23 Fakta, Mitos dan Misteri Gunung Karang Pandeglang Banten

Loading...

23 Fakta, Mitos dan Misteri Gunung Karang Pandeglang Banten – Indonesia termasuk dalam Ring Of Fire, dimana terletak dikelilingi oleh gugusan gunung berapi yang masih aktif yang dapat sewaktu-waktu meletus. Gunung yang terlihat diam seperti tidak menampakkan tanda dapat meletus pun perlu diwaspadai, bisa saja gunung tersebut hanya sedang “tertidur”. Banyaknya gunung berapi di Indonesia yang masih berstatus aktif maupun yang tidak aktif memang perlu kita waspadai terutama yang bermukim di wilayah lereng gunung berapi. Gunung Karang Banten adalah salah satu gunung yang masih statusnya aktif dan berpotensi dapat meletus [Fakta 1]. Gunung yang memiliki tinggi 1778 mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Banten [Fakta 2]. Tetapi dibalik indahnya pemandangan puncak gunung karang terdapat kisah unik penduduk di lereng Gunung Karang Pandeglang Banten ini, dimana warganya hidup berhimpitan di lereng Gunung Karang karena jarak rumah dari rumah hanya dipisahkan oleh gang kecil. Walaupun jauh dari kota maupun pusat keramaian, mereka memilih tetap tinggal di lereng gunung tersebut karena merasa tempat itu sudah dipilihkan oleh nenek moyang mereka sebagai tempat tinggal yang aman. Desa Pasirangin, begitu masyarakat menamakan desa yang terletak di kaki Gunung Karang Pandeglang Banten tersebut [Fakta 3].

Fakta, Mitos dan Misteri Gunung Karang Pandeglang Banten

Fakta, Mitos dan Misteri Gunung Karang Pandeglang Banten

Cerita asal muasal desa Pasirangin sendiri tak lepas dari kisah riwayat nenek moyang terdahulu ketika menentukan daerah mana yang dapat ditempati sebagai pemukiman. Menurut salah seorang Ustad dari Desa Pasirangin yang merupakan sesepuh Gunung Karang menceritakan bahwa jaman dahulu nenek moyang yang berada di sekitar lereng Gunung Karang ingin mencari tempat untuk bermukim, mereka menggunakan cara yang cukup unik untuk menemukan tempat mana yang cocok untuk ditempati. Pada malam hari nya buyut mereka memasukkan binatang sejenis belalang yang kemudian dimasukkan ke dalam botol dan di tutup. Botol tersebut kemudian di kuburkan di dalam taman di beberapa tempat di lereng Gunung Karang. Setelah semalam suntuk, keesok paginya botol yang berisi belalang itu di ambil dan dari banyaknya botol yang dikuburkan, semua hampir mati belalang yang ada di dalamnya dan hanya tersisa satu botol dengan belalang yang masih bertahan hidup. Mereka menyakini jika belalang yang hidup tersebut berada di tanah yang nantinya akan membawa kesejahteraan dan kebaikan bagi keturunan mereka, karena tanah yang belalangnya mati berarti tempat tersebut tidak baik untuk ditinggali karena dapat mendatangkan malapetaka dan pageblug. Karena hanya satu belalang yang bertahan hidup, maka nenek moyang terdahulu segera melakukan babat alas di lereng Gunung Karang, yang kemudian mereka tinggali hingga sekarang. Itulah sebabnya mengapa di lereng Gunung Karang yang status gunung berapinya masih aktif, tetapi mereka memilih tempat tinggal disana karena mereka percaya jika tempat tersebut telah dipilihkan oleh nenek moyang mereka [Fakta 4].

Jadi jangan heran apabila anda berkunjung ke Gunung Karang dan berada di Desa Pasirangin anda akan menemui sebuah desa padat akan penduduk, bahkan jalanannya pun hanya cukup untuk sepeda bermotor karena saking sempitnya dan padatnya pemukiman disana. Yang cukup unik, mereka kebanyakan menikah atau berumah tangga dengan tetangga yang tidak begitu jauh karena untuk menggelar acara pernikahan yang megah tentulah tidak mungkin karena tidak tersedianya tempat, sehingga acara pernikahan hanya diselenggarakan secara sederhana [Fakta 5]. Namun walaupun jauh dari kota di sekitar gunung karang banyak pondok pesantren yang dijumpai selain itu terdapat salah satu tempat ziarah yang menjadi tujuan peziarah di desa Pasirangin ini baik dalam maupun luar kota yaitu terdapat masjid kuno yang diyakini sebaga masjid kuno tertua di Banten yang pada jaman dahulu dibangun oleh para Wali sebagai tempat berkumpul dan syiar agama Islam di tanah Banten [Fakta 6].

