10 Macam Jenis Sesaji atau Sajen Menurut Adat Tradisi Jawa

Loading...

10 Macam Jenis Sesaji atau Sajen Menurut Adat Tradisi Jawa – Setiap ritual adat istiadat yang berhubungan dengan tradisi, ritual serta prosesi kejawen di dalam tradisi jawa pasti banyak menggunakan piranti atau uborampe serta hidangan persembahan atau makanan khusus yang orang jawa menyebutnya dengan sebutan sesajen, sajen, punjungan, dan sesaji. Menurut adat tradisi jawa memberikan sesajen kepada sesepuh, leluhur atau nenek moyang serta mahkluk ciptaan Allah termasuk alam seisinya sebagai wujud penghargaan atas rasa syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan segala macam kenikmatan di dunia. Sesajen bagi sebagian masyarakat yang bukan merupakan asli keturunan jawa kadang menganggap sesajen sebagai sesuatu yang musyrik dan bertentangan dengan agama islam, namun bagi orang jawa asli yang masih nguri-uri budaya atau ilmu kejawen sebenarnya memberikan sesaji atau sesajen hal ini dikarenakan sebagai bentuk tata krama sopan santun kepada pihak lain yang lebih tua atau pendahulu termasuk kepada alam, mahluk halus, sesepuh, tumbuhan dan hewan.

10 Macam Jenis Sesaji atau Sajen Menurut Adat Tradisi Jawa

10 Macam Jenis Sesaji atau Sajen Menurut Adat Tradisi Jawa

Ilmu kejawen sebenarnya tidak melenceng dari agama islam yang harus saling menyayangi dan menghormati kepada sesama ciptaan Allah yang Maha Besar. Tradisi adat budaya Jawa masih mengenal apa yang disebut sebagai sesajen atau sesaji, dan sampai sekarang mayoritas orang jawa asli masih meneruskan tradisi asli jawa peninggalan para leluhur. Walaupun di jaman modern seperti sekarang ini tradisi sesajen oleh sebagian masyarakat modern dianggap sebagai hal yang berbau klenik, mistis, irasional, dan musyrik namun masih banyak kyai-kyai yang meneruskan tradisi jawa peninggalan walisongo ini sebagai sedekah atau sodaqoh sehingga tidak apa-apa tergantung dari niatnya. Tak jarang hanya sedikit orang yang melihatnya sebagai bentuk lain dari doa. Dengan kata lain, sesaji adalah wujud dari sistem religi masyarakat Jawa. atau keluhuran budi pekerti dari orang jawa dalam menghormati juga menjalin tali silaturahmi kepada Allah, para sesepuh, leluhur, nenek moyang ,alam, makhluk lain dan sesamanya sehingga terjalin kerukunan. Berikut di bawah ini beberapa contoh macam sesaji atau sesajen menurut tradisi jawa yang wajib kamu ketahui agar kamu tidak melupakan kearifan budaya jawa peninggalan leluhur.

 

10 Macam Jenis Sesaji atau Sajen Menurut Adat Tradisi Jawa

Jenis sesajen atau sesaji dalam tradisi adat Jawa dibagi menjadi 3 yaitu sesajen kelahiran, sesajen kematian dan sesaje alam. Ragam sesaji tersebut mewakili 3 siklus perjalanan hidup manusia yaitu : METU – MANTEN – MATI (kelahiran – pernikahan – kematian). Berdasarkan ketiga siklus perjalanan manusia di dunia tersebut menurut adat jawa kesemuanya memiliki makna sebagai simbol doa dan harapan.

