dulunya merupakan tempat pertapaan Panembahan Senopati agar mendapatkan wahyu atau petunjuk dari Sang Maha Pencipta. Panembahan Senopato sendiri adalah raja dari kerajaan mataram yang menjadi cikal bakal lahirnya keraton kasunanan surakarta dan keraton kasultanan yogyakarta. Petilasan bumi kahyangan ini terletak kurang lebih 40 KM dari pusat kota Kabupaten Wonogiri, tepatnya di dusun Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo.

Mitos dan Fakta Bumi Kahyangan Petilasan Panembahan Senopati di Wonogiri

Mitos dan Fakta Bumi Kahyangan Petilasan Panembahan Senopati di Wonogiri

Akses jalan menuju ke tempat wisata yang terkenal sebagai salah satu tempat angker di wonogiri dan juga tempat keramat ini memang masih belum gampang diakses, karena bila sedang musim hujan, akan banyak jalan berlubang dan daerah yang rawan longsor karena terletak di pegunungan. Sebelum anda sampai di obyek wisata Kahyangan, anda akan melewati sebuah dusun bernama Taman Wiroko. Di desa ini terkenal dengan sentra industri genteng press. Jika anda sudah memasuki kawasan desa Taman Wiroko, maka sepanjang jalan yang akan anda lihat adalah rumah warga dengan kegiatan mencetak genteng press atau yang sedang menjemur genteng agar kering. Kembali lagi ke tempat wisata Kahyangan, Wisata Kahyangan sendiri terkenal sebagai tempat berziarah dan bersemedi, padahal wisata alamnya di tempat ini juga tak kalah indah. Di tempat ini terdapat air terjun dan banyaknya batuan besar yang tersebar di sepanjang aliran sungainya. Bila sedang musim penghujan, anda akan melihat betapa air yang mengalir dari air terjunnya memiliki debit cukup banyak dan aliran sungainya cukup deras. Maka tak heran bila sering terdengar kabar ada orang hanyut dan hilang di sungai wisata Kahyangan. Bebatuan yang licin dan aliran arus sungai yang deras, kadang menyulitkan wisatawan yang kurang mendapat info untuk berhati-hati bila ingin bermain di sungai ini.

Asal usul wisata Kahyangan dan mitos tentang Nyi Roro Kidul juga sangat kental di telinga masyarakat sekitar kahyangan. Sudah menjadi rahasia umum, bila obyek wisata Kahyangan terkenal sebagai tempat bersemedi atau bertapa untuk melakukan tirakat. Selain itu Bumi Kahyangan juga digunakan sebagai tempat mencari pesugihan di Wonogiri [Fakta 1.] Tempat ini akan ramai dikunjungi orang dari luar kota pada hari tertentu, misal seperti malam Selasa Kliwon, malam Jum’at Kliwon dan tentu saja malam pergantian tahun baru Jawa atau malam 1 Suro. [Fakta 2]. Ada banyak orang yang datang kesini dengan maksut dan tujuan yang berbeda, seperti ada yang ingin bersemedi untuk menyendiri, ada juga yang ingin melakukan permintaan pada Nyi Roro Kidul yang datang ke tempat ini, dan atau yang hanya sekedar ingin jalan-jalan. Wisata Kahyangan pun tak lepas dari kisah Panembahan Senopati yang bertemu Nyi Roro Kidul di tempat ini, sehingga banyak yang mengenal wisata Kahyangan juga sebagai wisata Panembahan Senopati [Fakta 3].

pintu masuk wisata kahyangan petilasan panembahan senopati

pintu masuk wisata kahyangan petilasan panembahan senopati

Sejarah wisata Kahyangan sendiri bermula dari Panembahan Senopati atau Danang Suto Wijoyo, yang merupakan Raja pertama Kerajaan Mataram Islam yang melakukan pertapaan di tempat ini dan bertemu dengan Nyi Roro Kidul untuk memadu kasih dan meminta membantu “membangun” kerajaan Mataram hingga rakyatnya sejahtera, dengan imbalan Nyi Roro Kidul akan dijadikan permaisurinya. Ketika berada di Kahyangan, Danang Suto Wijoyo tak lupa untuk melakukan sholat lima waktu, di atas batu hitam bernama Selo Gilang inilah Danang Suto Wijoyo melaksanakan sholat dan berdoa meminta kedamaian kepada Illahi. Selain itu juga terdapat Selo Payung, tempat dimana Danang Suto Wijoyo melakukan semedi atau nepi ketika berada di Kahyangan. Selo Payung sendiri merupakan sebuah batu yang besar, dimana membentuk seperti paayung dan di bawahnya dapat digunakan untuk berteduh. Ada juga Selo Gapit, yaitu dua buah batu yang yang membentuk pintu seperti gapura, dan terdapat goa di tengahnya. Ketika berada di Kahyangan pun, Danang Suto Wijoyo sering berendam di Kedung Pesiraman yang terletak di atas hulu sungai. Hinggan kini Kedung Pesiraman masih sering dikunjungi wisatawan yang penasaran ingin melihat [Fakta 4].