Selain tentang sejarah desa Pasirangin di kaki Gunung Karang Banten yang cukup unik asal-usulnya tersebut, ada juga beberapa cerita legenda Gunung Karang yang masih misteri karena terdapat banyak situs peninggalan sejarah di Gunung Karang Banten, seperti batu Menhir, Situs Pahoman Pasir Petey, Makam Putri Badriah, Batu Qur’an, Batu sujud Ki Lamuafi, Goa Ki Lenggangjaya, Sumur Tujuh, Petilasan Sultan Banten ke 1, Makam Syekh Raqo dan Makam Syekh Karan [Fakta 7]. Karena adanya situs peninggalan sejarah dan petilasan di Gunung Karang Banten ini maka kawasan Gunung Karang Banten menjadi salah satu tujuan bagi para wisatawan religi maupun wisatawan pecinta alam yang ingin mendaki gunung tertinggi di Banten ini [Fakta 8]. Salah satu cerita mitos gunung karang banten yang cukup terkenal hingga keluar daerah Banten yaitu mitos tentang Sumur Tujuh yang memiliki karomah dan barokah pada air sumur nya dapat mengabulkan permintaan. Banyak cerita yang mengisahkan asal usul Sumur Tujuh di Gunung Karang Banten, tetapi tidak yang tahu dengan pasti bagaimana terbentuknya Sumur Tujuh [Fakta 9].

Mata air keramat Sumur Tujuh terletak di atas puncak Gunung Karang, sehingga bila kita ingin mengunjungi Sumur Tujuh tentunya kita harus mendaki Gunung Karang hingga ke puncaknya, sehingga diperlukan kondisi yang prima dan sehat untuk mendaki Gunung Karang untuk menuju ke tempat keramat Sumur Tujuh ini. Sebelum menaiki Gunung Karang, para pendaki maupun peziarah diharuskan untuk berdoa dan mengucapkan salam terlebih dahulu di Petilasan Sultan Maulana Hasanudin yang terletak di dekat pos pendakian gunung karang untuk memohon keselamatan selama pendakian gunung karang banten [Fakta 10]. Sultan Maulana Hasanudin merupakan pendiri Kerajaan Banten yang bercorak Islami, putera dari Sultan Syarief Hidayatulloh Raja Cirebon yang pertama [Fakta 11].

Sumber Mata Air Keramat Sumur Tujuh Gunung Karang Pandeglang Banten

Sumber Mata Air Keramat Sumur Tujuh Gunung Karang Pandeglang Banten

Menurut penuturan dari pakar Supranatural dari Tim Dua Dunia yang melakukan penelusuran di Gunung Karang pandeglang ini menceritakan bahwa Sumur Tujuh tidak lepas dari sosok Sultan Maulana Hasanudin. Dulunya Sultan Maulana Hasanudin mendapat tantangan untuk bertarung melawan Raja Pucuk Umun yang merupakan Raja Banten Girang untuk adu kesaktian. Pertarungan yang sangat sengit pun terjadi di puncak Gunung Karang ini. Karena sengitnya pertarungan, yang dimenangkan oleh Sultan Maulana Hasanudin, beliau merasakan sangat kehausan. Setelah mencari beberapa saat tidak ditemukannya sumber air, sehingga Sultan Maulana Hasanudin memohon kepada Allah SWT dan bermunajat atas ijin Allah SWT menancapkan tongkatnya ke tanah dan seketika tongkatnya dicabut muncullah semburan air dari dalam tanah. Lubang bekas tancapan tongkat inilah yang kemudian menjadi sumber mata air Sumur Tujuh yang menjadi mata air keramat Sumur Tujuh Gunung Karang Pandeglang Banten [Fakta 12].