  1. Sajen Brokohan

Sesajen brokohan diwujudkan dalam bentuk sesaji berupa kelapa tidak utuh, gula jawa tidak utuh, cendol atau dawet dalam periuk kecil, dan telur bebek mentah. Di samping itu, juga terdapat sesaji yang berupa sepasang ayam dewasa yang diletakkan dalam kurungan kranji. Makna sesaji brokohan merupakan manifestasi dari siklus manusia ketika masih di dalam rahim Sang Ilahi. Sebelum terbentuk, embrio berasal dari pertemuan benih laki-laki yang berupa sperma (dalam bahasa Jawa kuno disebut sukra) dengan benih perempuan yang berupa sel telur (atau swanita). Kelapa tidak utuh merupakan simbol sel sperma, sedangkan gula jawa adalah simbol sel telur. Ketika keduanya bertemu muncullah bibit kehidupan atau embrio, yang disimbolkan dengan cendol atau dawet dalam periuk kecil. Menurut orang Jawa, roh dari embrio-embrio ini masih berada di alam awang-uwung atau langit biru, disimbolkan dengan telur bebek yang kulitnya berwarna biru langit. Siklus manusia yang masih berada di dalam rahim Sang Ilahi belum bebas adanya, disimbolkan oleh sepasang ayam dewasa dalam kurungan kranji.

 

  1. Sajen Pisang Sanggan

Sesaji pisang sanggan diwujudkan dalam bentuk pisang raja setangkep (dua sisir) yang buahnya berjumlah genap pada masing-masing sisirnya. Di atasnya terdapat kembang telon (kanthil, melati, kenanga), seikat benang lawe, dan ubarampe kinang atau ganten (daun sirih, enjet/kapur, gambir, susur/tembakau, buah jambe, dan daun sogok telik), masing-masing diletakkan dalam sebuah takir dan ditambah dengan boreh. Makna sajen pisang sanggan dan kembang telon adalah ketika sudah mencapai bulan kelahiran, maka jabang bayi akan lahir ke dunia. Ceritanya, saat Batara Guru telah mendapatkan air amerta (air kehidupan) dari hasil mengaduk-aduk laut, maka yang digambarkan adalah wujud dunia ini, yang kemudian disimbolkan dengan pisang raja.

Orang Jawa kuno sudah beranggapan bahwa, bumi ini bulat tanpa ujung pangkalnya. Sedangkan sesaji kembang telon, melati, kanthil, dan kenanga merupakan perwujudan dari ketiga dunia ini. Paham Jawa Kuno mengenal adanya tiga dunia, yaitu dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Sesaji dalam wujud ubarampe kinang dan boreh bermakna bahwa bayi yang lahir pasti disambut dengan suasana suka cita seperti makan kinang akan merasakan manis. Begitulah gambaran manusia hidup di bumi dalam mencari hidup selalu ada pergulatan dan kesulitan, untuk meraih suatu kebahagiaan dari tujuan hidup.

 

  1. Sajen Tumpeng Gundhul

Sesaji tumpeng gundhul diwujudkan dalam bentuk tumpeng tanpa dihiasi dengan uborampe apa pun. Wujudnya putih polos, dengan dikelilingi tujuh variasi jenang dalam tujuh wadah takir, misalnya jenang putih, jenang abang, jenang putih palang jenang abang, jenang putih sedikit jenang abang, jenang boro-boro (jenang putih diberi parutan kelapa dan irisan gula jawa) dan separo jenang abang dan putih. Semuanya ditempatkan dalam ‘nyiru’ tampah. Sajen ini sebagai simbol dari bayi yang lahir ke dunia masih dalam keadaan polos, bersih, dan suci lahir batin. Ia lahir ke dunia belum mempunyai apa-apa dan belum ada apa-apanya. Yang ia miliki hanyalah jiwa raga yang melekat pada dirinya. Ketujuh jenang mempunyai makna bahwa saat kelahiran bayi, ia akan selalu disertai oleh tujuh saudara dalam kehidupannya. Ketujuh saudaranya (dalam tradisi Jawa kuno) itu berasal dari darah nifas, air kawah, kotoran, ari-ari, dan lain-lain.