Mitos yang meliputi petilasam Bumi Kahyangan rupanya juga menarik untuk diulas. Wisata Kahyangan juga tak terlepas dari beberapa mitos yang meliputinya. Mungkin bagi warga sekitar sudah tidak heran kalau pada malam-malam tertentu di Kahyangan ramai dikunjungi orang dari luar kota. Tujuan mereka berbeda-beda, ada yang ingin bertirakat, ataupun bersemedi di area Selo Payung. Tapi bagi kebanyakan orang, Kahyangan digunakan untuk mencari pesugihan agar kaya raya, karena di tempat ini dianggap tempat yang di datangi Nyi Roro Kidul dan digunakan untuk ngalap berkah. Eratnya hubungan tempat ini dengan Nyi Roro Kidul yang datang kemari, maka seperti halnya dengan daerah Parangtritis, bila pengunjung yang datang kemari dilarang menggunakan pakaian bewarna hijau pupus, konon ceritanya dahulu ketika Danang Suto Wijoyo akan mempersunting Retno Dumilah untuk dijadikan permaisuri kerajaan Mataram, Nyi Roro Kidul tidak mengijikan karena Nyi Roro Kidul yang terlebih dahulu mencintai Danang Suto Wijoyo sebelum bertemu dengan Retno Dumilah [Fakta 5].

Pada suatu hari ketika Danang Suto Wijoyo bertemu dengan Nyi Roro Kidul di kahyangan, diketahui oleh Retno Dumilah yang kala itu mengenakan pakaian berwarna hijau pupus. Danang Suto Wijoyo akhirnya memutuskan kalau Nyi Roro Kidul yang akan menjadi permaisuri pertama dan Retno Dumilah yang menjadi permaisuri kedua. Sehingga orang yang datang ke Kahyangan menggunakan pakainan berwarna hijau pupus, akan dipersaudara oleh Nyi Roro Kidul [Mitos 6]. Karena jika orang yang sudah dianggap saudara oleh Nyi Roro Kidul, maka secara tidak langsung orang itu akan dijadikan abdi olehnya. Jadi jangan heran apabila ada orang yang melanggar pantangan tersebut, akan berakhir dengan hanyut terbawa aliran sungai atau hilang [Mitos 7]. Kembali ke Kedung Pesiraman yang digunakan oleh Danang Suto Wijoyo berendam, tasbih yang biasa digunakannya putus dan biji tasbihnya berserakan di sungai. Biji tasbih ini ada yang menyakini dapat digunakan sebagai penyembuh penyakit, atau digunakan untuk kemakmuran, atau tujuan menambah kekayaan [Mitos 8], sehingga sampai saat ini masih ada orang yang percaya akan hal ini ada masih berusaha mencari biji tasbih yang berserakan di aliran sungai Kahyangan. Selain mitos tentang Danang Suto Wijoyo alias Panembahan Senopati yang melakukan bertapa disini, ada juga mitos jika Sunan Kalijaga juga pernah bertapa disini untuk mencari keluhuran pada Illahi [Mitos 9]maka dari itu wisata bumi kahyangan selain petilasan juga terkenal sebagai tempat wisata religi atau spiritual sekaligus tempat ziarah di wonogiri sehingga tak jarang ada beberapa orang yang datang kesini untuk melakukan ziarah tempat petilasan Sunan Kalijaga bertepi disini [Fakta 9].

ritual labuhan ageng dan sedekah bumi di kahyangan petilasan panembahan senopati

ritual labuhan ageng dan sedekah bumi di kahyangan petilasan panembahan senopati

Sebenarnya di luar semua cerita mistis dan mitos daerah wisata Kahyangan, tempat ini memiliki pemandangan yang bagus, dengan banyaknya pepohonan besar yang menaungi membuat suasana adem dan sejuk, dengan gemericik air dari air terjun dan arus sungai dibawahnya semakin membuat tenang bagi orang yang berada disini. Jika anda datang ke Kahyangan, anda akan menemui bakaran dupa, kembang setaman dan bau kemenyan bekas dari orang yang melakukan ritual di tempat ini. Dan jika anda beruntung, anda akan bertemu dengan beberapa ekor monyet yang hidup di hutan Kahyangan ini. Di pelataran Kahyangan terdapat beberapa pengrajin batu dan penjual batu akik penduduk asli dari daerah Kahyangan. Namun yang harap dijadikan waspada dan hati-hati yaitu jika sedang masuk musim penghujan, daerah Kahyangan rawan akan terjadinya tanah longsor karena terletak di pegunungan. Jika anda berniat datang ke tempat wisata Kahyangan ini, siapkan niat yang baik dalam hati, karena apa yang telah anda niatkan, itu yang akan anda dapat, karena jika anda berkunjung ke tempat yang disakralkan, jaga hati jaga lisan dan jaga perbuatan, agar selamat tidak terjadi suatu apapun [Fakta 10].

Baca juga : “Menguak Fakta Misteri Gunung Pegat Wonogiri

Itulah tadi ulasan lengkap mengenai salah satu kisah mistis di wonogiri yaitu kisah misteri bumi kahyangan petilasan panembahan senopati. Semoga sedikit penjelasan diatas dapat menambah wawasan anda mengenai tempat keramat di wonogiri ini. Terima kasih sudah mampir di blog Gudang Misteri jangan lupa share ke teman anda agar lebih bermanfaat. Tunggu update artikel menarik selanjutnya…

10 Mitos dan Fakta Bumi Kahyangan Petilasan Panembahan Senopati di Wonogiri |