Versi lain cerita misteri Sumur Tujuh di puncak gunung karang yaitu didapatkan dari penuturan sesosok makhluk gaib bernama Nyai Dasimah melalui tubuh mediator dalam sebuah program acara Dua Dunia, mengatakan bahwa sumur tersebut sudah berusia lebih dari 1000 tahun dan merupakan hasil dari keluarganya saat mencari sumber air di hutan tersebut. Menurut penuturan Nyai Dasimah pula, dahulunya tempat Sumur Tujuh merupakan sebuah hutan yang tidak ada sumber air, sehingga Nyai Dasimah yang seorang janda dan ketujuh anaknya merasa kesulitan mencari sumber air minum. Setelah cukup lama akhirnya ditemukan sumber air yang sekarang menjadi Sumur Tujuh. Bila ada orang yang mengunjungi Sumur Tujuh dan menginginkan sesuatu dari airnya, maka niatnya harus  yang bersih dan benar-benar membutuhkan, karena menurut Nyai Dasimah, terkabul atau tidaknya permintaan seorang di Sumur Tujuh tergantung dari anaknya yang mengabulkan atau tidak, bila anda dapat menyentuh hati anaknya, maka permohonan anda dapat dikabulkan karena menurutnya anaknya merupakan anak yang baik. Tetapi bila ada pengunjung yang hanya ingin sekedar membasuh muka atau mandi di Sumur Tujuh tanpa ada niatan meminta pesugihan dari air sumur tujuh, maka diperbolehkan saja oleh anaknya. Bahkan Nyai Dasimah pun berpesan agar selalu berdoa kepada Allah SWT, membaca Shalawat nabi agar keinginannya dapat terkabul, tidak hanya semata-mata mengandalkan kesaktian dari air Sumur Tujuh [Fakta 13].

Masih versi yang lain dari acara Dua Dunia episode Sumur Tujuh, mediator dimasuki oleh sesosok menyeramkan yang berwujud suara seperti lelaki yang sudah tua yang menceritakan kisah tentang Naulis pitu. Cerita asal usul sumur tujuh kali ini memang memiliki sedikit kemiripan dari cerita awal tetapi lebih lengkap dan panjang ceritanya. Mediator tersebut menceritakan tentang Sumur Tujuh pada awalnya ada tujuh orang bersaudara yang tinggal di hutan tersebut yang bukan berasal dari keluarga Kerajaan tetapi hanya anak dari petani yang miskin. Naulis merupakan anak bungsu atau anak nomor tujuh dari bersaudara tersebut, tidak hanya memiliki rupa yang cantik, tetapi juga hati yang cantik dan baik. Naulis orang yang dermawan tetapi saudaranya menganggap jika Naulis orang yang bodoh. Mereka bertujuh mengalami hidup kesusahan tetapi Naulis masih membantu orang lain, yang menyebabkan saudara yang lainnya marah. Tetapi berbeda dari cerita mediator pertama, pada mediator kedua menyebutkan nama Nyai Dasimah sebagai ibu dari tujuh bersaudara tersebut, bukan Nyai Dasimah [Fakta 14].

Asal usul Sumur Tujuh bukanlah mereka bertujuh dan ibunya yang membangun, tetapi Naulis yang menemukan sumur tersebut dengan bantuan seekor burung. Awal ceritanya Nyai Didasma merasa sudah terlalu tua untuk mngurus ladang padinya sehingga diberikan kepada ketujuh anaknya untuk meneruskan dan dikelola masing-masing. Tetapi keenam saudaranya memiliki niat yang jahat pada si bungsu yang baik hati, mereka ingin merebut bagian dari si bungsu dengan cara membuangnya ke hutan tetapi Naulis sudah mengetahui rencana tersebut. Kemudian ada seekor burung besar yang memakani biji padi yang mulai tumbuh, tetapi oleh Naulis dibiarkan saja karena dia berpikir bahwa burung tersebut berhak mendapatkan makanan seperti dirinya, tetapi oleh para saudaranya dia dianggap bodoh karena memberikan padi-padi tersebut kepada burung itu. Karena sudah jengkel dan memiliki niat yang jahat, maka diusirlah Naulis dari rumah tersebut. Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, Naulis merasakan lapar dan haus di tengah hutan tersebut. Tiba-tiba seekor burung yang ditolongnya memberikan mata air yang berada di puncak gunung tersebut yang sekarang dikenal sebagai Sumur Tujuh Gunung Karang [Fakta 15].