 

  1. Sajen Sega Punar

Sesaji sego punar diwujudkan dalam bentuk nasi kuning yang dilengkapi dengan lauk pauk, seperti abon, kedelai hitam, bawang merah goreng, ayam goreng, irisan telur dadar, sambal goreng, mentimun, dan daun kemangi. Semuanya diletakkan dalam tampah ‘nyiru’. Sajen ini adalah gambaran bersatunya dua hati perempuan dan laki-laki dalam ikatan perkawinan. Keduanya diharapkan dapat seiring sejalan dan harmonis dalam membangun rumah tangga dan saat terjun di dalam masyarakat. Rasa egois harus ditinggalkan jauh-jauh, mereka harus dapat menerima apa adanya, menerima kekurangan masing-masing dan berusaha melengkapinya, sehingga menjadi satu kelebihan. Sajen sega punar ini dalam setiap upacara panggih manten Jawa selalu disertakan dalam acara dhahar walimah, yang menggambarkan bersatunya dua hati menjadi satu ikatan batin yang utuh.

 

  1. Sajen Sega Kebuli

Sesaji sego kebuli diwujudkan dalam bentuk nasi putih dengan lauk pauk seperti telur ceplok, abon, ayam goreng, sambel goreng, krupuk udang, mentimun, dan daun kemangi. Semuanya ditempatkan dalam sebuah tampah ‘nyiru’. Konon, nasi kebuli berasal dari budaya Timur Tengah. Makna sajen ini adalah menggambarkan perjalanan hidup suami istri yang diharapkan selalu dalam keadaan selamat, mendapat berkah dari Tuhan, dan segala permohonan dan harapannya terkabulkan oleh Tuhan. Setelah pernikahan terjadi, keduanya pasti selalu memohon kepada Tuhan, agar di dalam melaksanakan kehidupan mendapat rahmat, terhindar dari segala mara bahaya dan mudah mendapat rezeki.

 

  1. Sajen Sega Golong

Sesaji sego golong diwujudkan dalam bentuk sesajian yang berupa dua buah nasi golong, yang masing-masing diselimuti atau dibalut dengan telur dadar, pecel panggang ayam, daun kemangi, dilengkapi dengan jangan menir (sayur menir) dan jangan padhamara. Khusus jangan menir dan jangan padhamara, masing-masing ditempatkan terlebih dahulu dalam cuwo/cowek (cobek) yang terbuat dari gerabah. Baru kemudian semua sajen ditempatkan dalam sebuah tampah ‘nyiru’. Makna sajen ini adalah menggambarkan kedua insan yang mempunyai niat saling membantu dalam membangun mahligai rumah tangga. Begitu pula dalam kebutuhan lahir batin, mereka saling mengisi, saling memberi dan menerima. Istilah golong lulut dalam bahasa Jawa Kuno mengacu pada hubungan suami istri atau intercourse. Oleh karena itu, sega golong yang diselimuti oleh telur dadar sebagai simbol hubungan suami istri tersebut.

 

  1. Sajen Kolak Ketan

Sesaji kolak ketan diwujudkan dalam bentuk sesajian yang berupa tujuh buah apem, ketan, dan kolak (pisang dan ketela). Semuanya ditempatkan di dalam tampah ‘nyiru’ yang telah diberi alas daun pisang. Makna sajen ketan kolak ini menggambarkan seseorang yang telah meninggal dunia dan siap kembali menyatu dengan Sang Ilahi. Agar dapat tercapai dengan selamat dan sempurna di sisi-Nya, dan arwahnya tidak nglambrang atau pergi tak tentu arah, maka disimbolkan dengan sajen ketan kolak apem. Sajen ini juga sering dijumpai pada saat tradisi ruwahan, yang intinya memohon kepada Tuhan agar arwah orang yang diselamati dapat kembali kepada Sang Ilahi dan tidak nglambrang atau gentayangan.

 

  1. Sajen Kendhi

Sesaji kendhi diwujudkan dalam bentuk sesajian berupa kendi ditutup dengan daun dhadhap serep. Air tempuran adalah pertemuan dua arus sungai. Makna sajen ini adalah menggambarkan sudah pulangnya kembali arwah yang sudah meninggal di sisi Sang Ilahi, seperti sebelum dilahirkan. Dengan demikian, diharapkan arwah tersebut dapat kembali menuju ke alam kelanggengan, atau dunia yang kekal abadi.