Mediator tersebut menceritakan pengakuan yang cukup mencengangkan, yaitu air di sumur tersebut memiliki keampuhan dengan kekuatan yang dimilikinya. Keampuhan dan khasiat yang dimiliki menurut mediator yaitu air sumur tujuh dapat memberikan keturunan kepada pasangan yang belum memiliki momongan. Tetapi syarat yang diajukan tidak semudah yang dikira, mungkin anda akan terkejut karena penuturannya. Syaratnya ada 7 tingkatan, yaitu yang pertama hanya boleh minum dari air Sumur Tujuh, yang kedua harus berdiam diri , tidak boleh berbicara dan tidak boleh berpergian, yang ketiga  hanya boleh memakan bunga tujuh rupa, yang keempat cukup unik yaitu tidak boleh ada sehelai benang yang menempel pada tubuhnya. Yang kelima dan keenam yaitu mereka yang menginginkan momongan harus datang membawa pasangan datang ke tempat Sumur Tujuh. Dan syarat yang terakhir yang cukup mengerikan yaitu mereka harus menghadiahi sebuah kepala anak kecil pada malam Jum’at [Fakta 16].

Penunggu Sumur Tujuh pun sering menampakkan diri kepada orang yang bermalam dengan wujud perempuan, kupu-kupu maupun ular. Dan ketika ditanya untuk apakah air dari Sumur Tujuh, sosok menyeramkan itu pun marah dan enggan untuk menjawabnya. Banyak yang mengatakan bahwa air dari Sumur Tujuh ini digunakan untuk mencari pesugihan berupa kekayaan harta, penglaris usaha, memudahkan mendapat jodoh maupun untuk memberikan keturunan. Tetapi semua itu tidaklah semudah mengambil air dari dalam Sumur, tetapi ada syarat yang harus dilakukan agar apa yang diinginkan terkabul [Fakta 17].

Cerita lain tentang sejarah sumur tujuh gunung karang banten adalah terbentuknya mata air sumur tujuh karena doa dari Nyi Putri Sari Wulan atau Nyi Putri Badriah yang merupakan putri Ki Ageng Karan yang bermunajat kepada Allah agar diberikan jodoh. Maka melalui mimpi nya Nyi Badriah disuruh bertapa selama 40 hari 40 malam di sebuah mata air yang terdapat di antara 2 pohon besar yaitu pohon angsana dan pohon lame di bawah kaki gunung karang. Setelah 40 hari 40 malam bertapa akhirnya Nyi Badriah bertemu seorang Pangeran dari Kesultanan Banten yang akhirnya menjadi jodohnya. Setelah apa yang menjadi keinginan nya yaitu mendapatkan jodoh terkabul maka Nyi Putri Badriah memiliki nazar untuk selalu merawat mata air sumur tujuh tempat dia bertapa tersebut sampai sekarang [Fakta 18.]

Selain kisah misteri tentang Sumur Tujuh di Gunung Karang yang cukup fenomenal, ada satu lagi bangunan tua di lereng Gunung Karang yang masih menjadi cerita misteri. Adalah sebuah bangunan masjid kuno tua yang berdiri di desa Pasirangin yang sudah disinggung sedikit di awal pembahasan mengenai sejarah desa pasirangin di lereng gunung karang tadi. Masyarakat mempercayai jika Gunung Karang tidak akan meletus, karena telah dijaga oleh para wali dan doa-doa dari para sesepuh gunung karang. Di Gunung Karang sendiri pun banyak berdiri pesantren salaf, banyak kiai yang bertempat tinggal di kaki Gunung Karang yang senantiasa berdoa untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT dan agar Gunung Karang tidak meletus. Yang cukup unik di puncak Gunung Karang, selain ada Sumur Tujuh, juga ada Masjid tertua di Banten yang kokoh berdiri di desa Pasirangin yang diberi nama “Baitul Arsy” [Fakta 19]. Bangunan masjid tua ini terlihat sederhana layaknya masjid pada umumnya, tetapi yang membuat heran yaitu bahan bangunan masjid ini bukanlah dari kayu jati yang kuat maupun tembok bata yang keras, melainkan dari bahan kayu nangka, yang bila dibandingkan dengan kayu jati maupun kayu kelapa mungkin tidak sekuat itu. Tetapi masjid berbentuk panggung ini masih kokoh berdiri dan kayunya pun masih awet hingga sekarang tanpa ada rayap atau semut yang menyentuh kayu tersebut [Fakta 20].