 

  1. Sedekah Bumi

Sedekah bumi atau kabumi pada mulanya merupakan salah kegiatan upacara tradisional yang banyak dilakukan oleh masyarakat agraris di desa-desa. Sebagai perwujudan rasa syukur mereka kepada sang Pencipta atas hasil pertanian melimpah. Upacara tradisional ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, pada bulan apit  (Dzul Qaidah) bertepatan pada hari ahad kliwon. Nilai-nilai budaya dan kearifan tradisional ini terbukti merupakan benteng yang mampu menjaga prilaku manusia untuk hidup selaras dan dengan alam dan lingkungannya. Pada sisi lain dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus informasi ang mengglobal telah menyebabkan kegamangan dan kegagapan sosial. Tujuan tradisi Sedekah Bumi adalah memberikan persembahan dan penghormatan yang berupa sesaji hasil bumi yang ditunjukkan kepada sang maha pencipta yang telah menjaga bumi pertiwi yang ditempati dalam keadaan aman, tenteram, sejahtera dan jauh dari segala macam persoalan-persoalan dan masalah. Serta diadakan karena ingin mengucapkan rasa syukur atas rizki yang telah diberikan.

Berikut uborampe atau Peralatan yang wajib ada pada saat upacara sedekah bumi antara lain :

  1. Ikan hidup (ikan lele, munjair, emas dll)

Ikan tersebut yang wajib membawa ialah kepala desa, ikan tersebut akan dilepas di sendang. Ikan dianggap mampu memberikan banyak manfaat dan berkah bagi warga Pakis.

  1. Daging ayam yang di ingkung

Daging ayam juga wajib dibawa oleh kepala desa, daging ayam akan di makan bersa-sama dengan warga saat acara selamatan di sendang. Makan bersama merupakan rasa syukur warga Pakis atas hasil panen selama setahun.

  1. Nasi putih dalam baskom

Bagi semua warga yang ada dalam acara tersebut wajib membawa nasi untuk selamatan. Nasi putih merupakan makanan pokok warga pakis dan juga salah satu panen yang paling melimpah ialah padi.

  1. Sate daging (sapi, kerbau)

Sate merupakan hal yang diutamakan oleh warga karena dianggap memberikan berkah.

  1. Takir (berisi nasi, rempeyek, tumisan, dll)

Takir akan ditinggal di sendang, konon katanya untuk makanan orang yang menunggu sendang tersebut.

  1. Tikar

Tikar dari pohon padan yang wajib dibawa oleh kepala desa. Tikar digunakan untuk tempat sesaji yang telah dibawa kepala desa.

  1. Warga harus meneteskan darah hewan dalam tanah

Hal tesebut ditujukan kepada bumi yang telah mati. Jadi setiap warga wajib meneteskan darah hewan baik itu ikan, ayam, dan darah hewan lainnya yang bisa dimakan manusia.

 

Perlengkapan piranti tambahan atau uborampe yang tidak kalah pentingnya untuk dibawa saat acara berlangsung ialah:

  1. Jajan pasar

Jajan pasar sudah menjadi makanan pelengkap acara sedekah bumi, dan jajan pasarlah yang menjadi makanan enak ketika acara sedekah bumi, karena jarang sekali jajanan pasar ada setiap hari.

  1. Nasi ketan

Banyak orang-orang yang menjadikan nasi ketan sebagai makanan tambahan, setelah nasi putih.

  1. Makanan tradisional

Makanan yang dinanti-nanti ketika selamatan, biasanya isinya ada bugis, nagasari, lemper dll.

  1. Polo pendem dan polo kesimpar

Makanan yang berasal dari umbi-umbian seperti singkong telo, pohon atau rambat,dan makanan yang ada tumbuh diatas tanah seperti kacang panjang kedelai dll.

 

  1. Sedekah laut

Tradisi sedekah laut adalah membuang/ melarung/ menghayutkan sesaji ke laut dengan maksud memberikan makanan/ berbagi berkah dari hasil masyarakat kepada yang mbaurekso atau penguasa laut. Upacara Sedekah Laut merupakan upacara tradisional masyarakat nelayan/ masyarakat pesisir sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kemudahan dan rejeki dari hasil laut yang telah diberikan selama satu, biasanya dilaksanakan pada setiap tahun Bulan Syuro/Muharam pada hari Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon.

Piranti atau uborampe yang ada dalam sedekah laut antara lain :

  1. Perahu tempel, yang nantinya dipakai untuk membawa sesaji yang akan dilabuh ke ketengah laut
  2. Ancak, dari belahan bambu yang dianyam dengan bentuk segi empat untuk tempat sesaji
  3. Jodhang, terbuat dari kayu yang dibuat empat persegi panjang untuk mengangkut sesaji yang akan dibawa ke pesisir laut
  4. Tampah/tambir, bentuknya bulat dari anyaman bambu untuk tempat sesaji
  5. Pengaron, terbuat dari tanah liat untuk tempat nasi
  6. Takir, terbuat dari daun pisang yang dibentuk lalu pada kedua ujungnya diberi janur atau daun nyiur muda untuk tempat jenang sesaji
  7. Ceketong, terbuat daun pisang untuk sendok.

 

Sesajinya ada macam-macam sesaji atau sesajen yang khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul penguasa pantai selatan atau pantai parangkusumo yang nantinya dilabuh, yaitu:

Larung sedekah laut kanjeng ratu kidul di pantai parangkusumo

Larung sedekah laut kanjeng ratu kidul di pantai parangkusumo

  1. Bunga Telon, terdiri dari mawar, melati, kantil, kenanga dan sebagainya
  2. Alat-alat kecantikan khusus wanita meliputi bedhak, sisir, minyak wangi, pensil alis, dan sebagainya
  3. Pakaian sak pengadek atau lengkap wanita, ada baju, celana, BH, kebaya yang semuanya harus baru,
  4. Jenang-jenangan, yang berwarna merah, putih, hitam, palang katul, dan sebagainya,
  5. Jajan pasar, yaitu makanan kecil-kecilan seperti kacang, lempeng, slondok, dan sebagainya yang dibeli di pasar
  6. Nasi udhuk atau nasi gurih, beras yang dimasak bersama santan, garam, dan sebagainya,
  7. Ayam ingkung, ayam jantan yang dimasak utuh dengan kedua kaki dan sayap diikat,
  8. Pisang sanggan, dari pisang raja yang berjumlah genap,
  9. Pisang raja pulut, sesisir pisang raja dan sesisir pulut,
  10. Lauk pauk, terdiri dari rempeyek, krupuk, kedelai, tanto dan sebagainya,
  11. Lalapan, terdiri dari kol, buncis yang dirajang halus.

(sumber : wongjowointheblog_blogspot_com)

Baca juga : “ 43 Macam Adat Tradisi Budaya Jawa yang Harus Kamu Ketahui

Nah begitu banyak macam jenis sesajen menurut adat jawa dan ilmu kejawen diatas, semoga ulasan lengkap pada kesempatan kali ini yang telah berhasil dirangkum dari berbagai sumber dapat menambah wawasan anda mengenai adat tradisi budaya jawa sehingga tradisi jawa di jaman modern ini tetap dilestarikan untuk anak cucu kelak dan tradisi jawa tidak punah tergerus oleh jaman. Cukup sekian ulasan pada kesempatan kali ini terima kasih sudah mampr di blog Gudang Misteri jangan lupa tetap ikuti update artikel terbaru gudang misteri semoga dapat menambah pengetahuan anda, jangan lupa share ke teman anda agar lebih bermanfaat..terima kasih

10 Macam Jenis Sesaji atau Sajen Menurut Adat Tradisi Jawa |