Masjid kuno tua Desa Pasirangin Gunung Karang Banten

Masjid kuno tua Desa Pasirangin Gunung Karang Banten

Masjid Baitul Arsy di Gunung Karang Pandeglang ini selain untuk beribadah sholat oleh warga sekitar, juga sering digunakan untuk bertirakat atau bermunajat bagi orang yang memiliki kepinginan. Mereka yang pernah melakukan sholat dan berdoa di dalam masjid ini akan merasakan hal yang berbeda, dimana perubahan pada dirinya akan langsung terasa, seperti cerita dahulu ada seorang yang mengidap penyakit parah dan sudah divonis akan meninggal, begitu melakukan tirakat di masjid tua ini orang tersebut sehat seperti tidak mengidap penyakit apapun. Dan bagi orang yang mendapatkan guna-guna atau santet, ketika sholat dan bertirakat di dalam masjid pun keesok harinya seperti sudah kembali normal. Bertirakat disini haruslah yang memiliki niat baik dari hati, bukan mengharapkan dari makhluk gaib yang penuh dengan goda. Cukup anda sholat kemudian melakukan wiridan, InsyaAlloh niat baik yang anda harapkan dapat terkabul. Namun sebelum anda sholat harus mengambil air dari mata air keramat sumur tujuh terlebih dahulu yang bertujuan untuk mensucikan diri terhadap segala najis kotoran yang menempel di badan [Fakta 21].

Selain tempat keramat sumur tujuh di gunung karang dan masjid tertua di banten masjid baitul arsy terdapat juga makam keramat di gunung karang yaitu makam Syekh Raqo di Simpeureum Pakuhaji pandeglang yang merupakan menantu dari Ki Ageng Karan atau Syekh Ageng Karang. Syekh Raqo adalah seorang ulama besar di Sumedang pada jaman dahulu sedangkan Syekh Ageng Karang merupakan tokoh pendiri pesantren tertua di Banten. Syekh Ageng Karan memiliki putri cantik yang bernama Nyi Khasilah yang akhirnya dijodohkan dengan Syekh Raqo. Dari pernikahan Syekh Raqo dengan Nyi Khasilah ini melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi wali dan ulama-ulama besar di Gunung Karang Banten. Syekh Raqo memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga konon Syekh Raqo adalah orang yang berhasil membantu pasukan Sultan Hasanuddin ketika mengalahkan Belanda [Fakta 22].

Terlepas dari kisah seputar sejarah sumur tujuh, masjid pasirangin dan makam Syekh Raqo di Gunung Karang ini sebenarnya gunung karang adalah salah satu kawasan wisata terkenal di Jawa Barat. Wisata gunung karang di pandeglang ini banyak membuat para pendaki gunung  tertantang untuk menaklukan gunung karang yang merupakan gunung berapi tertinggi di Banten dengan ketinggian 1778 mdpl. Pemandangan dari puncak gunung karang serta sunset di pagi hari adalah tujuan utama para pendaki gunung karang melakukan pendakian ke gunung karang pandeglang banten. Pada umumnya jalur pendakian Gunung Karang yang diketahui ada 2 jalur yaitu rute jalur pendakian pertama melewati Desa Kaduengang, sedangkan rute jalur pendakian gunung karang yang kedua melalui jalur Pagerwatu atau Ciekek. Namun apabila melihat pendakian dalam rangka wisata ziarah ke gunung karang, ada jalur pendakian lain yaitu melalui Jalur Curug Nangka atau Ciomas [Fakta 23].

Baca juga : “100 Arti Makna Tanda Lahir di Seluruh Tubuh

Berdasarkan dari semua kisah sejarah gunung karang, asal usul gunung karang, cerita misteri gunung karang dan mitos gunung karang serta fakta penelusuran misteri gunung karang maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa sesungguhnya jin ataupun makhluk halus pada kodratnya memang memiliki tugas untuk menggoda manusia dengan bujuk rayu dan kemudahan untuk mendapatkan kekayaan. Sebenarnya semuanya kembali ke kepercayaan diri masing-masing, karena dimanapun tempatnya, godaan dari jin dan makhluk halus lainnya agar mudah masuk ke dalam diri jika tidak dibentengi dengan iman yang kuat terhadap Allah SWT. Terima kasih semoga segala informasi yang anda temukan di blog Gudang Misteri ini dapat memberikan gambaran bagi anda mengenai kisah gunung karang, apabila ada kritik dan saran silahkan tinggalkan di kolom komentar. Jangan lupa nantikan artikel menarik selanjutnya…

23 Fakta, Mitos dan Misteri Gunung Karang Pandeglang Banten |